Apr 8, 2013 0 komentar

Where are u passion?


Pernah tidak hati kita berkata disaat-saat yang tidak terpikirkan oleh kita untuk mendengarnya,, berkata seperti ini. 'Seharusnya saya begini,,' atau 'seharusnya saya tidak melakukan ini,, Atau 'Tidak seharusnya saya ada disini,," Pernah?

Beberapa waktu lalu saya mengalami hal ini. Posisinya saat itu saya sedang standby bekerja dan kebetulan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya sudah selesai. Its done! Jadi saya punya sedikit waktu senggang untuk menarik nafas teratur tanpa diganggu oleh suara terengah-engah yang dihasilkan oleh rasa kelelahan dan punya waktu jeda untuk menghapus peluh yang sempat mengucur didahi saya. Yup,, its time for me to take a breath! Disaat inilah tiba-tiba saja hati saya berucap dan menuntut otak saya berputar untuk mencari jalan keluarnya.

"Seharusnya saya tidak ada disini,," begitu kata hati saya saat dia mulai lelah. Tapi kemudian otak saya yang berputar membentaknya. "Jika kamu tidak ada disini lalu harusnya kamu berada dimana?"

Dar!!! 

Gemuruh logika dan keinginan batin saya yang tidak tahu apa maunya ini berhambur menjadi satu. Kening saya berkerut meronta-ronta untuk meminta jawaban atas pertanyaan logika saya Karena saya sendiri tidak tahu jawabannya apa, lalu spontan saya bertanya pada teman yang ada disebelah saya,,,"Mba, pernah ga mba berfikir kalau seharusnya mba itu ga ada disini,,"

"Maksud kamu win?" Tanya dia balik. Saya tau dia pasti tidak siap dengan semburan pertanyaan saya yang terkadang tidak masuk akal. Terlihat dari keningnya yang mengerut sama seperti saya tadi.

"Iya,, mba pernah ga berfikir kalau seharusnya nih,, sekarang,, saat ini,, detik ini,, ga ada disini,, tapi di tempat lain dan melakukan hal lain,,gitu,, pernah ga mba?"

Mba Titin pun tersenyum begitu mengerti maksud dari pertanyaan saya. Matanya lalu menerawang sejenak sebelum menjawab pertanyaan saya. "Pernah,,"

Mata saya langsung berbinar begitu tau, ternyata bukan saya saja yang pernah berfikir demikian. Dan saya langsung ingin tau jawabannya.

Mba titin tersenyum melihat gelagat saya,, "Saya seharusnya tidak ada disini win,, seharusnya saya tidak bekerja,, seharusnya saya dirumah,, ngurus anak-anak,, suami,, ngurus rumah,,"

"Terus?" Tanyaku. Entah jawaban apa yang ingin saya dengar atau pertanyaan seperti apa yang ingin saya lontarkan lagi, yang jelas saya ingin mendengar dia tetap berbicara mengenai ini.

"Ya,, jalanin ajalah,, Nanti juga akan ada waktunya,,Bersyukur aja sama Gusti ALLAH,kita masih dikasih pekerjaan,sementara banyak diluar sana yang susah dapat kerja,," Tuturnya. Kemudian dia melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat terhalang oleh pertanyaan tiba-tiba saya tadi. Dan terlihat sekali dari gerak geriknya, dia mencoba mengacuhkan pertanyaan saya sekuat tenaga. Sebegitu beratkah pertanyaan sederhana saya baginya? *angkat bahu alias ga tau.

Saya kembali temenung. Saya belum puas akan penuturan yang mba titin deklarasikan baru saja. Saya masih merasa haus akan jawaban.

Tapi saya mulai mengerti maksudnya. Passion. Tujuan,,Bahkan sampai saat ini. Saya belum tau apa tujuan hidup saya sebenarnya.Saya tidak tau dimana passion saya saat ini berada.  Banyak sekali keinginan saya yang belum tercapai. Tapi kalau sudah tercapai lalu apa?? Apa lagi yang akan saya lakukan kalau sudah tercapai? Itu artinya, keinginan-keinginan saya bukan passion saya. Tapi ambisi saya,,

Terus? Bagaimana cara saya menemukan tujuan hidup saya? Pemikiran yang tiba-tiba muncul seperti ini, disaat-saat yang membuat saya semakin 'galau' istilah gaul sekarang. Harus bagaimana saya menyingkapinya? Puzzle-puzzle hidup saya semakin sulit ditemukan. Teka teki yang bikin kepala pusing tujuh ribu keliling! RRRGGhhhh,,,!!!!

"WHERE ARE YOUUUUUU PASSION????!!"



# at list,, everybody know,, salah satu pemulung harapan lagi galau saat ini,, (T.T')
anyone can help?? (-.-?')


Apr 5, 2013 0 komentar

Jemput aku,,

Jam 19:15 dihubungi.

(Wanita) 'sayang aku udah pulang,, kamu jemput aku ya?'
(Pria) 'Kamu udah pulang? Kok ga ngabarin sih? Aku ada acara sama temen sejam lagi ya'
(Wanita) 'Iya ga papa sayang,, aku tunggu,,"
(Pria) 'Lagian kamu pulang kok mendadak sih? Ga ngasih tau lagi!'
(Wanita) 'Maaf sayang,, kakakku lagi di kantor,papa lagi sakit,, lagian kan yang pengen pertama aku liat itu kamu,,maaf kalau aku nyusahin kamu,, ='(
(Pria) 'Iya ga papa,, tunggu 45menit lagi ya,,'
(Wanita) 'Haloo? Halo sayang? kok mati sih!'
(Pria) -melihat handphone yang terus berbunyi, ia pun mematikan hp nya-

Jam 22:00 

Setelah acara temannya selesai, sang pria pun langsung menjemput si wanita. Tapi mereka tidak bertemu. Dia mengaktifkan hpnya ada 5 sms yang diabaikannya. Sang pria lalu menghubungi sang wanita, namun tidak aktif. Lalu sang pria mengirim sms.
(Pria) 'Kalau masalah ga jemput, kenapa pake matiin hape sih!!!'

Sang Pria lalu menyusul sang wanita kerumahnya,namun tak ada orang. Dia lalu pulang, tapi terhalang oleh sebuah mobil ambulans yang tiba-tiba datang.

(Kakak sang wanita) 'Kemana aja kamu?! Adikku dirampok saat dia menunggu kamu bukan menunggu kematiannya! Berkali-kali aku sms menyuruh dia pulang, tapi dia tetap bersikeras menunggu kamu! Kalau gini jadinya,, siapa yang kehilangan dia? Bukan hanya kamu! Tapi kita semua!'

Sang pria hanya bisa mematung tanpa bersuara. Tangannya gemetar saat dia membuka sms-sms yang sudah dia abaikan dari tadi.

20:25  sayang,kok hapenya dimatiin sih?
20:30  sayang,udah belum acaranya?
20:40  sayang sepertinya ada yang merhatiin aku,,
20:45  Aku takut,, kamu dimana?
20:50  Ya udah,, aku pulang sendiri, sebenernya aku pulang cuma mau ngucapin happy anniversary buat hubungan kita, makanya aku minta jemputnya sama kamu,, Makasih sayang buat waktu 2tahunnya. i love you,, maafin aku sayang.

"Ketika penyesalan menjadi satu-satunya cara 
untuk menunjukkan betapa kita mencintainya,,,,"

* * *

Just for your information,,, Cerita diatas bukan saya yang menulis, kisah ini saya dapat dari pesan bbm yang dikirimkan salah satu sahabat terbaik saya. Saya fikir, sayang sekali jika kisah menyentuh dan menampar ini tidak saya bagikan dalam postingan blog ini. Jadi, apa yang kalian fikirkan setelah membaca kisah diatas?
 
Penyesalan,,?
 
Yup! Yang terbersit dibenak saya, tepat setelah saya membaca kisah ini adalah penyesalan yang luar biasa yang dialami sang pria. Bagaimana bisa sang pria begitu teganya membiarkan wanita yang mencintainya setulus hati untuk dibiarkan menunggu begitu saja hanya untuk hal yang tidak jelas. Jika sang pria tersebut tidak memiliki rasa penyesalan, berarti dia adalah pria paling tidak punya hati sedunia akherat!!
 
Saya juga pernah mengalami penyesalan seperti ini. Penyesalan yang begitu besar yang mampu membuat saya mengemis kepada tuhan untuk kembali memutar waktu yang terlewat. Penyesalan yang mampu membuat saya memaki-maki nurani saya sendiri. Penyesalan yang mampu membumihanguskan hati saya yang sekeras batu. Penyesalan yang menjadi salah satu tempat saya untuk belajar apa itu namanya kehilangan.
 
Terkadang,, 
kita justru merasa memiliki ketika kita sudah tidak menggenggamnya lagi.
 Atau,, 
terkadang kita merasa adalah miliknya ketika dia sudah pergi meninggalkan kita. Keduanya sama,, 
sama-sama pahit dan menyedihkan.

Sudah beberapa kali dia mencoba mendekati saya. Namun hati saya yang sekeras batu, dan terlalu angkuh untuk mengakui hal yang bergejolak didalam batin saya, menolaknya mentah-mentah. Dia tidak gentar ketika saya menolaknya untuk kesekian kali, tapi saya juga tidak pernah luluh untuk begitu saja menerima segala rasa yang dia ingin berikan pada saya. Semakin dia berusaha keras, semakin keras juga hati saya untuk menolaknya. Ya. Hati saya memang sekeras batu saat itu, tapi bukan tanpa alasan. 
Setelah berbulan-bulan, akhirnya saya merasa menang dalam mempertahankan keangkuhan saya dan dia kalah dalam menaklukan kerasnya dinding hati saya. 

Dia lalu mendekati perempuan lain. Perempuan lain yang menurut saya tidak pantas untuknya! Dia seharusnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada wanita yang dia dekati saat itu. Karena saya tau, dia adalah laki-laki yang baik yang sedang dimanfaatkan. Anehnya disituasi yang seperti ini, perlahan tapi pasti, saya mulai merasakan dia mulai meruntuhkan dinding hati ini tanpa usaha apapun. Sedikit demi sedikit saya mulai merasa merindukannya yang sering mengganggu ketenangan saya akhir-akhir lalu. Dan saya merasakan luka yang membuka tanpa sengaja, saat saya melihatnya berjalan beriringan dengan wanita lain ketika berpapasan di sebuah escalator. Jujur, saat itu saya merasa hati ini panas menggelegak, namun tertahan oleh tembok gengsi untuk mengakui ini semua.

Dihari-hari kemudian saya masih sanggup untuk bergengsi-gengsi ria mengakui yang sebenarnya terjadi. Sekuat tenaga, saya menutupi rahasia hati ini agar tidak ada siapapun yang tau. Tidak peduli cercaan dan cemoohan teman-teman akan keangkuhan saya. Saya tetap tidak mengakui apa yang saya rasakan. Sampai beberapa bulan kemudian, ketika tiba waktunya untuk saya merasakan penyesalan yang sekaligus menampar hati saya yang sekeras batu menjadi kerikil-kerikil kecil. Saya mendapat sebuah kabar duka yang jelas-jelas diluar keinginan saya. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan motor saat mengantar wanita lain itu pulang kerumahnya.

Lalu apa yang saya rasakan setelah mendapat kabar ini? 

Penyesalan luar biasa yang  membuat langit diatas saya seolah runtuh. Penyesalan yang mampu membuat sekeliling saya menjadi tidak ada artinya. Penyesalan yang mampu membuat saya menjadi manusia paling merasa bersalah sejagat raya. Dan penyesalan yang mampu membuat dinding hati saya sekaligus hati saya yang berada didalamnya hancur berkeping-keping. 

Tidak ada yang bisa saya lakukan setelah itu, selain penyesalan dan penyesalan yang mampu membuat saya mengemis-ngemis pada tuhan untuk memutar waktu kembali ke masa dimana saya membangun dinding hati yang sekeras batu. Ingin rasanya saya kembali ke masa lalu dan menampar wajah saya saat itu untuk tersadar akan apa yang sudah saya lakukan adalah hal paling menyebalkan. Hal ini membuat saya membenci diri saya dimasa itu.

Dari situ saya belajar banyak hal. Untuk tau bagaimana bersikap tepat dan tau bagaimana menjadi manusia yang tidak mejadi sekeras batu. Sikap keras hati saya yang saya bangun saat itu karena pernah merasa dikecewakan, yang saya kira justru akan melindungi hati saya dari terjangan-terjangan rasa kecewa untuk yang kesekian kali,ternyata sangat tidak berguna sama sekali. Justru malah menjerumuskan saya ke dalam rasa kecewa yang lebih parah dari sebelumnya. Yang membuat saya menjadi seorang penyesal keadaan. Dan, andai-andaipun mulai mengerubungi saya disambut oleh penyesalan-penyesalan yang semakin meramaikan relung hati saya. Ada hal yang belum sempat terselesaikan yang membuat saya menjadi perenung setelahnya. Yang memaksa saya belajar akan makna kehilangan,, memiliki,, lembut hati,, dan yang terpenting penyesalan,,,. Penyesalan yang membuat saya mengemis pada tuhan untuk dapat kembali memutar waktu. 

ingatlah hal ini,,


"Walaupun ribuan kali waktu yang bisa diputar kembali,,
tidak akan bisa membuat kita mengerti apa itu makna penyesalan,, 
dan memperbaiki hati,,,"
-winda-



 

0 komentar
Apr 4, 2013 1 komentar

Para langit,para pohon dan para burung,,


Langit,, bisakah kalian memberiku jawaban?
"apa?"

Ribuan jawaban dari segala pertanyaanku,,

"luapkanlah,,,"

mengapa burung-burung bisa dengan bebasnya menari dan melayang disekitarmu? apakah mereka tidak takut akan amarah petir dan kesedihan hujan yang bisa saja tiba-tiba datang?

"Itu karena mereka memiliki sayap-sayap yang disela bulu-bulu indahnya juga terurai harapan manis untuk hari-hari berikut mereka,,,dan,, mereka selalu menjadikan resiko sebagai sahabat dan guru mereka,,"

Aku pernah mendengar mereka berkicau nyanyian tentang cinta dirindangnya pepohonan,,
Apa mereka merasakan juga apa yang aku rasakan?

"rasakan apa?"

Cinta

"tanyakanlah kepada pepohonan yang selalu setia mendengarkan kicau nyanyian burung-burung cantik itu,,dia yang lebih tau,,"

Pohon,, bisakan kalian memberiku jawabannya?

"Ya,,"

apa jawabannya?

"Ya mereka merasakan cinta,,"

benarkah? mereka merasakan cinta dan berani terbang mendekati langit meskipun bisa saja mereka diserang  kesedihan hujan dan amarah petir,, kenapa?

"Karena mereka memiliki kami para pohon,,"

apa maksudnya?

"Kami para pohon adalah sahabat burung-burung,, sahabat yang bersedia menjadi pelindung saat hujan dan badai,, sahabat yang setia mendengar kicauan senandung kesedihan dan kicauan nyanyian kegembiraan,, kami selalu ada untuk mereka para burung jika ingin hinggap didahan kami,, oleh karena itulah mereka berani terbang tinggi,, karena mereka punya kami yang selalu mendorong mereka untuk terbang tinggi dan merasakan cinta,,"

 Lalu aku memanggil para burung dan bertanya pada mereka,,

Hai burung,, pohon sudah memberikan banyak sekali pada kalian,, apa yang sudah kalian berikan pada mereka?

Burung tertunduk sedih tidak bisa menjawab,, lalu pohon dengan lantang berseru,,

"Burung sudah memberikan kepercayaannya kepadaku dengan membangun sarang didahan-dahanku,, Burung menjadi pelipur lara dan menghapus kebosananku dengan kicauan indahnya,, Dan ia mengajarkanku apa itu harapan,, itulah persahabatan,,"

burung lalu memeluk hangat pohon-pohon dengan rasa terima kasih yang indah terlantun dari kicauannya.

Akupun sudah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku. 
Sebuah pertanyaan dan jawaban yang rumit namun menjadi sederhana begitu ketulusan hati sudah menjadi bagian dari masing-masing mereka.

 Lalu langit bertanya,,

"Burung,, lalu apa itu cinta yang sering sekali kau bisikan padaku?"

Burung melepaskan pelukannya pada pohon untuk menjawab pertanyaan langit.

"Cinta itu seperti kamu langit,,bebas dan luas,, namun ada amarah disekelilingmu seperti petir dan hujan yang meneteskan air mata,, tapi setelahnya muncul pelangi indah yang warna warninya membuatku hidup,,setelah itu muncul matahari kebahagiaan mengantarkan segala harapanku,, cinta itu sepertimu langit,, tidak tertebak apa yang akan kita hadapi selanjutnya,, tapi terus menuruti alur angin yang berhembus membawamu mengarungi samudra biru kehidupan diatas sana,,"

"for our best friends,, love n hug,,"
 -winda-

0 komentar

Terima kasih kepada mister kulinerku,,


Aku mengingatmu,,
Dalam serpersekian waktu dan beberapa rutinitas,,
Matamu sama sepertiku,,
Mata yang terluka akan kekecewaan,,
Dan mata memaksakan diri harus melakukan sesuatu agar tidak terpuruk.
Aku tau,,
Karena kita sama,,

Sudah beberapa waktu berlalu dan dua kali pertemuan itu tidak bisa kulupakan,,
Aku masih berharap jika suatu hari nanti kita bisa bertemu,,

Dan aku bisa menyampaikan rasa terima kasih ini,,

Terima kasih,,
Karena telah membuka jalan untukku agar bisa membuat langkah baru,dengan arah yang berbeda dari masa laluku,,
Terima kasih,,
Karena membiarkanku memulung harapan disekitarmu,,
Terima kasih,,
Karena merelakanku menjadikanmu obat mujarab untuk menutup lukaku yang sulit sembuh sebelumnya,,
Terima kasih,,
Karena telah mengenalkan hal yang baru untukku saat itu,,
Terima kasih,,
Atas kedalaman matamu yang menjadi cerminan untuk melihat bagaimana aku saat itu,, 
karena kita tidak akan bisa menilai siapa kita jika kita tidak bercermin dan melihat kedalam diri kita sendiri,,
Terima kasih,,
Karena kamu menjaga siapa kamu sebenarnya dariku,,
dan,,
Oh iya,,
Terima kasih 
atas soto gebrak yang gebrakannya membuat hal baru dihadapanku,,
atas es pocong yang menjadikanku tidak takut sekedar berkenalan denganmu,,
atas soto ceker yang memberikan kelezatan rasa baru dalamku menilai diriku sendiri,,

Aku berterima kasih tulus dari dalam hatiku,,
Dan jika waktunya nanti sengaja atau tidak, kita bertemu,,
Aku berharap bisa melihat tatapan mata yang berbeda dari awal kita bertemu,,
Aku ingin melihat warna warni bahagia yang tenang didalamnya,,

Salam hangat
-winda- 


 

 
0 komentar

Pemulung Harapan,,,




Salah satu sifat manusia yang tidak bisa dihilangkan namun ingin sekali saya hapus dari dalam diri saya adalah ketidak puasan.Ya,, saya tau itu tidak mungkin. Karena ini  sudah menjadi dasar sifat manusia. Tapi apa kita menyadari? Apa yang melatar belakangi sifat ketidak puasan ini? Itu adalah keinginan yang berbuah harapan. Keinginan demi keinginan,, Harapan demi harapan,, pelan namun pasti membuat kita haus akan sebuah pencapaian.

Ya,, selama ini, jujur saja. Saya haus akan sebuah pencapaian. Pencapaian yang akan membuat orang tua saya bangga. Pencapaian yang tidak akan ada lagi yang bisa merendahkan kami sebagai orang yang kalah. Bukan kalah dalam pertaruhan, tapi kalah dalam melawan suara-suara dalam hati saya yang terus berteriak saya adalah orang yang kalah. PECUNDANG. Itu hal terbesar yang mengganggu saya.

Banyak dari kalian yang sudah berhasil melewati ini semua dan menjadi pemenang. Menjadi seorang pemenang dalam pencapaian harapan. Selamat! Dan saya tau ada dari kalian juga merasakan seperti saya yang BELUM, bukan tidak, menjadi pemenang dalam sebuah pencapaian. Jangan berkecil hati. Terus saja melangkah,, nikmati telapak kaki telanjang kalian menginjak kerikil-kerikil tajam permasalahan yang terinjak,, nikmati semua tanjakan yang membuat kaki kalian lelah dan ingin rasanya berselonjor diatas sofa angan-angan yang empuk. Jangan hiraukan suara-suara mereka yang sumbang menahanmu untuk tetap melangkah. Tapi dengarkan bisikan-bisikan halus pemberi semangat mereka yang mencintaimu, bukan yang membencimu. Dari situ kita tau, membuat jejak baru atau mengikuti jejak lain yang sudah ada untukmu melanjutkan langkah. Inilah yang namanya perjalanan menuju harapan.

Suatu waktu sepulang dari sebuah perjalan. Saya dan seorang kawan melewati sebuah pembuangan sampah. Disana terlihat beberapa pemulung sampah yang dibawah terik matahari terus giat mengais rejeki yang disediakan tuhan untuk mereka. Tiba-tiba teman saya mengeluarkan komentar yang tidak mengenakkan dan mengganggu sekali ditelinga saya. "Ya ampun liat deh tu orang,, panas-panas gini masih aja nyari sampah! pasti dulu dia sekolahnya males, makanya masa depannya cuma jadi seorang pemulung sampah!" lalu dia tersenyum sinis. Saya malas membalas komentarnya yang merendahkan orang lain seperti itu. Tapi semakin didiamkan dia semakin menjadi. "Lagian tu orang, males banget nyari kerja,, kalau jadi pemalas, itulah akibatnya, hidupnya jadi gembel,pengemis,,," tambahnya.

Telinga saya, hati saya mulai berasap mendengar omongannya yang tidak mengenakkan. Akhirnya mulut ini pun beraksi. "Kamu mau ga ngelakuin yang orang itu kerjain sekarang?" tanya saya. "Iiiih! Males banget!" sahutnya cepat. "Berarti kamu yang pemalas. Dia walaupun panas terik seperti ini tetap melakukan pekerjaannya. Sedangkan kamu? Kamu sendiri kan yang bilang kamu malas?" 

Mendengar perkataan saya, temanku itu mengernyitkan dahi. Kemudian menatap saya dengan sinis,"Yang pemulung itu dia,, bukan aku!"

Aku menarik nafas panjang untuk bersiap mengeluarkan argumen keduaku. "Memangnya kamu pikir, dia mau menjadi seperti itu? Siapapun manusia di bumi ini tidak ada yang memiliki cita-cita serata tanah,pasti kita semua memiliki cita-cita setinggi angkasa. Tapi, tidak semua orang bisa mewujudkannya semudah itu. Banyak hal yang harus dilakukan untuk itu semua,ditambah semua kesulitan didalamnya. Siapa kamu yang bisa menghakimi kehidupan mereka? Memangnya selama ini kamu yang membiayai sekolah mereka? Sehingga membuatmu mudah mengeluarkan perkataan yang jika mereka mendengar akan membuat mereka sakit hati dan marah. Seolah-olah selama ini kamu yang membiayai hidup mereka dan terkesan mereka telah menyia-nyiakan  jasamu itu? Memangnya apa jasamu selama ini untuk kehidupan mereka?" Tanyaku.

Teman saya itu mendengus kesal mendengar perkataan saya dan tidak membuat saya gentar untuk melanjutkan perkataan saya selanjutnya.

"Mereka sama seperti kita,,memangnya kita apa? Kita juga pemulung,mereka pemulung,, pemulung harapan.  Dari setiap sampah yang mereka kumpulkan terselip ribuan harapan didalamnya. Begitu juga kita,, disetiap pekerjaan yang kita kerjakan pastinya terselip juga harapan yang ingin dicapai. Lalu apa bedanya mereka sama kita? Kita sama-sama pemulung harapan. Tidak pantas kita merendahkan siapapun seperti itu." 
 
Entah bagaimana rangkaian kata Pemulung harapan keluar dari mulut saya sewaktu itu. Spontan saya menyebutkan kalimat itu dan memikirkannya dimalam-malam hari saya berikutnya. 
Pemulung harapan,, ya, tidak ada yang salah dengan kalimat ini,,
Bukankah kita setiap harinya mengumpulkan harapan yang baru,,
Memulung satu harapan yang satu dan satu lagi di tumpukan kehidupan kita? Tidak ada yang salah dengan kalimat ini,, Kita memang seorang pemulung harapan di tumpukan hari-hari kehidupan ini kan?
 




"Bahkan sebuah tunas dikegersangan tanahpun adalah seorang pemulung harapan,, Harapan untuk tumbuh dan bermanfaat di setiap helai daun kehidupan,,"
winda-pemulung harapan.

 

Apr 1, 2013 0 komentar

Demi waktu,,


aku tidak mau melihat detik
aku hanya ingin mendengar detak
detak yang membuktikan eksistensiku dalam sebuah kehidupan,,
menyebabkan ku menghembuskan kabut tipis saat ku berbicara di udara dingin
dan memberiku harapan akan keindahan lautan bebas kedamaian

setetes sisa percikan air memiliki itu,,
walaupun hanya setetes,, namun waktu memperhitungkannya,,
memperhitungkan akan prosesnya tuk memilih menjadi embun ataupun hujan,,
Atau memberinya waktu untuk ia menghapuskan dahaga kepada makhluk hidup yang tersisa,,,

seberkas cahaya juga memiliki itu,,
Walaupun hanya sebuah siluet,, namun waktu memperhitungkannya,,
memperhitungkan kapan ia akan menghilang menjadi kelam,,
atau kapan waktu yang tepat ia menjadi benderang,,

waktu,,
memberiku masa lalu yang terbentuk abstrak menjadi masa lalu dan ribuan kenangan indah,,
memberiku harapan penuh kerlipan mata yang menantangku tuk menggapainya,,
tidakkah waktu memiliki segalanya?
tidak,,
ia tidak memiliki aku,,
aku yang menentukan waktuku,,
ia memang membuaikanku,,
tapi aku bukan milik waktu,,,
karena waktu adalah yang harus kugunakan,,
demi waktu yang sudah bergulir membuaiku,,
aku disini tidak melawanmu,,
aku disini bersejajar denganmu melewati semuanya
perlahan,, demi detak dan detik selanjutnya,,,
for us -winda-
0 komentar

TIME

    




      Jadi gini rasanya? ketika kita dituntut untuk memiliki banyak waktu dalam segala aspek, sedangkan kita justru malah merasa tidak punya banyak waktu,,, 
     Yes! Thats what im feeling right now! Kesel banget rasanya kalau seluruh dunia seolah menguras banyak waktu kita,padahal bukan itu sebenarnya yang terjadi. Ketika saya mengatakan seluruh dunia seolah menuntut saya, saya sadar itu berlebihan. Siapa saya yang sepertinya dunia menganggap saya penting dan membutuhkan saya. Memang untuk beberapa aspek kehidupan seperti agama, keluarga, pekerjaan, sahabat,hobi, cita-cita,,,itu saya sebut dengan 'seluruh dunia' bagi kehidupan saya. Dan ironisnya,, dalam satu hari ada 24 jam, dan dalam 24 jam itu,, semua aspek tersebut menuntut saya untuk  bersikap adil dalam membagi-bagi waktu 24 jam tersebut.
        Hari ini lagi-lagi saya gagal melakukan sikap adil tersebut. Saya menghabiskan sepanjang hari ini untuk 'TIDUR'. Yes, hal paling malas dan paling bodoh saya lakukan untuk menghabiskan waktu. Saya sadar akan hal itu,,tapi raga saya tidak mau memaklumi kesadaran saya. Raga saya haus akan kata 'ISTIRAHAT' dan kenyang akan kata 'LELAH'. Tubuh ini didera perasaan tidak enak dan lemas, oleh karena itulah kesadaran saya kalah akan keinginan raga saya. Raga ini menuntut untuk saya tertidur pulas, namun alam sadar saya terganggu akan berbagai hal,, pekerjaan,hobi,cita-cita,tujuan hidup dan menghitung waktu yang terbuang.Sehingga saya terbangun dalam perasaan, sudah berapa banyak waktu yang saya sia-siakan untuk tertidur. Saya benar-benar tidak menikmati tidur saya. Ditambah lagi saat saya membuka layar monitor blackberry, banyak pesan masuk dari bos saya yang mempertanyakan masalah pekerjaan, bahkan mempertanyakan masalah libur saya. Disinilah! Emosi saya memuncak. Saya marah kepada diri saya, bagaimana bisa malah saya yang diperbudak waktu?? Seharusnya saya yang memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Seharusnya saya bisa menikmati libur saya dengan hal-hal yang bermanfaat dan tidak terganggu dengan pikiran hal pekerjaan! Saya yakin, sebagian orang pasti pernah merasakan apa yang sedang saya rasakan saat ini.
        Saat ini, emosi saya sudah mencapai puncaknya. Saya letih dengan segala macam yang menuntut saya mengejar-ngejar waktu. Saya ingin menikmati hidup saya tanpa satupun keluhan didalamnya. Karena hal ini lah saya menjadi memikirkan apa tujuan hidup saya sebenarnya? Apa saja yang sudah saya capai sejauh ini? Jawabannya? Belum ada. Karena sibuk akan tuntutan pekerjaan. Saya melupakan cita-cita saya. Saya ingin menulis dan ingin menjadi manusia yang berani. Berani lantang meneriakkan keinginan saya yang belum terpenuhi dan yang tidak berani saya ucapkan. Sampai kapan saya akan terus merasa tidak punya waktu untuk menulis? Sampai kapan saya akan membohongi diri saya sendiri untuk mengacuhkan kata hati saya. Sampai kapan saya akan kalah oleh waktu yang membentengi saya untuk menulis? jawabannya? Cukup sampai disini! karena mulai saat ini. Saya akan terus menulis. Tidak peduli apapun, karena cita-cita saya adalah menulis, dan menjadi inspirasi siapapun yang membaca tulisan saya. Thats why, i start this time. I start writing from here,, not from beginning because i already did before.

Total Pageviews

Blogger templates

 
;