May 2, 2013

-cuplikan- Kanaya,,

 
Saat ini aku berfikir lebih baik diam. Hanya itu satu-satunya senjataku untuk menghadapi keadaan yang semakin hari semakin memberikan tekanan bermilyaran ton dipundak ini.

"Nay!!! Naya!! Aduhh lo tuh kalo dipanggil denger donk!" Farhan menepuk pundakku.
Langkahku terhenti karenanya. Sambil melepas earphone yang menempel ditelingaku, aku menaikkan alis.
"Pantess gw teriak-teriak dari tadi lo ga denger,,"
"Ada apa sih han?" tanyaku tidak memperdulikan keluhannya. Dan memperdulikan sekian banyak mahasiswi yang memperhatikan kami dari jauh. "Jangan lama-lama, ntar fans lo pada cemburu tuh,," 
 "Apa sih Nay? Lo kali yang cemburu,,"
"Sama lo? Males banget,,"
"Ya ga sama gue lah,, sama mantan lo,,"
Mendengar kata-kata 'mantan' membuatku malas melanjutkan perbincangan kami. Aku lalu memutuskan untuk kembali mendengarkan musik yang tadi sempat tertunda oleh Farhan, tapi tiba-tiba tanganku ditahan ketika hendak memasang kembali earphone yang kulepas, dan tanganku ditarik semena-mena oleh manusia yang menyebalkan dihadapanku ini.

Iya, aku tau yang namanya sahabat itu satu penderitaan dan satu kebahagiaan. Tapi untuk kali ini, aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Termasuk dengan Farhan, sahabatku yang kukenal dari pertama kali kami chatt di YM.

Teh manis panas sudah dihadapan mataku, dan ditambah nasi gila tanpa cabai. Farhan yang memesankan untukku, dan dia juga yang langsung menyajikannya untukku.
"Mau lo sogok kaya gimanapun,, gue ga akan curhat apa-apa sekarang,," celetukku dan membuang muka.
"Makan,," Farhan mendorong piring ke arahku.
"Ga,,"
"Lo tuh kenapa si Nay? Seorang Kanaya Pratiwi ga pernah kaya gini,, disuruh makan susah!" Farhan pindah posisi kesebelahku.
Aku tetap pada pendirianku, tidak akan menyentuh yang ada dihadapanku saat ini.
"Makan,, gue tau dari kemaren lo ga makan!"
Aku menatap matanya. "Tau dari mana?"
"Ga penting,, sekarang lo makan, abis itu gue anter lo pulang ke kosan!"
"Oke gue makan,, tapi gue ga akan curhat apapun sama lo,,"
"Gue nyuruh lo makan bukan buat ngorek cerita ke elo,, tapi karena emang lo ga makan sama sekali dari kemaren! Sekarang lo makan,, dari pada sakit ntar ga ada yang ngurusin! Udah tinggal sendirian di kosan, jauh dari orang tua,, bukannya ngurus diri sendiri yang bener,, malah nyiksa diri,,"
"Oke,, deal"

Hari-hariku kedepan,, semakin berantakan. Kuliahku tidak fokus. Setiap aku melihat Dewa dengan kekasih barunya. Aku semakin terpendam. Aku mulai memutuskan untuk mencari jalan yang aman untuk kenyamanan hatiku. Mulai membangun tembok tebal kepada siapapun yang ada di sekelilingku. Menghalangi atau lebih tepatnya menghindari serbuan pertanyaan-pertanyaan yang enggan kujawab. Diam. Itu hal terbaik yang kulakukan saat ini selain menangis sendirian diatas loteng kamarku pada malam hari.

Aku tau Farhan berusaha untuk masuk kedalam benakku. Membuka kunci yang kusembunyikan di selubung kabut kemarahanku pada Dewa. Tapi tetap saja, aku tidak mau berusaha dekat dengan siapapun, termasuk sahabatku sendiri. Gandhi salah satu temanku yang sering memilih duduk disebelahku saat dikelas. Seorang perempuan yang penuh dengan atribut etnik ditubuhnya, memiliki hidung mancung, dan mata indah nan mempesona. Serta sepasang bibir yang tidak henti-hentinya berbicara memberi nasihat-nasihat bijak yang hanya numpang lewat ditelingaku. Ia berusaha menyihirku dengan segala kepercayaannya yang diluar nalar untuk mengurangi kesedihanku, namun dibalik itu semua, ia selalu ingin tau semua tentangku. Mengorek-ngorek hubunganku dengan Dewa dan Farhan. Well, Gandhi adalah salah satu fans berat Farhan dikampus.
 
Sampai tiba disaat takaran emosiku sudah tidak bisa tertampung oleh keheningan suaraku. Aku ingin meluapkan semua curahan hati ini kepada sahabatku Farhan. Farhan yang selama ini selalu setia ada disebelahku disaat-saat yang bahkan aku tidak menyadari kalau aku membutuhkannya tapi dia tau apa yang kubutuhkan. Seorang mahasiswa yang namanya tenar seantero kampus karena otak dan penampilannya yang penuh karisma. Membuat banyak mahasiwi-mahasiswi senior ataupun yang junior menjadi fansnya, tapi dia tetap selalu ingin berada disampingku. Disampingku yang membosankan, dan tidak pernah menggubris karisma yang orang lain elu-elukan kepadanya. 

Aku ingin Farhan ada disini. Aku ingin berbagi dengannya saat ini. Aku ingin meluapkan semua yang membebani pundakku akhir-akhir ini kepadanya. Kepada seorang manusia yang bisa memberikan komentar dan menyambut pembicaraanku. Bukan kepada buku diari yang hanya bisa menampung tulisanku dan enggan memberikan solusi yang harus kulewati. Aku ingin Farhan mendengar semua keluh kesahku, selain buku diari ini.

Kampus hari ini sedang ramai dengan acara bakti sosial yang diadakan mahasiswa senat. Berbagai kegiatan amal dan bazaar murah, memenuhi lapangan kampusku. Aku melihat sekeliling dan mencari-cari sosok Farhan diantara banyaknya manusia-manusia sibuk ini. Tapi mataku tidak menemukan siapa yang kucari. Aku mengeluarkan telepon selulerku mencoba menghubunginya, menanyakan keberadaan posisinya. Tapi sia-sia. Tidak aktif. 

Tadinya aku mulai menyerah untuk bertemu dengan Farhan saat ini. Tapi aku tau, Gandhi adalah fans berat Farhan, dan dia pasti tau ada dimana idolanya saat ini. 

"Gandhi,," Teriakku begitu ku melihat sosoknya keluar dari perpustakaan.
"Kenapa Nay? Tumben lo manggil gue?" sahutnya ketika ku menghampiri.
"Liat Farhan ga?"
Gandhi mengernyitkan dahi terlihat heran,"Tuh,, lagi sama anak-anak dipemadam kelaperan,,emang ada apaan?"
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung lari menuju kantin tempat Farhan berada.

Seperti biasa, kantin selalu penuh. Mataku kembali mencari sosok yang kukenal. Itu dia, aku sangat mengenali sosoknya meski hanya dari belakang.

Tapi,, aku juga mengenali sosok yang ada disebelahnya. Dewa. 

Tadinya aku hendak berbalik dan menangguhkan keinginanku. Tapi entah apa yang menahanku, aku malah ingin sekali mendengarkan isi pembicaraan mereka yang sepertinya serius. Diam-diam aku memilih duduk dibelakang mereka dan memesan minuman.

"Sekarang mana han janji lo? Gue udah ngelakuin apa yang lo suruh,, gue udah mutusin Kanaya,,"
"Gue mau batalin semuanya Wa,," Farhan berkata datar.
"Apaan? Seenaknya aja lo,, kenapa? Lo naksir sama Kanaya? Ambilll brooo,, ga butuh gue, yang gue butuh duit!"
"Gue udah bilang kan gue batalin semuanya!" Farhan mulai meninggikan suaranya, membuatku semakin leluasa mendengar.
"Sekali taruhan tetap taruhan! Ga bisa dicancel-cancel lah! Mana sini duitnya!"

Dari pantulan kaca wastafel didepan sana, aku bisa melihat Farhan mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit dari saku kemejanya. Dan menyerahkannya ke Dewa.

Melihat kejadian ini, tanpa sadar mataku berair. Hatiku, harga diriku seperti sebuah sampah yang sama sekali tidak mereka perhitungkan keberadaanya. Terlebih bagi Farhan. Gemuruh kemarahanku mulai melimpah dan menuntutku untuk enyah dari ini semua. Ingin sekali rasanya aku menampar wajah Farhan dengan segala kebaikannya yang palsu,yang selama ini dia tunjukkan padaku. Tapi aku urungkan itu semua. Aku ingin pergi dari sini. Lenyap dari mereka semua.

"PRANG!!" ough,, aku malah menyenggol orang yang membawa pesanan minumanku. Menarik semua mata untuk mencari tau siapa yang membuat keributan. Termasuk mata milik Farhan yang penuh keterkejutan.

Aku segera lari sebelum Farhan menghampiriku. Aku melewati perpustakaan, melewati Gandhi yang melihatku dengan penuh tanda tanya, melewati kelas, melewati lapangan, aku berlari secepat langkahku bisa. Aku muak dengan semua yang ada dikampus ini. Dengan segala ingatan pahit didalamnya. Aku rasa setelah ini aku akan minta untuk pindah kampus. Dan tidak akan mau lagi melangkahkan kakiku dikampus ini. Dan aku tidak ingin melihat dua manusia kejam itu!

"Nayaaa awaaass!!!!"
Aku mendengar banyak orang berteriak memanggilku, tapi aku tidak menggubrisnya. Sampai tiba-tiba,,
"BUGH!!!!" ada benda keras menghantam tubuhku. Membuat tubuhku ambruk seketika. Aku tidak bisa merasakan kakiku, kepalaku mendadak berat. Mataku menangkap bayang-bayang Farhan disampingku memanggil namaku berbarengan dengan sesuatu yang menarik dari ujung kaki sampai keujung kepala. Aku masih mendengar sayup-sayup,, lalu lama-lama semua menghilang.

* * *
 

Hai diariku...
Malam ini adalah puncak dimana aku lelah memendam semua hal sendiri,,Lelah membangun jembatan kepada semua yang mau peduli padaku..
Rasa sakit dikhianati oleh Dewa membuat amarahku menjadi menentukan sikapku untuk tidak mempercayai siapapun,, membiarkan aku menyiksa diriku sendiri menjadi batu yang keras hati dan tidak ingin berbicara pada siapapun,,
Aku ingin menghentikan ini semua diariku,,
Hanya memendam ini semua sendiri malah akan semakin menyiksaku..
Aku ingin menemui Farhan,, sahabatku yang selalu ada meskipun aku merasa tidak membutuhkannya,tapi dia selalu tau aku membutuhkannya direlung hati ini..
Aku tau rasa nyaman dihatiku ini menandakan hatiku mulai terbuka untuknya,,

Aku akan menemuinya dan meminjam bahunya sebentar saja untuk menuntaskan tangisku,,
Entah kenapa, aku tau Farhanlah yang akan menjaga hatiku yang sudah penuh dengan retakan kekecewaan,,
Menjaga dengan hati-hati,,

Aku yakin besok aku akan menemukan senyumanku kembali disampingnya,,
 -Kanaya-

 * * *

"Gue tau gue salah,, udah bikin lo selama ini sakit hati atas sikap gue,, gue tau udah jadiin lo taruhan itu salah,, ini sebenarnya bukan salah Farhan Naya,, ini salah gue,, Gue yang maksa dia buat jadiin lo taruhan,, itu gue lakuin biar dia termotivasi untuk jujur hal yang sebenarnya ke lo,, dia cinta sama lo,, dan kebetulan waktu itu gue juga butuh uang buat bayar kuliah,, makanya gue manfaatin situasi ini semua,, gue tau gue salah Naya,, gue sadar gue salah, kalo lo mau hukum gue terserah,, apapun hukumannya gue terima,, Ini salah gue,,"

"Kenapa lo ga nahan dia, waktu dia mau ngejar gw?"

"Ga bisa Nay,, dia yang milih buat ngejar lo,dan berusaha nyelamatin lo waktu itu,,"

"Ini semua salah gue Wa,, harusnya gue ga lari waktu itu,, harusnya gue dengerin penjelasan dia,,"

"Lo harus tegar Naya,, Farhan pernah bilang, lo itu wanita yang tegar,,"

"Gue cuma bisa berharap dia tau isi hati gue,,"

"Dia tau Nay,, ini buku diari lo,dia udah baca semua pas lo koma dirumah sakit,, Waktu itu dia belum ketahuan ngalamin pendarahan, kondisinya keliatan baik-baik aja,, makanya dia bisa baca diari lo,, tapi setelah itu, dokter bilang ada pendarahan di kepalanya akibat benturan,, dan itu baru ketawan belakangan,, dan semuanya terlambat,,"



kepada KANAYA-ku

mungkin kamu tidak menemukan senyumanmu disampingku pada hari itu,,
Tapi aku ingin kamu ingat satu hal,,
Aku mencintaimu Kanaya

Maaf sudah mengecewakanmu
-Farhan- 


0 komentar:

Post a Comment

Total Pageviews

Blogger templates

 
;