Saya melihat bagaimana manusia menimpang dan menindih dalam satu kata bantahan. Menjangkau remah remah bantuan dalam kosong akan harap namun diberi kaca sebagai pembanding. Situasi yang memamah biak akan pembalasan yang tidak sejajar terpapar akan kaji keadilan. Melupa rangkai bahwa kilau sebab selalu berawal dari akibat dalam hal tuai sebalik kata yang mudah dipelintir dalam berbagai cermin yang memantul kehendak kosong sejajar.
Jejaknya selalu ada dalam reka dan tempa yang mencadangkan bencana beraroma keuntungan dalam bingar kantung penuh harta dan untung.
Yang tidak terlihat oleh mereka, bagaimana air itu mengalir tepat sesuai sasar yang sudah diperhitungkan sejak awal pembabatan. Seperti filosofi sekali tepuk dua tiga pulau terlampaui? Entahlah.
Pola kelok air menjawab dengan pasti dalam hantaran bukti yang tidak lagi bisa didamaikan oleh dalih apapun karena "bukit dan gunung tidak pernah berpindah tempat berpuluh puluh tahun."
Pemimpin sejati tidak akan pernah takut airmatanya terlihat dalam hancurnya hati melihat rakyatnya sengsara. Tidak pernah berkeberatan kantung matanya membengkak menjawab berbagai tudingan yang tidak kasat kata.
Bumi memang sudah menua. Tapi ternyata hati manusia sebagian semakin membatu.
Lebih memilih sibuk menjatuhkan manusia lain dari pada membangun jiwa diri sendiri.
Memilih memenangkan kehendak pribadi dibanding saling menjaga kedamaian diri masing-masing dan khalayak. Menjatuhkan nilai diri demi suara namun mematungkan diri membaca bencana.
Jika tulisan ini membuat muak maka hempas saja.
Jika tulisan ini membuat berfikir, maka berhenti menghancurkan jiwa lain. Karena jiwa manusia rusak akibat ulah sendiri. Bukan akibat berbagai 'perencanaan dan skenario' yang dituliskan rapi demi melancarkan niat kotor menularkan virus kerusakan.
Yang sejatinya baik akan selalu dalam penjagaan meskipun berbagai skenario kotor berusaha dihasutkan kesana kemari.
"Bumi berputar pada porosnya bukan untuk satu manusia, bukan untuk satu golongan".
Ini bukan cuma tentang ini.
Jika ada yang tidak menyukai pemikiran saya, maka sukai pemikiranmu sendiri.
Tidak perlu berlelah diri memaksa saya satu pikiran dengan kalian.
Hanya manusia 'jernih' yang mampu memahami 'perbedaan pemikiran."
Dan hanya manusia "keruh" yang tidak mampu berhadapan dengan "perbedaan."
...
Tidak apa jika tak sepaham.
Apa-apa jika???
*Jawab sendiri.






0 komentar:
Post a Comment