Nov 10, 2013 1 komentar

a letter for my pa,,

Debu ini kubersihkan dari wajahmu,,
Dari atas kepalamu,,
Dari tubuhmu,,
Dan dari pinggiran-pinggiran bingkai foto lama yang memajang senyummu,,
Aneh rasanya, ternyata lubang hitam ini masih belum menutup,,
Masih menganga, memancarkan sinar kenangan yang membuat titik titik air terjatuh dipipiku,,

Ternyata, gadis kecilmu ini masih belum dewasa,,
Bagaimanapun, dihadapanmu, entah kenapa, aku selalu merasa tidak ingin bersikap dewasa,,
Aku ingin selalu menjadi gadis kecil yang bermanja dipangkuanmu,,
gadis kecil yang bergelantung manja ketika gurau canda membuahkan senyum hangatmu,,
Si anak nakal yang selalu ingin ini itu, minta dibelikan ini itu dan mengharapkan coklat untuk ku nikmati selepas kau pulang kerja,,

ya,, kenangan itu berbuah tetes-tetes air yang jatuh dimataku,, 
tetesan air mata kecil yang dilatari oleh senyum haru,, 

Haru akan terima kasih terbesar kepada Tuhan yang Maha Esa akan kehadiranmu dihidupku,,
Haru karena Tuhan menyandingkanku denganmu sebagai ayah dan putrinya,,
Haru dengan betapa dermawannya papa yang mau menganggapku sebagai putrinya,,
dan haru akan sebuah suara dari bibirku memanggil kata papa,,

Separuh nikmat hidup,, sudah kurasakan ketika aku menjadi putrimu,,
yang kini,kurasakan lagi kerinduan itu,,
Kerinduan yang membuat kuat hatiku bertambah,,
Kerinduan yang membuat aku tidak menjadi seonggok daging yang memiliki nama,,
kerinduan yang meninggalkan jejak bijaksana dalam hidupku,,

Potret ini,, bukan satu-satunya yang kumiliki,,

Ribuan potretmu,ada disini,, dihati,,
Hati ku dan hati mama,,
tidak hilang,,
tidak menyemu,,
tidak mengabur,,
malah semakin benderang akan waktu yang justru mengukirnya,,

Dunia memang sudah ada untukku, tapi tanpa kehadiranmu didalamnya,,
ini semua hanya sebuah film kartun yang cukup menghibur, namun tidak ada pelajaran hidup didalamnya,,

we miss u pa,,

-sampai kapanpun semua manusia akan selalu menjadi anak kecil dihadapan orang tuanya-
'what winda's think'




0 komentar

Media Sosial dan cara sisi lain melihat,,

"Semua orang punya pemikiran masing-masing,,
bagaimana dia berfikir,,
bagaimana dia membuat keputusan,,
dan bagaimana dia mencari kenyamanan,,
itu ada di sebuah kotak bernama karakter,,
karena setiap orang, berbeda,,"

Beberapa waktu belakangan ini, saya mencoba menjadi orang yang menyebalkan menurut versi saya. Bukan untuk saya mengintimidasi atau merendahkan, tapi karena saya ingin melihat sisi pandang yang lain dari biasanya yang saya lihat. 

Suatu waktu saya merasa terganggu dengan beberapa yang rutin setiap waktu mengganti-ganti status dimedia sosial. Beberapa ada yang membuat saya menjadi salah paham dan berfikiran negatif, apakah 'status-status' itu ditujukan untuk saya atau bukan. Berbagai macam racun pemikiran mulai hinggap dikepala saya. Dan keluarlah sifat sarkastic saya dan 'SOK PALING TAHU' dari dalam diri saya. Saya mulai lupa diri dan merasa berhak menjadi juri dalam hidup mereka yang sebentar-sebentar ganti status media sosial. Saya bahkan lupa diri, kalau dulunya, saya juga seperti mereka, yang sering kali ganti-ganti status. Membuat sebal, memang. Tapi proses dari buruk ke baik itu selalu ada.

Untuk sebagian orang, sikap ganti-ganti status di media sosial itu adalah hal wajar. Tapi tidak untuk sebagian lain. Sebagian ada yang menganggapnya kurang kerjaan lah, atau malah disebut sebuah penyakit kejiwaan. Kalau menurut saya sendiri, itu adalah karakter. 

Belakangan ini, entah kenapa, saya mencoba untuk kembali kemasa dimana saya menjadi orang yang suka gonta ganti status. Sebentar-sebentar recent update. Mengupdate hal-hal tidak penting sampai yang memancing emosi orang lain. Eksperimen brutal buat saya. Eksperimen yang aneh, memang. Terus kenapa? Toh saya melakukan ini bukan untuk merugikan orang lain, saya melakukan ini hanya untuk mencari sudut pandang berbeda dari yang biasa saya lihat. 

Terbukti, dari saya melakukan hal tersebut. Banyak beberapa dari mereka yang mulai menunjukkan reaksi. Ada yang balas dengan sindiran-sindiran. Ada yang menjadikannya sebagai bahan tertawaan dan celaan, bahkan ada yang bersikap sama seperti saya jika saya ada disudut pandang saya sebelumnya. Semuanya bermacam-macam. 

Dari hal ini, saya mengambil kesimpulan. Kenapa juga kita ikut larut akan suasana hati orang lain? Biasanya yang seringkali kita update dalam status media sosial itu adalah suasana hati, ya kan? Nah,, dia punya suasana hati, dan kita juga punya sendiri suasana hati kita yang saat itu sedang kita alami. Buat apa coba kita malah ikut larut dalam suasana hati orang lain hanya karena kita membaca statusnya di media sosial? Baca ya baca aja kan? Yang penting jangan ikutan.

Semua itu kembali kepada dua pilihan. berfikir baik atau buruk. Itu menjadi pembelajaran saya sekarang-sekarang ini. Saya sama seperti kebanyakan, manusia yang selalu mengulang kesalahan yang sama. Manusia yang punya sifat 'devil bertanduk' dalam diri saya. Tapi bukankah kita punya pilhan? Mau mikir yang jelek atau yang bagus? Mikir jelek ujung-ujungnya saya jadi manusia menyebalkan yang sok tau dan bergaya seperti tau segalanya dan merasa berhak menilai keburukan orang lain tanpa saya berkaca akan keburukan saya sendiri. Atau saya bisa berfikir baik, dan membuat saya lebih bisa menikmati hidup saya? Itu pilihan ada di benak kita masing-masing. 

Terkadang saya bahkan melihat 'pencitraan' diantara itu semua. Ada beberapa yang seperti malaikat dan menganggap yang lain tidak ada yang sesempurna dia. Bagi saya,, Citra itu ada dalam kebiasaan kita bersikap dan menentukan keputusan. Kembali lagi ke keputusan baik atau buruk. Bukan sekedar kata-kata yang seperti saya sedang tulis saat ini. Semua itu kembali ke bagaimana kita menentukan keputusan. Berfikir baik atau tidak baik. Mau menjadi yang bermanfaat atau yang jahat? 

Bukan maksud saya mengajarkan atau menjadi paling benar dengan menulis dan curhat seperti ini. Tapi ini adalah apa yang ada dipandangan saya,, dan pastinya, tidak semuanya harus dibenarkan. Tanpa maksud menyindir siapapun, saya menulis ini hanya untuk menjadi pengingat saya jika saya suatu saat mengulang kesalahan yang sama lagi. Kesalahan dimana saya merasa berhak menjadi juri keseharian orang lain tanpa terlebih dulu saya berkaca akan kekurangan saya sendiri. Toh ini semua tentang proses. Segala hal kan butuh proses. Apapun itu, proses selalu menjadi bagian didalamnya. 

Jadi, sekarang pembelajaran penting menampakkan diri didepan saya. Mengatur ulang pola pikir dalam kepala saya, menjadi hal-hal yang baik. Bukan sekedar menuding, menyindir, dan ikut campur dalam hidup orang lain yang bahkan kita tidak tau masa lalunya yang membuatnya seperti itu. 

Kamu bisa lihat bumi dan langit kan?
Dua hal yang sangat berbeda karakter,, 
Namun masing-masing saling memenuhi kebutuhan manusia yang ada ditengah-tengah mereka. Menjadi bermanfaat satu sama lain. Keharmonisan yang seharusnya kita tiru.


"Setiap masing-masing pemikiran kita, cuma punya dua pilihan,,
berfikir yang buruk,,
atau 
berfikir yang baik-baik,,?"

sumber gambar : richocet.com




Oct 15, 2013 0 komentar

Move On

Semua yang ada didunia ini mengalami pergerakan. Langit diatas sana yang berwarna biru juga bergerak. Pelan perlahan ditiup oleh angin-angin lembut yang menyegarkan. Dedaunan juga berayun kesana kemari, menghidangkan tarian alam yang memikat mataku. Bahkan si menyebalkan yang bernama debu, juga bergerak membentuk putaran, mengaburkan pandanganku ke arah jalan. Tapi, sepertinya hanya aku yang diam ditempat. Betul betul diam ditempat. Setelah semua gerakan yang kamu semukan dihadapanku.

Hari itu ketika aku mengikuti duniamu, aku sepertinya bergerak ke arah sebuah harapan baru yang bisa membuat gejolak amarahku menenang. Aku merasa bergerak, berpindah tempat dari yang gelap menuju terang yang ternyata hanya pantulan cermin. Aku merasa bergerak dari masa lalu yang tidak ingin kuingat menjadi sebuah ingatan pembelajaran yang sangat manis ku kenang. Aku bisa menjadi dewasa karena itu semua.

Tapi nyatanya,, semua pergerakan itu hanya berasal dari batu baterai yang punya batas waktu kadaluarsa. Bukan berasal dari bahan bakar cintamu yang kukira murni dan penuh ketulusan. Yang kukira dengan kebersamaan kita, akan sama-sama mengisi dan menyediakan pengertian. Aku perlahan mulai mengerti itu semua.

Seketika aku mengambil kesimpulan. Pergerakanku seharusnya bukan berasal darimu atau orang lain,, melainkan dari ketekatan hati ini. Kesalahanku adalah, bukan karena aku mengenalmu,melainkan karena aku mengandalkanmu untuk membawaku bergerak dari titik ketika aku kehabisan daya semangat karena dikecewakan. Kesalahanku, harusnya aku bisa melakukan ini sendiri. Bangkit tegak dan menghadapi semua tanpa mengandalkan siapa-siapa. Aku tau semua kesulitan akan berujung ketakutan. Ketakutan terbesar yang bersemayam menghadapi kenyataan yang sudah pasti akan dilalui waktu. Dunia sudah mengalami itu semua. Harusnya aku bisa mengambil pelajaran dari itu semua. 

Setidaknya aku mengerti, bahwa bergerak tidak selalu disebabkan oleh angin. Masih banyak dari dalam diri kita yang bisa kita gali untuk melakukan pergerakan itu sendiri. Move on, banyak yang bilang susah, tapi bukan berarti ga bisa. Waktu yang pastinya akan selalu ada dipergerakan itu yang mendampingi kita untuk mengambil langkah-langkah yang bahkan terkadang diluar nalar kita sendiri. Semua itu ada disini, hati, tekad, dan kemauan. 

-winda-
Sumber gambar : Favim.com


Jul 29, 2013 2 komentar

For our Ma,,, -with hug-



Aku ingin membawamu dengan nyanyian mendayu dan syahdu,,
Dengan hamparan alat musik penuh dengan ketukan nada nan menyentuh,,
Tak terkatakan akan ribuan simphoni cinta yang kan ku lantunkan langsung melalui hatiku,,
Aku milikmu ma,,
 
Ma,,
Seindah apapun hamparan cita-citaku,,
Seindah apapun hamparan angan-anganku,,
Seindah apapun hamparan pencapaian hidupku,,
tak akan ku rengkuh satupun jika harus menyia-nyiakan doa mu,,
 
Ma,,
Duniaku adalah pandangan harapanmu,,
Kan kujaga dengan mambawamu didalamnya,,
Membawamu dalam kemajuan dunia yang semakin lupa apa arti jasa,,
Dan membuatmu tenang akan pembuktianku akan ketidak berpengaruhnya itu semua bagiku,,
 
Ma,,
Tenanglah didalamnya,,
tetaplah memelukku dalam keheningan perkataan,,
memelukku dalam tulisan tanpa tinta pernyataan,,
 
Aku tau,,
dalam setiap sujudmu,,
terbisik namaku dibenakmu,,
dalam lelapmu,,
ada aku dalam kesiagaanmu,,
 
Tanpa Papa disisimu,,
Ma mengagumkan,,
Ma menakjubkan,,
Ma seperti langit,,
 
Ma,,
cintaku tidak sebatas hari ibu,,
cintaku tidak sebatas hari ini,,
cintaku sebatas Allah yang menentukan,,
Aku mencintaimu melebihi nyawaku,,
 
 
''Mom,, i know we r always in fight,, 
but,,
i love you
n thats not enough to pay every kindness what u allready did to me in the past,,
i love u i love i love love u,,
i love u,,
is that enough?
no,,"
 
-winda-
 
sumber gambar : noiamar.com

 
 
0 komentar

SEA - to find out! --- 3




Ganggang laut yang meliuk-meliuk memanjakan mataku dengan segala warna-warninya. Belum lagi ikan-ikan kecil yang merona wajahku dengan tatapan persahabatan mereka. Syukurlah mereka tidak takut padaku. Mungkin karena mereka yakin karang-karang dan lumut-lumut indah itu akan selalu setia sebagai tempat perlindungan jika tiba-tiba saja aku melakukan perbuatan buruk. Aku melihat biasan-biasan cahaya yang indah merasuk ke kedalaman laut ini. Cahaya yang satu ini tidak sepanas didaratan, justru ia menghidangkan pemandangan yang menakjubkan jika bergabung dengan ganggang-ganggang dan ikan-ikan beraneka rupa bentuknya. Menyenangkan sekali mata ini memandangnya.

Aku terus merangsek ke kedalaman lautan, mengikuti pola air,memasuki lingkaran-lingkaran indah yang terbentuk tanpa sengaja oleh karang-karang mati namun ternyata hidup. Bercengkrama sejenak dengan sesepuh lautan, sang penyu tua yang tanpa lelah bertualang. Bermain pasir didasar laut dan mencoba berbagai gaya renang yang kuinginkan dan kuciptakan sesuka hati. Menerobos gerombolan ikan laut yang menakjubkan. Aku bahkan tidak bisa membedakan, saat ini aku sedang berenang? Atau terbang? Karena dua hal tersebut bisa kulakukan secara bersamaan saat ini. Dadaku tidak lagi sesak, hanya saja bayangan-bayangan yang sangat mengganggu itu sesekali terbersit di kepalaku. Aku masih mencoba menerka-nerka apa yang ada dibayangan itu, yang aku ingat hanya beberapa yang mirip denganku. Kulit bercahaya bila terkena sinar mentari, dan dapat hidup dalam dua dunia. Dunia bawah air dan atas air, tetapi pakaian yang mereka kenakan jauh lebih menakjubkan dari pada baju sederhana yang kukenakan saat ini. Mereka memiliki tatapan mata yang tajam namun teduh, ada salah satu dari mereka  tampak menyeramkan, tapi aku tidak terlalu ingat bagaimana tepatnya.

Aku masih menyusuri lautan dalam ini, mencoba mencari jalan keluar yang mungkin saja menjadi jawaban pula akan keanehan diriku. Melalui bisikan-bisikan halus sewaktu aku memutuskan terjun dari atas tebing, aku merasa suara halus tersebut justru membimbingku. Menuntunku entah kemana, namun hatiku meyakini sesuatu, aku harus mengikuti bisikan halus itu. Itu dia,, mataku menangkap lingkaran karang yang dipenuhi oleh ganggang-ganggang tanaman laut yang menyorong kesebuah lingkaran kelam. Sangat sunyi disana, aku ragu-ragu mendekatinya. Aku maju untuk melihat isinya namun sia-sia, aku tidak melihat apapun disana. Aku balik mundur kebelakang, entah karena kelelahan, keberanianku menciut. Mungkin sebaiknya aku harus istirahat memulihkan tenagaku setelah perjalanan jauh ini. Aku sampai lupa waktu, sepertinya tadi masih siang hari dan matahari masih bersinar terang datas sana,dan baru kusadari aku benar- benar kelelahan. Sebaiknya baru esok hari aku mencari cara agar dapat memasuki lubang itu. Aku melesat berenang ke permukaan, sambil melihat sekeliling menghafal tempat lubang kelam itu berada. Setelah yakin aku mengingatnya, tanpa ragu aku mencuat kepermukaan.

Nafasku terengah-engah setelah menghirup udara permukaan. Membiasakan kembali bernafas dengan udara atas air. Aku mencari-cari daratan yang bisa kusinggahi untukku beristirahat malam ini. Sebenarnya bisa saja aku tidur di dalam air, namun arus dalam air tidak bisa diperkirakan. Diatas permukan mungkin terlihat tenang, namun dibawahnya, arus air meliuk-liuk seperti angin badai yang tidak bisa kita perkirakan datangnya. Dan dengan kondisiku yang masih belum mahir untuk keadaan seperti itu, aku memutuskan untuk mencari daratan. Diujung pandanganku sebelah kiri, aku melihat titik hitam kecil. Aku memicingkan mata memastikan apakah itu sebuah pulau atau perahu. Titik hitam itu diam ditempat tidak bertambah kecil ataupun bertambah besar. Aku yakin itu pulau. Letaknya kira-kira hanya sekitar dua kilometer dari tempatku mengapung saat ini. Aku berenang mendekati pulau itu.

Sambil terus memperhatikan, aku mendekati pulau itu. Ya, benar itu sebuah pulau kecil dan landai. Aku mengitarinya memeriksa apakah berpenghuni atau tidak. Aku berenang kearah barat pulau tersebut, mengitarinya dan mengawasinya dari jauh. Dengan teliti kuperhatikan bentuk-bentuk yang ada diatas pulau tersebut. Tidak ada bentuk manusia disana. Tidak ada perahu yang ditambatkan, itu artinya pulau ini kosong. Aku masih mengitarinya sekedar untuk lebih memastikan tidak ada makhluk hidup diatasnya, tetap kosong. Hanya batu besar hitam dilandainya pasir yang membentuk seperti sebuah kubus yang ringsek disana-sini. Aku memilih mendekati batu itu. Masih dalam keadaan waspada. Jika ternyata ada kehidupan dipulau ini, batu besar ini bisa kujadikan sebagai tempat persembunyian. Pepohonan dipulau itu bergoyang tertiup angin laut mengawasi gerak-gerikku.

Dengan penuh kewaspadaan tingkat tinggi, kakiku mulai merasakan bisa menjejakkan langkah dipasir. Itu artinya aku sudah dipulau. Namun air laut masih menutupi tubuhku sebatas leher. Perlahan aku melangkah, mengendap-ngendap. Sungguh, aku sedang didera kelelahan yang luar biasa. Dengan kelelahan ini aku benar-benar tidak siap jika harus bertemu siapapun itu. Aku menyentuh batu kubus itu memastikan itu benar batu dan bukan makhluk hidup. Memperhatikan detail-detail bentuknya. Batu ini seperti dilemparkan kesini dari langit dan langsung menancap kokoh ke pantai berpasir hangat ini. Aku lalu mengintip dari baliknya, melihat jauh kedalam pulau. Tidak ada cahaya penerangan atau apapun. Sekarang aku bisa bernafas lega. Aku sudah yakin pulau ini tidak berpenghuni.

Begitu aku sudah yakin aku akan aman. Aku mulai mencari ranting dan dedaunan untuk alasku beristirahat. Aku memasuki hutannya, mematahkan beberapa ranting pohon, dan memanjat pohon kelapa mengambil buahnya. Menumpuk ranting yang sudah terkumpul dan menebar daun untuk alas. Aku duduk bersila dialasku mengahadap ranting-ranting yang siap kubakar sebagai penghangat. Untuk kali ini, aku beruntung menjadi manusia aneh. Seperti seorang penari bali yang jemarinya lentik, aku membiaskan api dari jemariku. Ranting langsung terbakar sempurna.

Aku meluruskan kakiku dan kedua tanganku menopang tubuh, kepalaku mendongak keatas. Seperti biasa, aku memperhatikan langit.

“Paman,, bagaimana keadaanmu dirumah? Aku tau kau pasti mengkhawatirkan aku,,” gumamku memecah kesunyian yang bersahabat dengan suara debur ombak.

Seketika aku membayangkan rahang kuat paman yang menegang jika ia sedang dalam keadaan khawatir akan kondisiku, lalu berganti dengan senyuman hangatnya dan tawa gelegarnya yang menyenangkan. Air mataku menetes. Tapi aku berusaha agar tidak sesenggukan, aku harus kuat dan berani. Bukankah sudah bertahun-tahun aku merencanakan ini semua. Cahaya bintang-bintang itu mulai pudar, airmataku ternyata jatuh tak henti-henti. Aku menarik ujung lengan bajuku untuk menghapus airmata rindu ini. Aku juga ingat Dandelion, aku sangat menyesal tidak memakai gelang kaki yang dia berikan padaku. Jujur saja, aku membutuhkan itu.

Dengan rasa lelah yang sudah tidak tebendung, aku merebahkan diri. Lagi dan lagi aku melihat bintang. Lalu aku ingat sesuatu, kuraba dadaku mencari liontin yang terbuat dari lempengan mangkuk yang ditemukan paman bersamaan dengan menemukanku. Ini satu-satunya yang bisa menjadi petunjukku. Petunjuk sebagai arah mata angin dan penunjuk jalan kebenaran darimana sebenarnya aku berasal. Aku tidak tau apa yang kulakukan ini terlalu berlebihan atau mengada-ada. Memang seharusnya aku tetap disisi paman dan menjadi anak gadisnya yang manis selamanya. Bukankah paman Manson menyayangiku lebih dari apapun. Tapi, aku tidak menjadi diriku sendiri. Aku bahagia melihat paman Manson bahagia. Dan aku sedih melihat paman Manson bersedih. Tapi tanda tanya besar yang ada pada dalam diriku tidak bisa kuselimuti dengan itu semua. Aku haus akan pengetahuan, ‘apa’ aku sebenarnya.

  Begitu banyak pemikiran-pemikiran, ribuan rasa dari berbagai perasaan dan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik batinku sebelum ku benar-benar terlelap. Mataku menjadi berat dan ku memutuskan mengeluarkan aura hangat dari tubuhku agar angin kencang tidak membuatku menggigil. Setelahnya, meniup api unggun dan terlelap.



***

Pagi hari disisi lain pulau, Samudra masih sibuk menyiapkan segala sesuatunya di pondokan. Sebenarnya dia ingin sekali menikmati betapa indah dan nyamannya daerah sekitar pondokan tersebut. Namun entah apa yang membuatnya urung dan mengerutkan dahi, dia tetap melakukan aktifitasnya.

Setelah yakin apa yang sedang dilakukannya telah selesai, Samudra masuk kedalam kamar dan mengambil peralatan menyelamnya. Tatapan matanya yang tajam, rahangnya yang kuat, bahu tegap dan tubuh yang penuh sekali gambar. Menandakan jika dia adalah laki-laki yang sangat keras. Namun jika ditelisik dari matanya, sungguh tidak bisa ditebak.

Begitu memeriksa segala atribut menyelamnya sudah lengkap, Samudra melangkah keluar hutan menuju pantai. Matahari pagi yang lumayan menyengat tidak mengurungkan niatnya untuk menyelam hari itu. Dengan pasti Samudra mulai mengenakan segala atribut menyelamnya sesampai di tepi pantai. Samudra sama sekali tidak menyadari adanya sosok Sea yang sedang tertidur lelap kelelahan dibalik batu besar yang tepat berada dihadapannya. Sampai ketika ia melihat adanya kejanggalan yang menarik perhatian. Tapak-tapak jejak kaki diatas pasir pantai yang tertinggal disana-sini membuatnya berfikir keras. Siapa yang ada dipulau ini selain dia. Samudra tanpa ragu mengikuti jejak-jejak kaki tersebut yang malah membawanya ke balik batu tempatnya tadi berdiri. Dengan hati-hati Samudra melihat ke balik sisi batu tersebut, dan ternyata, apa yang dia lihat diluar perkiraannya.

Dengan alis mengkerut dan mata menatap tajam. Samudra mencoba menebak siapa wanita yang terbaring dihadapannya. Samudra memperhatikan penampilan wanita tersebut. Berpakaian lusuh namun memiliki kulit putih yang bersih dan wajah yang tidak dipungkiri kalau wanita ini terlihat cantik. Malah sangat cantik. Kulitnya seperti bersinar jika terkena cahaya, mungkin karena saking putih dan bersihnya membuat dia tampak bersinar, pikir Samudra. Tapi bukan itu yang menjadi masalah, siapa dan apa yang membuat wanita ini ada disini? Samudra masih menebak-nebak di benaknya, mungkinkah dia hanyut dan terbawa ombak sampai kesini? Atau dia memang penduduk asli pulau ini? Tapi tidak mungkin, Samudra sudah memastikan kalau pulau ini benar-benar tidak berpenghuni. Dan satu lagi pertanyaan besar, apakan wanita ini masih hidup? Dengan setengah berlutut dan betumpu pada kaki kanannya, Samudra mencoba memeriksa nadi wanita ini. Tapi begitu jemarinya hampir menyentuh pergelangan nadi wanita tersebut, Sea perlahan terbangun, matanya membuka. Samudra sedikit terperangah dan beku. Dia bisa melihat kedalam mata Sea yang sekarang terbuka dan terbelalak terkejut melihat kehadirannya. Samudra seperti melihat kedalaman lautan yang indah dimata biru Sea. Dan Sea yang terkejut akan kehadiran Samudra langsung mundur begitu menyadari ada orang lain dihadapannya.



-to be continued-

sumber gambar: uclub-brother.blogspot



0 komentar

Sapa saya untuk teman-teman, setelah sekian lama,, ^^

Tentunya seribu pelukan untuk teman-teman semua atas keterlambatan saya untuk melanjutkan cerita di blog ini. Maaf banget ya semuaaa,,,, ini karena kesalahan teknis. Modem saya berulah dan membuat saya hanya bisa menggerutu karena tidak bisa beredar diinternet, kalaupun bisa itu harus ke warnet atau harus nongkrong berjam-jam di hotspot, seperti yang sedang saya lakukan disaat ini. 

Segelas medium orange juice dan satu buah donat double choco peanut butter menemani 
saya dan leptito untuk memposting blog ini. Berhubung saya lagi ga puasa, jadinya tempat ini sepi dan bisa dapet tempat yang nyaman,, alhamdulilah. 

cerita serial SEA akan saya posting setelah ini,, jadi,, cekidot ya,,

luv u all ^^

-winda- 


@Dunkin Donuts Pondok Gede 7/29/2013 2:24 PM
 
May 24, 2013 4 komentar

Where? -SEA- --- 2




‘BRAKK!’ Manson mendobrak masuk ke dalam rumah keluarga Dandelion. Didalamnya, Dandeli sedang asik melukis dikamar sehingga ia tidak tahu menahu kejadian ini, begitulah Dandeli jika sedang melukis, dia akan lupa segalanya, dunianya ketika melukis hanya sebatas cat warna-warni,kuas dan kanvas. Ibunda Dandelion lah yang terkejut bukan main akan kedatangan Manson yang tiba-tiba dan tanpa sopan santun itu.

                “Ada apa ini?!” ibunda Dandeli yang biasanya penuh kelembutan dan memiliki sorot mata penuh kasih, kini terlihat meradang akan sikap tidak sopan dari paman seorang sahabat anaknya.

                “Dimana kalian sembunyikan anakku!” Manson tanpa basa-basi langsung menyeruak masuk kedalam rumah, dan membuka setiap pintu didalam rumah keluarga Dandeli.

                “Hentikan ketidak sopananmu Manson! Bicarakan baik-baik! Ini rumahku, kamu tidak pantas bersikap tidak sopan disini!” lengan ibunda Dandeli melintang menjadi pagar penghalang ketika Manson hendak menaiki tangga menuju kamar anak kesayangannya.

                “Minggir! Atau kau menyesal sudah menghalangiku menemui Sea!!”

                “SEA TIDAK ADA DISINI!” ibunda Dandeli berteriak. Dia sudah muak akan sikap Manson yang sudah tidak sopan masuk kerumahnya tanpa permisi, mengobrak-abrik seisi rumahnya dan sekarang dia menuduhnya menculik Sea! Keterlaluan! Matanya memerah, menahan gejolak kemarahan yang tidak pernah lagi ia rasakan lagi setelah dua puluh tahun belakangan ini.

                “Oh ya? Baiklah, kita tanyakan saja pada anakmu yang cacat itu!” Manson tidak mempedulikan keberadaan ibunda Dandeli. Ia mendorong kasar Ibunda Dandeli agar tidak menghalangi langkahnya. Membuat ibunda Dandeli jatuh terjerembab ke lantai kayu rumah itu.

                Manson sedikit merasa menyesal telah membuat Ibunda Dandeli terjatuh. Tapi  begitu ia menoleh dan melihat ternyata Ibunda Dandeli tidak mengalami cedera dan hendak bangkit dari jatuhnya. Dia segera naik keatas, tidak mau menyia-nyiakan waktu merasa kasihan kepada yang telah menculik putri kesayangannya.

               

Dandeli sedang asik mencampurkan warna-warni indah pada palet tintanya. Sedang asik memikirkan warna apa yang cocok untuk ia torehkan dengan kuas kesukaannya diatas kanvas yang sudah hampir jadi separuh lukisan itu. Lukisan yang memuaskan, pikirnya, kemudian tersenyum sendiri mengingat ucapan Sea mengenai bunga Dandelion. Ucapan penuh bahan bakar penyemangat untuk hidupnya yang telah menjadi ide cemerlang untuk lukisannya sekarang.



Manson memutar gagang pintu kamar Dandeli, dan mendapati Dandeli yang sedang asik melukis sendirian. Matanya mencari-cari keberadaan Sea disekeliling ruangan,nihil.

“HEI ANAK CACAT!” serunya.

Dandelion terkejut mendengar suara gemuruh Manson yang penuh kemarahan, membuat kuasnya terpental jatuh kebawah dan warna-warni cat yang tak sengaja tersenggol, tumpah dan meninggalkan noda dimana-mana. Termasuk noda cipratan di atas lukisan yang dengan susah payah ia buat selama dua hari tanpa tidur.

“Pa,,pa,,paman Manson,,?” Dandelion tergagap ketika melihat Manson ada didalam kamarnya. Disaat bersamaan, Ibunda Dandeli menyeruak masuk dan memunggungi Dandelion menjadikan tubuhnya benteng pertahanan untuk Dandelion dari amukan kemarahan Manson.

“MINGGIR!! AKU INGIN BICARA DENGAN ANAK CACAT INI!!!” Manson semakin meradang. Kali ini, Manson terlihat seperti harimau yang sedang mengamuk.  Inilah Manson ketika ia merasa Sea sedang dalam keadaan yang tidak beres. Ia akan melakukan apapun demi Sea.

“SUDAH KUBILANG! SEA TIDAK ADA DISINI!!!” ibunda Dandelion tidak kalah lantangnya dari Manson. Ia juga sama seperti Manson, tidak akan membiarkan putri tercintanya disakiti siapapun, meskipun dia harus berkelahi dengan pria besar bertato jangkar dipelipis. Ia tidak gentar.

Dandelion bingung melihat situasi ini. Bagaimana tidak, ia yang selama dua hari ini asik melukis dengan tenang dan penuh bunga-bunga bahagia karena terinspirasi oleh kalimat-kalimat indah sahabatnya dua hari yang lalu, tiba-tiba saja dikejutkan dengan kehadiran Pamannya Sea yang mengamuk.

Dengan penuh ketenangan, Dandelion menarik lengan ibunya kesamping dan membisikkan “tidak apa-apa bu, biarkan Paman Manson bicara denganku,, aku ingin tau ada apa,,”

Begitu Dandelion ada dihadapannya, Manson langsung mencengkeram lengan Dandeli. Membuat tubuh Dandeli sedikit berguncang.

Mata Ibunda Dandeli geram melihat Manson menyakiti putrinya. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun, Dandeli dengan lengan satunya lagi menyuruh ibunya mundur.

Manson mendekatkan wajahnya ke wajah Dandelion, membuat Dandelion bisa melihat dengan jelas raut kemarahan yang menyeramkan dari Paman sahabatnya itu, “Dimana kau sembunyikan anakku?”

“A,,aa,,aku tidak tau Paman,,” Dandelion gemetar menahan tangis dan masih kebingungan akan apa yang terjadi.

“Kamu tidak tau? Tidak mungkin! Seluruh Desa tau kau sering berkeliaran dengan anakku!” tanya Manson penuh penekanan pada nada suaranya, namun semakin mengeraskan cengkramannya.

Dandelion merintih, “Aku memang sering bertemu dengan Sea,,”

“NAHH!!” Manson akhirnya melepaskan cengkramannya, dan beralih ke Ibunda Dandelion, “kau dengar sendiri? Anakmu sudah mengakuinya!!!” ucapnya sambil menunjuk ke arah Dandelion.

“Dia hanya mengakui kalau dia dan anakmu sering bertemu, tapi tidak menculiknya,,” Ibunda Dandelion membantah tuduhan Manson.

Manson segera mengeluarkan benda dari dalam saku celananya. Dan menggenggam benda itu dengan penuh kekesalan. Dan menunjukkan benda itu tepat didepan wajah ibunda Dandeli.

Ibunda Dandeli tidak bisa berkata apa-apa begitu benda itu tepat ada dihadapannya. Dia hanya melihat kearah Dandelion dan memeriksa kaki Dandelion.

“Iya ibu,, itu gelang kakiku,, aku sengaja memberikannya pada Sea, tapi aku tidak melakukan apapun terhadap Sea! Aku berani sumpah bu! Aku tidak berbuat jahat pada Sea!” Dandeli merasa terpojok dan mulai menangis.

“Kenapa kamu memberikannya pada Sea! Itu benda peninggalan Ayahmu nak!!” Suara ibunda Dandeli serak karena  kecewa akan sikap anaknya yang dengan mudahnya memberikan satu-satunya peninggalan sang suami kepada orang lain.

“Lalu kenapa benda ini ada dikamar Sea?” tanya Manson membutuhkan jawaban yang lebih akurat.

“Aku tidak tau paman, aku bertemu dengannya dua hari yang lalu,, dan aku memberikan gelang kaki itu untuk Sea, sebagai tanda terima kasihku karena selama ini dia sudi berteman denganku, sedangkan orang lain tidak,,” Dandelion menjelaskan sambil terisak.

Manson tidak tega melihat Dandelion si anak cacat albino itu menangis dihadapannya. Dia hampir lupa, kalau Dandelion selama ini adalah sahabat dari Sea. Kemarahan yang bercampur kekhawatiran membuatnya nyaris lupa akan kenyataan itu.

“Memangnya kenapa dengan Sea Paman?” tanya Dandeli yang dari tadi masih belum tau keadaan sebenarnya.

Manson tersandar lemas ke tembok kamar Dandeli, dia menjadi bingung. Kemarahannya yang meluap-luap mendadak berubah menjadi kecemasan yang tidak tertahankan. “Sea hilang,, dia sudah dua hari tidak ada dirumah,,” jelas Manson lemah.

Ibunda Dandeli terkejut mendengar penjelasan Manson, dia juga sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dari tadi dia hanya sibuk memikirkan bagaimana menjaga putrinya dari amukan badan besar Manson, sehingga tidak menyadari sebab dari permasalahan ini.

Dandelion terdiam. Masih tidak mempercayai kalau sahabatnya ternyata hilang. Dan tidak menyangka kalau pertemuannya dengan Sea kemarin itu bisa saja menjadi pertemuannya yang terakhir.
                Manson bangkit. Mengambil telapak tangan Ibunda Dandeli dari sisi kirinya dan menaruh gelang kaki Dandeli didalamnya. “Ini kukembalikan pada mu,,”

“Tapi paman! Itu sudah kuberikan untuk Sea,,” Dandeli memohon.

“Dengar nak,, aku tau persahabatanmu dengan Sea itu dekat sekali,, tapi ini adalah peninggalan satu-satunya dari ayahmu kan? Aku tidak mau Sea menerimanya, ini kukembalikan pada ibumu,,”

“Tidak paman,, aku mohon,,”

“Lagi pula Sea hilang,, dan dia meninggalkan ini di tempat tidurnya,dia bahkan tidak mau memakainya,,” ucap Manson tanpa menghiraukan perasaan Dandeli.

Dandelion hanya bisa termenung mendengarkan kata-kata pelan namun dalam dari bibir Paman Sea. Tidak mungkin Sea tidak mau memakai gelang itu. Pasti ada sesuatu.

“Maaf,, aku sudah membuat keributan disini,, permisi,,”

Tepat ketika Manson hendak meninggalkan ruangan, Dandelion teringat sesuatu.

“Tebing,,” ucapnya setengah berbisik.

“Apa?” langkah Manson terhenti mendengar kata-kata Dandelion.

Tanpa ragu dengan langkahnya yang pincang. Dandeli melewati Manson berniat mencari Sea di tebing tempat dia dan Sea biasa merenung. Ibunda Dandeli tidak bisa menahan anaknya untuk tidak keluar rumah saat itu. Ia tau ini adalah saat yang genting, meskipun Manson hari ini bersikap kasar dan tidak menyenangkan. Ia tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Ibunda Dandeli tau, anaknya mengetahui sesuatu.

Manson mengernyitkan dahi begitu Dandeli melewatinya. Namun ia tetap mengikuti langkah pincang anak itu. Berharap langkah pincang dan mantap itu membawanya ke Sea.

Ibunda Dandeli mengikuti dibelakangnya.



Terpaan angin laut diwajah mereka tidak membuat wajah kekhawatiran mereka menguap, justru semakin jelas membentuk. Dandelion tidak tau apakah melakukan hal ini benar, ia sudah berjanji pada sahabatnya itu untuk tidak memberitahukan siapa-siapa mengenai tebing itu. Namun, dia terbentur dengan rasa khawatirnya terhadap keadaan Sea. Setidaknya dia tidak membocorkan rahasia terbesar Sea, dia hanya membutuhkan bantuan orang yang lebih kuat untuk ke tebing mencari Sea, dan itu adalah Paman Manson.

Manson terperangah melihat kemana Dandelion membawa mereka. Tidak habis fikir, bagaimana bisa mereka sampai diatas sana.

“Paman,, mungkin Sea ada diatas sana,,” tunjuk Dandeli.

Manson melihat kedalam mata anak itu. Mencari-cari sesuatu, namun ia tidak menemukan apa-apa. Kemudian ia memanjat keatas dengan susah payah dan sambil memikirkan, bagaimana cara Sea bisa sampai diatas sana. Itu jika omongan si cacat itu benar. Tapi apa salahnya dicoba, siapa tau dia benar, Sea ada disana. Diatas tebing terjal yang menjorok kearah lautan nan dalam.

Walaupun angin kencang bertiup, keringat Manson tetap menetes. Dibawah sana Dandeli menunggu dengan penuh harap, dan Ibunda Dandeli cukup cemas dengan keadaan ini. Bulak balik dia menatap kearah Dandeli dan mendongak ke atas khawatir kalau-kalau Manson terjatuh, karena sudah beberapa kali kaki Manson tergelincir dan menyebabkan kerikil-kerikil terjatuh. Jangan sampai orang besar itu yang terjatuh dan menimpa dia serta anaknya. Sungguh merepotkan nantinya.

Berkali-kali Manson menyeka keringatnya. Matanya mencari-cari mana lagi yang akan menjadi pegangannya dan meraba-raba dengan kakinya yang besar mencari pijakan kuat untuk naik keatas, sesekali gagal namun tangannya yang mencengkeram  kuat telah menahannya untuk tidak terjatuh. Sudah hampir sampai. Dia mulai berteriak memanggil-manggil nama Sea. Tapi tetap tidak ada sahutan. Hanya angin yang malah membuat suaranya seperti melayang.

Begitu sampai diatas,, dia sempat terkesima melihat pemandangan yang luar biasa. Namun ia teringat akan tujuan dan usaha panjangnya sampai kemari. Dia ingin mencari Sea. Manson mulai menyisir atas tebing tersebut. Terdapat goa kecil dipojokan tebing yang didepannya terdapat bekas api unggun dan tulang-tulang ikan serta ranting ranting berserakan. Manson kebingungan melihat itu semua. Mungkinkah Sea ada diatas sini? Melihat medan yang terjal dan berbahaya, tidak mungkin fisik Sea bisa melewati itu semua. Dia masuk kedalam Goa dan melihat kedalam, kosong tidak ada apa-apa didalamnya. Hanya lagi-lagi ranting dan daun-daun seperti bekas alas untuk duduk yang ada disana.

Manson memutar otak mencari-cari bagaimana Sea bisa ada diatas sini. Seperti memang tidak mungkin Sea pernah ada diatas sini. Tapi si pincang itu menunjukkan tempat ini. Dan tempat ini,, tidak mungkin ada orang yang tau mengenai tempat ini. Jika saja si pincang tidak memberitahunya, seumur hidup Manson tidak akan tau. Tempat ini tidak mungkin terjamah siapapun. Lagi pula, siapa yang mau ber-rajin-rajin memanjat keatas tebing dengan ketinggian yang melelahkan seperti ini. Manson harus mencari tau. Dan kunci satu-satunya hanya ada di Dandelion.



Begitu sampai dibawah dengan susah payah, Manson langsung menghampiri Dandeli.

Melihat wajah kekecewaan Manson dia tau itu artinya apa, Sea tidak ada diatas. Dan Dandeli tau pertanyaan selanjutnya yang akan diajukan padanya.

“Diatas aku menemukan ranting-ranting pohon dan bekas-bekas bakaran ikan,, apakah kalian yang membuatnya?” tanya Manson dalam.

Dandelion hanya tertunduk. Dia tidak berani bersuara. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memulai menjadi orang bisu, pikirnya dalam hati. Ia akan tetap menjaga rahasia besar sahabatnya itu sampai kapanpun. Ia akan bersikap sama seperti Sea, diam dan menjaga pertahanan kerahasiaan ini.

“JAWAB!!!” teriak Manson geram melihat sikap Dandelion.

“Hentikan Manson,, kau sudah membawa anakku terlalu jauh untuk masalah ini,, dia tidak tau apa-apa!” Ibunda Dandeli melerai keduanya. “Sudah nak,, kita pulang,,”

Sebenarnya Ibunda Dandeli tau jika Dandeli tau sesuatu, namun ia tidak mau anaknya menjadi bulan-bulanan Manson. Dari tadi ia sudah tidak tahan melihat anaknya di maki-maki tidak jelas. Ini sudah cukup. Ibunda Dandeli kemudian membawa Dandeli pergi dari sana.

Manson kembali mendongak keatas lalu melihat punggung dua manusia, ibu dan anaknya yang pincang pergi meninggalkannya sendirian. Kali ini,, dia benar-benar merasakan sendirian tanpa Sea. Dia sudah tidak tau lagi kemana harus mencari Sea. Hatinya pedih mengetahui kenyataan itu. Apa mungkin Sea kembali kelaut tempat dia menemukannya dulu. Tapi tidak mungkin,,, Sea tidak pernah ia ajarkan berenang dari kecil. Sea tidak bisa berenang. Ia sengaja melakukan itu agar Sea tidak meninggalkannya.

Manson lututnya melemas. Mendadak menyesali dirinya yang tidak mau mengajarkan Sea berenang, padahal dia tinggal didekat laut. Dia menyadari, tidak mengajarkan Sea berenang sama saja membunuh anaknya. Bagaimana jika Sea terjatuh ke laut? Dan tenggelam tersapu ombak?

Air mata Manson menetes. Dia menyadari kesalahannya selama ini. Ingatannya kembali pada hari-harinya bersama Sea. Anak gadisnya yang belia dan cantik, kulitnya bercahaya jika terpapar matahari. Matanya yang biru dan indah,rambut ikal hitam legam dan panjang, banyak laki-laki desa yang mendekatinya untuk sekedar bisa bercakap atau melihat Sea langsung dirumah. Berbasa-basi minta diajarkan ilmu melaut. Padahal mereka sudah lihai melakukannya. Beruntung sikap Sea yang dingin dan pendiam terhadap mereka, membuat Manson lebih mudah bersikap. Sikap diam Sea sangat membantunya dalam usaha mengusir mereka secara halus.

Manson kali ini belajar dari kesalahan terbesarnya. Apa yang ia genggam terlalu erat justru malah hilang begitu saja. 
to be continue
-winda-

Total Pageviews

Blogger templates

 
;