Dec 24, 2025

Cerpen- Human sunshine dan kopi.



Jalanan hari ini membawa kesibukan kesana kemari. Mendiamkan sunyi yang terserak dalam kesibukan manusia warawiri. Melanjutkan hari dalam awalan yang membawa makna baru akan pertikaian mimpi mereka. 

Dalam genggaman sebuah cup kopi yang pasrah dibawa terburu-buru dalam ritme waktu yang dikejar realita. Cuaca sedang dalam gerimis yang tidak lagi mau menunggu deras. Langkah kaki terburu-buru dalam hingar berebut sudut yang lengang.

Khalila memasuki kedai sarapan pagi berisi jajanan pasar. Matanya menatap sebuah roti keju yang sederhana didampingi kue lapis warna warni. Tanpa berpikir langsung memilih dan bergegas membayar ke kasir. Sambil sesekali merasakan nyeri dikakinya akibat cedera saat olah raga kemarin sore.

"Elo kalo lagi cape ya jangan dipaksain lah!" Tegur Rima. 

"Ga kok ga cape, cuma lagi apes aja.." jawab Lila.

"Ya emang gitu, manusia kalo belum diseruduk sama celaka ga akan sadar kalo dirinya cape.." sambar Jessi sambil lalu.

Khalila memikirkan kalimat sambaran Jessi dalam benaknya. Persis seperti yang dia pikirkan jika sebenarnya ia sedang lelah. Kemudian tersadar dari lamunan karena antrian sudah sampai depan kasir. Paling tidak dia pagi ini bisa meneguk kopinya dalam keadaan sesempit apapun.

...

"Masih sakit kakinya?" Tanya Gandi.

"Ga terlalu" jawab Lila sambil menyandarkan kepala disandaran kursi.

Gandi menatap dengan penuh pengamatan. Membuat Lila risih.

"Kamu ga percaya banget sih?"

"Ya aku tau kamu..."

"Aman kok..."

"Hmm.." Gandi meneguk kopinya. Lila memperhatikan, mengamati kerut mata Gandi yang juga terlihat lelah. Pilihan tshirtnya yang selalu berwarna hitam dan raut wajah lelah yang disembunyikan dalam bentuk peduli.

"Kamu juga cape ya keliatannya?" Tanya Lila.

"Secape-capenya aku, lebih cape lagi kalo liat kamu nyiksa diri sendiri..." Ujarnya tajam.

"Aku ga nyiksa diri sendiri... Aku bisa handle semuanya sendiri!"

"Ini nih, yang bikin aku cape.. fungsi aku buat kamu itu apa sih sebenarnya?"

Lila terdiam enggan menjawab pertanyaan berulang Gandi. Menurutnya rasa cinta kasih tidak selamanya harus memiliki fungsi seperti transaksional. Dengan kehadirannya saja sudah membuat Lila menjadi lebih ringan melangkahkan kakinya meskipun dunia sedang sempit.

Gandi mengerti gesture Lila yang merasa tidak nyaman akan pertanyaan berulangnya. Dia menyunggingkan senyum hangat dan menunjukkan sikap baik hatinya lagi dan lagi. Pengertian yang dibungkus sabar dalam lelah yang mereka berdua rasakan.

"Ga tau gimana, secapenya aku kalo kamu ada semuanya ga berasa berat..."

"Iya aku juga..."

"Aneh ya?"

"Iya"

"Kita sama-sama ga bergantung, tapi kamu ada buat aku aja itu udah cukup"

"Kamu cape ya sama yang ga pasti?"

"Aku cape kalo kamu hilang lagi..."

"Aku cape kalo kita saling ninggalin.."

Lila menunduk. Menahan air matanya jatuh. Gandi menyeruput teguk kopi terakhirnya. Dan memberikan genggaman hangatnya. "Dengerin aku kali ini, jangan nyerah sama keadaan ya, aku akan selalu ada!"

Lila merasakan tenangnya kali ini dibersamai dengan rasa hangat. 

Dua manusia luka.
Terbiasa menghadapi segala hal sendiri.
Dipaksa semesta untuk tidak saling bergantung.
Dipaksa saling mengisi.
Dipaksa saling kosong.
Hanya karena takut saling menambah luka.
Namun nyatanya,
Saling mengobati dan memperbaiki.



Bukan delusi dan ilusi.
Bukan halusinasi.
Bukan imajinasi.

Hanya rasa sederhana yang tidak semua mata mampu melihat dan merasa.



Bukan sekedar romantisasi seperti novel-novel romantis.


Lila dan Gandi, hanya menjalani apa yang mereka ingin jalani. Dalam menjemput dirinya masing masing untuk pulang ke rumah yang sama.

Bukan tentang sekedar.
Bukan kisah romansa dalam pernak pernik manis yang terlihat kasat mata.
Bukan intrik yang dipenuhi bisik berisik.



Karena rasa yang Khalila dan Gandi rasakan, 
Juga sedang kita rasakan. Hanya saja, tidak disadari.
Dan enggan dimaknai. 

...


...


...
...
~what ever the ending`im yours forever.









































 

0 komentar:

Post a Comment

Total Pageviews

Blogger templates

 
;