Jan 18, 2026 0 komentar

Lagi ga tau mau nulis apa?

 


Ya udahlah...
Bingung mau bahas apa, nulis apa?


Mereka bilang hidup gw menyedihkan, suram, sepi...
Yasalam... Yaudah iya terserah kalian aja...
Emang se-monoton ini kegiatan sehari-hari....


But i love being me...
Ga bagus-bagus amat, juga ga jelek-jelek amat... 
Sedenggglaaahhh... 
Ga muda-muda amat, ga tuwir-tuwir amat jugalaahh...
HAHHHH...


Ada yang ga suka... Ada yang biasa aja... Ada yang suka...
Ada yang muak banget sama gw.. ada juga yang kecintaan amat ama gw... 
Hiyaaaa... Dahlah... Sok iyeh banget gw... 


Apapun itu...
If one day i make it happen...
At list i dont wanna hurt anyone. 
N i dont wanna hurt my self..


Thankyou for all the kindness...
Untuk segala ketidak sempuranaan yang terhidang.
Untuk segala ilusi,delusi dan imajinasi...
Untuk segala kesungguhan dan kepura-puraan...
Untuk segala baik dan buruk...
I accept it...


Its always be me... Yours..
-Winda the imperfect human-
While listening the beatles album 




















Dec 24, 2025 0 komentar

Cerpen- Human sunshine dan kopi.



Jalanan hari ini membawa kesibukan kesana kemari. Mendiamkan sunyi yang terserak dalam kesibukan manusia warawiri. Melanjutkan hari dalam awalan yang membawa makna baru akan pertikaian mimpi mereka. 

Dalam genggaman sebuah cup kopi yang pasrah dibawa terburu-buru dalam ritme waktu yang dikejar realita. Cuaca sedang dalam gerimis yang tidak lagi mau menunggu deras. Langkah kaki terburu-buru dalam hingar berebut sudut yang lengang.

Khalila memasuki kedai sarapan pagi berisi jajanan pasar. Matanya menatap sebuah roti keju yang sederhana didampingi kue lapis warna warni. Tanpa berpikir langsung memilih dan bergegas membayar ke kasir. Sambil sesekali merasakan nyeri dikakinya akibat cedera saat olah raga kemarin sore.

"Elo kalo lagi cape ya jangan dipaksain lah!" Tegur Rima. 

"Ga kok ga cape, cuma lagi apes aja.." jawab Lila.

"Ya emang gitu, manusia kalo belum diseruduk sama celaka ga akan sadar kalo dirinya cape.." sambar Jessi sambil lalu.

Khalila memikirkan kalimat sambaran Jessi dalam benaknya. Persis seperti yang dia pikirkan jika sebenarnya ia sedang lelah. Kemudian tersadar dari lamunan karena antrian sudah sampai depan kasir. Paling tidak dia pagi ini bisa meneguk kopinya dalam keadaan sesempit apapun.

...

"Masih sakit kakinya?" Tanya Gandi.

"Ga terlalu" jawab Lila sambil menyandarkan kepala disandaran kursi.

Gandi menatap dengan penuh pengamatan. Membuat Lila risih.

"Kamu ga percaya banget sih?"

"Ya aku tau kamu..."

"Aman kok..."

"Hmm.." Gandi meneguk kopinya. Lila memperhatikan, mengamati kerut mata Gandi yang juga terlihat lelah. Pilihan tshirtnya yang selalu berwarna hitam dan raut wajah lelah yang disembunyikan dalam bentuk peduli.

"Kamu juga cape ya keliatannya?" Tanya Lila.

"Secape-capenya aku, lebih cape lagi kalo liat kamu nyiksa diri sendiri..." Ujarnya tajam.

"Aku ga nyiksa diri sendiri... Aku bisa handle semuanya sendiri!"

"Ini nih, yang bikin aku cape.. fungsi aku buat kamu itu apa sih sebenarnya?"

Lila terdiam enggan menjawab pertanyaan berulang Gandi. Menurutnya rasa cinta kasih tidak selamanya harus memiliki fungsi seperti transaksional. Dengan kehadirannya saja sudah membuat Lila menjadi lebih ringan melangkahkan kakinya meskipun dunia sedang sempit.

Gandi mengerti gesture Lila yang merasa tidak nyaman akan pertanyaan berulangnya. Dia menyunggingkan senyum hangat dan menunjukkan sikap baik hatinya lagi dan lagi. Pengertian yang dibungkus sabar dalam lelah yang mereka berdua rasakan.

"Ga tau gimana, secapenya aku kalo kamu ada semuanya ga berasa berat..."

"Iya aku juga..."

"Aneh ya?"

"Iya"

"Kita sama-sama ga bergantung, tapi kamu ada buat aku aja itu udah cukup"

"Kamu cape ya sama yang ga pasti?"

"Aku cape kalo kamu hilang lagi..."

"Aku cape kalo kita saling ninggalin.."

Lila menunduk. Menahan air matanya jatuh. Gandi menyeruput teguk kopi terakhirnya. Dan memberikan genggaman hangatnya. "Dengerin aku kali ini, jangan nyerah sama keadaan ya, aku akan selalu ada!"

Lila merasakan tenangnya kali ini dibersamai dengan rasa hangat. 

Dua manusia luka.
Terbiasa menghadapi segala hal sendiri.
Dipaksa semesta untuk tidak saling bergantung.
Dipaksa saling mengisi.
Dipaksa saling kosong.
Hanya karena takut saling menambah luka.
Namun nyatanya,
Saling mengobati dan memperbaiki.



Bukan delusi dan ilusi.
Bukan halusinasi.
Bukan imajinasi.

Hanya rasa sederhana yang tidak semua mata mampu melihat dan merasa.



Bukan sekedar romantisasi seperti novel-novel romantis.


Lila dan Gandi, hanya menjalani apa yang mereka ingin jalani. Dalam menjemput dirinya masing masing untuk pulang ke rumah yang sama.

Bukan tentang sekedar.
Bukan kisah romansa dalam pernak pernik manis yang terlihat kasat mata.
Bukan intrik yang dipenuhi bisik berisik.



Karena rasa yang Khalila dan Gandi rasakan, 
Juga sedang kita rasakan. Hanya saja, tidak disadari.
Dan enggan dimaknai. 

...


...


...
...
~what ever the ending`im yours forever.









































 

Dec 8, 2025 0 komentar

Iam pathetic? Hah? Just random tought.



Saya melihat bagaimana manusia menimpang dan menindih dalam satu kata bantahan. Menjangkau remah remah bantuan dalam kosong akan harap namun diberi  kaca sebagai pembanding. Situasi yang memamah biak akan pembalasan yang tidak sejajar terpapar akan kaji keadilan. Melupa rangkai bahwa kilau sebab selalu berawal dari akibat dalam hal tuai sebalik kata yang mudah dipelintir dalam berbagai cermin yang memantul kehendak kosong sejajar.

Jejaknya selalu ada dalam reka dan tempa yang mencadangkan bencana beraroma keuntungan dalam bingar kantung penuh harta dan untung.

Yang tidak terlihat oleh mereka, bagaimana air itu mengalir tepat sesuai sasar yang sudah diperhitungkan sejak awal pembabatan. Seperti filosofi sekali tepuk dua tiga pulau terlampaui? Entahlah.
Pola kelok air menjawab dengan pasti dalam hantaran bukti yang tidak lagi bisa didamaikan oleh dalih apapun karena "bukit dan gunung tidak pernah berpindah tempat berpuluh puluh tahun."

Pemimpin sejati tidak akan pernah takut airmatanya terlihat dalam hancurnya hati melihat rakyatnya sengsara. Tidak pernah berkeberatan kantung matanya membengkak menjawab berbagai tudingan yang tidak kasat kata. 

Bumi memang sudah menua. Tapi ternyata hati manusia sebagian semakin membatu. 
Lebih memilih sibuk menjatuhkan manusia lain dari pada membangun jiwa diri sendiri. 
Memilih memenangkan kehendak pribadi dibanding saling menjaga kedamaian diri masing-masing dan khalayak. Menjatuhkan nilai diri demi suara namun mematungkan diri membaca bencana.

Jika tulisan ini membuat muak maka hempas saja.

Jika tulisan ini membuat berfikir, maka berhenti menghancurkan jiwa lain. Karena jiwa manusia rusak akibat ulah sendiri. Bukan akibat berbagai 'perencanaan dan skenario' yang dituliskan rapi demi melancarkan niat kotor menularkan virus kerusakan.

Yang sejatinya baik akan selalu dalam penjagaan meskipun berbagai skenario kotor berusaha dihasutkan kesana kemari. 

"Bumi berputar pada porosnya bukan untuk satu manusia, bukan untuk satu golongan".



Ini bukan cuma tentang ini.


Jika ada yang tidak menyukai pemikiran saya, maka sukai pemikiranmu sendiri.
Tidak perlu berlelah diri memaksa saya satu pikiran dengan kalian.
Hanya manusia 'jernih' yang mampu memahami 'perbedaan pemikiran."
Dan hanya manusia "keruh" yang tidak mampu berhadapan dengan "perbedaan."
...

Tidak apa jika tak sepaham.
Apa-apa jika???
*Jawab sendiri.






















Nov 21, 2025 0 komentar

cerpen bikinan AI🌱💕



Hujan turun sejak pagi, membuat kota terasa lebih tenang dari biasanya. Nara berdiri di depan pintu rumahnya, menatap halaman yang basah, merapatkan hoodie ke lengannya. Tepat saat itu, Kelana datang.

Kelana membuka helm, napasnya masih berkabut oleh udara dingin. “Nar,” ujarnya, “ikut aku jalan sebentar?”

Nara mengangkat alis. “Gerimis begini kamu ngajakin aku?”

Kelana mengangkat bahu. “Kalau nunggu terang, nanti keburu lebaran. Ayo.”

Nara masuk mengambil jaket, lalu menghampiri lagi. “Oke. Aku ikut.”

Mereka melaju pelan. Gerimis yang menetes di kaca helm menciptakan pola kecil yang ikut bergerak bersama angin. Lampu jalan tampak seperti garis panjang yang ditarik tangan seseorang yang sedang ragu.

Di kepala Kelana, suara kecil muncul—jujur, tapi tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Nar, kamu itu ribut di kepalaku, bahkan waktu kamu diam. Bukan ribut yang bikin capek, tapi ribut yang membuatku sadar kalau aku nggak mau kehilangan arah ke kamu.

Mereka berhenti di taman kecil. Gerimis jatuh halus, lebih seperti tetes kecil daripada hujan.

“Kenapa ngajak aku keluar?” tanya Nara, duduk di bangku yang setengah basah.

Kelana duduk di sampingnya, menahan napas satu detik. “Aku cuma ngerasa komunikasi kita belakangan berantakan. Aku nggak mau kita salah baca satu sama lain.”

Nara menatap tanah. “Makanya aku diam. Takut salah tanggap.”

“Malah bikin makin jauh,” jawab Kelana tenang. “Nar, aku nggak pernah niat menjauh. Kalau aku diam, itu karena aku lagi beresin pikiran.”

Nara mengangguk. Lalu dengan suara lebih rendah, “Tapi, Kel… kemarin kamu bilang kamu lelah. Kenapa?”

Kelana menarik jaketnya sedikit, memastikan suaranya tidak menggantung. “Aku lelah sama hari-hari yang padat, bukan sama kamu. Lelah sama hidup, bukan sama kita. Jangan tarik kesimpulan yang bukan-bukan.”

Dalam kepalanya, suara itu muncul lagi. Kamu bukan beban, Nar. Kamu justru yang bikin kepalaku sedikit lebih waras. Aku hanya takut ngomong dan malah bikin kamu mikir yang enggak-enggak.

Nara menghela napas. “Aku kira aku penyebabnya.”

“Kalau kamu penyebabnya, aku bilang,” balas Kelana jujur. 

Hujan turun lebih halus, seakan memberi ruang pada percakapan.

“Kamu masih sabar?” tanya Nara.

Kelana tersenyum kecil. “Nar, aku jemput kamu hujan-hujanan cuma buat ngobrol. Menurutmu itu jawaban yang kurang jelas?”

Di kepalanya, ia membatin, Aku sabar bukan karena aku kuat, tapi karena kamu penting.

Nara tersenyum. “Iya… aku paham.”

Mereka diam beberapa saat, tapi bukan diam yang menakutkan. Diam yang memberi ruang bernapas.

Hingga akhirnya Kelana berkata, “Nar, besok kita cari makan yuk? Yang santai aja. Kita lihat nanti mau ke mana.”

Nara mengangguk. “Boleh. Tinggal ngomong aja.”

Kelana tersenyum tipis. Syukurlah, batinnya. Aku cuma butuh kamu bilang iya.

Angin tiba-tiba mendorong hujan ke arah mereka. Nara terkesiap, menutup kepala pakai tangan.

“Tuh,” kata Kelana sambil tertawa, “hujannya yang usil, bukan aku.”

Nara tersenyum.

Mereka berjalan menuju motor. Saat Nara memasang helm, Kelana sempat meliriknya satu detik lebih lama.

Dalam kepalanya, suara itu muncul lagi—jujur, sederhana.

Walaupun kamu nggak sadar, Nar, aku datang bukan buat menyelamatkan apa pun. Aku cuma pengin kamu.

Saat hampir naik ke motor, Kelana berkata, “Nar, besok jangan pakai hoodie yang ini. Dia udah keliatan trauma.”

Nara bengong, ”Hah?"

Mereka melaju pulang di bawah gerimis yang menutup malam perlahan. Tidak ada janji besar. Tidak ada kata-kata yang dibuat indah.

Tapi di tengah jalan yang basah itu, dua orang saling memilih dengan cara yang paling sederhana.

Kadang, itu jauh lebih kuat daripada apa pun kan?


Notes:
Nyobain nulis cerpen ini pakai bantuan Ai, mindblowing! Ternyata bener ya... Kalo ga pinter2 nulis pake rasa, bakalan bisa digantiin sama Ai! 

Beberapa kali sempet error ga bisa masukin gambar, udah suuzon akun gw diretas oleh mereka lagi. Yaudahlah... 

Jadi gimana hasil Ai?

Beda ya sama hasil tulisan saya, udah coba masukin prompt hasilnya harus berkali kali direvisi. Kalo nulis sendiri langsung jadi malah. 

Nanti kita bahas. Sambil ngupi 😉🌱💕




Nov 19, 2025 0 komentar

Other random pleasure?

 


Melihat alur baris rapi ilmu pengetahuan, membawa jiwa dalam lekat teladan.
Menderma karsa dalam kias berbuku buku.
Jiwa kecil menjelma tata surya tak terhingga.
Menyadur bilangan ganda tanpa jeda.
Memaknai diri bahwa semesta kecil dicipta illahi dalam raga.
Mengetahui lantang jika selamanya jiwamu hanyalah pembelajar.
Kosong tanpa pengetahuan yang luasnya melebihi tata surya.
Yang maknanya tidak terjawab sebatas luas bumi.
Kamu sadar dan tegar, bahwa hidup selalu dalam dan nyaman akan rahasia rahasia tidak terungkap.
Dan melupa sadar, bahwa egomu melebihi luasnya rahasia tatasurya yang ALLAH jaga dan hidang dalam tidak genggam dan tidak tadah seperti yang selama ini diagungkan semesta?

...


Semesta kecil ada dalam kepala.
Dalam aliran darah.
Dalam jiwa yang diluruh asa.
Dalam pemikiran yang penuh tentang.
Dalam sukma yang berpeluh tuah.
Dalam lapar bertabur tuai.
Dalam henyak beranjak terpijak.
Dalam kilau hingga pukau.


Bertumbuh, menumbuh yang selalu ditabuh.
Hingga belabuh dalam rusuh nan utuh.
Saling bertemu jiwa nan saling butuh.
Saling menaruh sauh dan rengkuh doa yang riuh.
Agar tetap penuh dalam bisik kisruh.



Kamu, aku, mereka, kita, dia, kalian...
Dengan isi kepala dan rasa yang berbeda.
Dengan cita dan citra tanpa paksa akan rasa.

Semua manusia berhak bahagia dalam dawainya.
Semua jiwa berhak merasa dalam garisnya.

Pun berhak memilih apapun yang membuatnya bahagia.
Dalam perjalanan hidupnya.
Dalam sisa usianya.

Dalam garis yang tidak ditentang sang pencipta. 

Benarkah?
Entahlah.
hehe

-----
While listening Yiruma,again n again... 🌱💕













Nov 18, 2025 0 komentar

Hinterweltler!

 


Membahas rancangan Undang Undang no.8 tahun 1981, tentang hukum acara pidana atau RUU KUHAP yang kontroversial.

-Tentunya dari isi kepala saya tanpa kepentingan politik apapun, dan hanya berpihak pada apa yang saya anggap adil-

Pertanyaan yang timbul dikepala adalah, kenapa ini menjadi berat sebelah? Siapa pencetusnya? Dan akan digunakan untuk melawan siapa? 

Pelan pelan. Kita lihat ini dari analogi bola bowling. Dari pattern yang ada saya melihat mereka memakai ini untuk dijadikan bola bowling. Analogi absurd dan sederhana yang tiba tiba muncul dalam kepala. Item ini, diibaratkan bola bowling. Permainan lempar bola yang tidak dilakukan dilapangan luas namun tempat khusus, dimana bola tersebut berat, karena bukan bola tendang atau bukan bola voli yang dilempar melambung ataupun bola basket yang dimasukkan kedalam ring basket. Mulai kebayang ya?

Jika bola sudah berjalan, tidak boleh ada intervensi. Seperti paket yang sudah masuk jalur conveyor: biarkan sampai tujuan. Begini kan istilahnya. 

Curious siapa pemain bowling nya. Apa yang diincar, tentunya incarannya dalam hitungan seperti jumlah pin, dan kenapa harus sedemikian rupa menyusun RUU ini tanpa malu mengungkap kecurangan secara terang, bisa jadi 'calon tersangka'nya nanti adalah oknum yang sebelumnya tidak bisa tersentuh hukum dengan undang undang dan pasal sebelumnya. Kira kira siapa?

Dari berbagai hal kontrovesial yang dihidangkan, saya melihat ini dibuat khusus untuk sebuah pertandingan bowling yang dibuka bukan untuk umum. Tapi, ini bisa dijadikan senjata untuk pembungkaman.

Let see under the surface.
Let see under the layer.

Tau hukum pelat chladni?
Gelembung suara menghantam permukaan, menciptakan getaran beberapa bagian permukaan lebih bergetar, yang lain nyaris tak bergerak. Pasir secara alami bergeser menjauh dari area yang bergetar dan menetap ke yang diam membentuk pola yang tepat. BUKAN DESIGN ACAK.

Saya bukan ahli hukum. 
Cuma manusia penuh critical thinking yang resah. Jika hal ini berdampak pada rakyat jelata.
Faktanya, tanpa adanya pasal ini saja sudah bejibun korban salah tangkap kan? Atau bahkan korban yang sengaja ditangkap padahal tidak bersalah? Entahlah. 

We live in city we never see on screen.


Nietzsche-

Telah senantiasa kutuliskan tulisan tulisanku dengan segenap hati dan jiwaku, aku tak tau apa yang disebut persoalan intelektual murni itu, kalian kenali ini sebagai harga sebuah buah pikir.












Nov 16, 2025 0 komentar

Hopeless?

Menjadi diam dalam bahasa radar, bukan karena menjauh dan meninggalkan.
Memilih menjaga dari jauh, bukan karena meragu.
Namun memberi kesempatan pada suara hati untuk mendengar lebih lantang 'sebuah keyakinan' yang pudar pada berisiknya hal diluar prioritas yang seharusnya.

Then tell me everything... 
Aku b u k a n musuh.
Kita satu tim!




Lets grow together.
Not throw each other.

Tell me everythng...
Calming each other..


do it together...
Cuz,


Im still waiting...
🌱💕








Total Pageviews

Blogger templates

 
;