Aku bilang, aku bukan menginjak kerikil tajam, namun aku melangkah diatasnya...
Bukan untuk menginjak...
Namun untuk merasakan lagi apa itu rasa.
Melawan arah tidak selamanya melawan angin kan?
Jika lentera mati maka akan gelap kan?
Namun tidak...
Aku memang tidak melawan arah,pun melawan angin... aku mencari arah dan mengikuti angin untuk dipandu.
Lenteraku mungkin mati sesaat...
bukan untuk padam selamanya.
Namun mengisi ulang bahan bakar.
Agar terangnya bisa semakin benderang.
Bukan lagi tanya kenapa.
Tapi aku tau aku merasa.
Damai bertanya dan bermonolog.
Lunglai menjawab tebak dalam makna.
Namun terbelah dalam membelah pinta.
Aku bukan analogi.
Aku bukan kata kata.
Aku bukan juga digma dalam paradoks penuh rahasia berbait sastra.
Aku irama tanpa nada.
Sunyi tanpa hening.
Terang tanpa gemerlap.
Dan aku,
memiliki tulus penuh makna yang penuh.
tidak lagi mengaduh.
tidak lagi membasuh.
Namun bersiap akan utuh.
Setidaknya,
ruang baru akan selalu menjadi tuju.
Bukan tempat untuk lari bertampah bisu.
Ringan benak...
Mungkin masih berat berpijak.
Namun hati dan suara kisi nurani,
hanya semakin menajamkan intuisi.
Para pendahulu menyebutnya cinta.
Aku menyebutnya 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚋𝚊𝚛𝚞.
Rasa yang belum pernah kukenali dalam lamat.
Rasa yang menumbuhkan hal baru.
Jika ini sia-sia.
Maka akan kuminta pada tuhanku.
untuk semakin memperbanyak rasa ini
dalam garis tuntunan yang penuh.
Menunjuk diri sebagai petuah dalam nasihat terdampak.
Bukan lagi mengusaha akan riak gelombang saling tanya.
Namun paham...
Bahwa rasa, tidak akan mudah kalah, oleh para petarung kehidupan kan?
maka...
fabiayyi ala irabbikuma tukadziban...
semangat hai diri...
semangat hai kamu...
semangat aku..

0 komentar:
Post a Comment