May 12, 2013

Perjalanan kecil,,

'never judges by its cover,,'


 
               Hari kamis lalu, saya melakukan sebuah perjalanan kecil dengan sahabat lama saya. Sahabat lama saya yang selalu setia menantikan postingan-postingan blog saya ini. Kami memiliki kegilaan dan minat yang sama. Sama sama menyukai pengamen bertato yang hinggap di bus kami saat perjalanan pulang. Dan sama-sama menyukai membuat cerita dan membaca sebuah cerita. Kami sama-sama memiliki hati yang sensitive dan memiliki kelakar yang diluar nalar kami sendiri. Tapi bukan berarti kami tidak memiliki perbedaan. Kami berbeda dalam beberapa hal, pandangan, nasib dan terlebih lagi jalan hidup.

                Dari sebuah perjalanan kecil kami ini, saya mendapat sudut pandang berbeda darinya. Kami duduk dipadang rumput diKebun Raya Bogor, untuk melepas lelah sejenak setelah perjalanan menuju kesini. Di sini lah saya mulai mengorek-ngorek apa sebenarnya yang membuat teman saya ini memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan kita sebagai manusia.

                Rujak buah, gorengan, kacang bogor, botol berisi minum, dan kamera menemani cengkrama kami. Dengan sambil sibuk dengan kameranya, sahabat saya ini mulai menceritakan sedikit demi sedikit rahasia hatinya yang sempat tersimpan dan memenuhi benaknya yang siap meluap. Bagaimana beratnya ‘sebuah awal’ saat ia mulai menempuh dan melangkah menuju pilihan hidupnya yang sekarang, dan bagaimana sulitnya ‘sebuah keikhlasan’ saat hina dina, cemoohan, cibiran menggerayanginya saat ‘sebuah awal’ itu terjadi.

                Dari mendengar kisahnya yang ia lantunkan dengan penuh kekuatan ketabahan. Saya sungguh ingin ada disituasi dimana saat sahabat saya ini menjalani ‘sebuah awal’ sewaktu menentukan jalan hidupnya. Ingin rasanya saya ada di garis depan ketika mereka yang merasa dirinya sempurna, dan merasa memiliki hidup yang lurus tanpa ada peperangan batin yang dashyat didiri mereka, yang membuat mereka menjadi merasa berhak untuk menghakimi sahabat saya ini dan merendahkannya. Ingin rasanya saya ada disana dan mengunci mulut mereka dengan sebuah kalimat. “Apa jasa besar yang sudah kalian lakukan untuknya, sehingga membuat kalian merasa berhak mengurusi pilihan jalan hidupnya?”  Jangankan jasa, yang ada malah ejekan-ejekan miring yang kalian lontarkan terhadapnya. Tidak perlu jasa, setidaknya kata-kata sopan yang santun dan tidak merusak jiwanya. Pernah?

                Saya bukan tipe manusia yang suka merendahkan orang dan menghakimi orang lain dengan jalan hidupnya, karena saya sadar, saya hanya manusia yang diciptakan oleh Tuhan saya untuk fokus dalam hidup ini bukan untuk menghakimi orang lain. Tapi untuk menghakimi diri sendiri dan berkaca pada diri sendiri, kesalahan apa yang sudah saya lakukan dan apa yang harus saya lakukan untuk membenahi hal buruk dalam diri saya dan segera menentukan sikap aman agar tidak merugikan orang lain dan saya sendiri. Dari sanalah saya menjadi bisa terbuka dan menerima semua perbedaan tanpa harus men-judge dan mencemooh orang lain. Daripada mencemooh bukankah saling mengingatkan lebih baik? Saling menasihati itu lebih indah dari pada saling menghina, iya kan?

                Kita tidak pernah tau apa isi kepala orang lain. Kita tidak pernah tau peperangan batin terhebat yang seperti apa yang pernah orang lain alami. Kita juga tidak pernah tau apa saja yang sudah dialami sepanjang hidup orang lain selama ini untuk mencapai titik dimana dia sedang hidup saat ini. Dari itu semua, dimana letak dasar kita untuk merasa berhak  menjadi hakim hidupnya? “

                Dengan santunnya dia, sahabat saya ini malah dengan tersenyum dan penuh keikhlasan bilang,  “inilah hidup,,,”.

                Dengan segala perbedaan yang ada pada pilihan hidupnya. Itu tidak membatasi saya untuk terus menjadi sahabatnya selama ini. Kami memang memiliki jalan hidup dan pandangan yang berbeda. Dari situ saya belajar.

Tidak ada yang salah dalam masing-masing pilihan hidup manusia.

Masing-masing itu hanya memiliki karakter yang berbeda, seperti perbedaan wajah pada setiap manusia didunia ini.

Tidak ada yang salah jika si A memiliki wajah yang beda dari si B. Pilihan hidup itu kan beraneka ragam, bermacam-macam.

Keanekaragaman itu tidak ada yang salah.

Yang salah hanya bagaimana menjalankannya, apakah kita merugikan orang lain atau tidak?

Yang menjadi satu-satunya kesamaan dalam pilihan hidup kita itu hanya ada satu,

Y a i t u,,

kita akan selalu dihadapkan pada dua pilihan.

               

Dalam setiap alur kisah hidupnya yang ia ceritakan. Saya terus memperhatikan raut wajahnya. Saya bisa melihat raut malu hati, yang terselip sedikit di relung rasa puasnya akan pilihan hidupnya. Dan saya juga bisa melihat betapa rasa lelah telah membuatnya menjadi seseorang yang teguh, dan kuat dalam menghadapi kerikil-kerikil tajam yang pernah menancap di hatinya yang mulai mengeras. Lihat kan? Sahabat saya ini, juga mengetahui dan menerima segala resiko yang ia hadapi dalam menentukan pilihan hidupnya. Jika saya yang menjadi dia saat ini. Saya mungkin tidak akan bisa sekuat dia menopang beban batin yang menohok.

 

Saya bukannya sedang membangga-banggakan teman saya sendiri. Saya hanya mencoba untuk melihat lebih dalam, dan mengerti sudut pandang yang ada pada dirinya. Bukan untuk menghakiminya atau memanfaatkannya sebagai bahan tulisan saya. Saya justru ingin mengambil pelajaran dan segala atribut kekuatan positif yang ia pancarkan melalui sorot matanya. Dibalik segala kelakar gilanya, canda tawa dan kejahilannya. Dia adalah sosok manusia yang memiliki sepaket PRO dan KONTRA dalam kehidupan yang dia pilih. We share a lot of things! Cerita dan sudut pandang hanya sebagian kecil.

 

Tuhan menciptakan saya dengan segala atribut pernak pernik kecilnya. Begitu juga kamu, Tuhan menciptakan kamu dengan segala kamu dan semua yang ada pada diri kamu. Kamu adalah sarana untuk dirimu. Bagaima cara kamu menggunakan sarana yang kamu milikilah yang akan dinilai tuhan nantinya. Entah menjadi dosa atau menjadi pahala. Itu semua tuhan yang menentukan diakhirnya nanti tergantung dari apa yang kamu lakukan. Yang terpenting adalah, bagaimana kita dengan apa yang kita punya saat ini, bagaimana saya dengan apa yang harus saya lakukan saat ini. Ingin berbuat baik atau berbuat jahat? Ingin bermanfaat untuk orang lain atau menjadi manusia yang tidak berguna? Ingin menolong atau hanya menutup mata? Well,, dalam perjalanan kecil ini, saya mendapat begitu banyak pembelajaran.

 

Pohon-pohon besar dan rindang, padang rumput yang menghampar,tanaman-tanaman cantik yang disajikan dikebun raya Bogor ini, tidak bisa saya nikmati dengan totalitas. Bukannya saya tidak bersyukur akan sajian alam yang tuhan sudah ciptakan. Tapi saya sedang meratapi akan ketidak siapan saya melakukan perjalanan ini. Pertama, saya tidak membawa notebook, dimana seharusnya kata sahabat saya, akan banyak inspirasi positif yang akan mengalir jika kita berada di tengah-tengah alam. Kedua, ini yang paling mengganggu,,, Saya merasa terganggu dengan resleting saya yang selalu turun dan membuat saya menjadi tidak nyaman. *sumpah deh,, resleting rusak itu GA BANGET! hikkss

 

Separuh waktu saya habiskan hanya untuk menanyakan peniti kesana kemari. Bayangkan ditengah kebun berpohon-pohon besar seperti ini, dimana saya harus mencari satu buah peniti? Saya menjadi merasakan bagaimana menjadi seorang pengemis peniti. Setiap ada yang lewat siapapun, saya hadang dan saya tanyakan,, ‘punya peniti ga?’ hikss,,.

 

Mungkin ini yang dirasakan oleh mereka para peminta-peminta diluar sana. Rasa malu harus meminta-minta tapi terlindas oleh rasa kebutuhan yang jauh lebih besar dari pada rasa malu. Ya,, saya merasakan itu juga teman,, maaf kepada teman-teman peminta-minta diluar sana yang pernah membuat saya risih akan kehadiran kalian. Sekarang, saya tau bagaimana rasanya menjadi seorang seperti kalian,, hikss.

 

Dari sekian banyak kakak-kakak berhijab yang saya hadang dan saya tanyakan,, ‘punya peniti ga?’.  Akhirnya ada juga yang mau berbagi peniti sama saya, kakak yang satu ini rela ngubek-ngubek dan ngeluarin semua isi tasnya hanya untuk mencari sebuah peniti yang saya butuhkan. Disinilah! Saya merasa sangat tertolong sekali! Betapa hanya satu buah peniti bisa menjadi sangat berharga dan menolong disaat-saat genting seperti ini. Heee,, agak lebay sedikit. ^^

 

Thanks a lot yaaa untuk ukhti yang mau memberikan sedekah berupa peniti untuk saya, dimanapun dikau berada,, semoga Allah membalas kebaikanmu berlipat-lipat ganda. Aminn ya Rabb,,. Saya juga berterima kasih kepada sahabat saya yang tadi saya ceritakan diatas. Dia mau merelakan dirinya bermalu-malu ria mencari-cari peniti untuk saya ditengah-tengah hutan belantara kebun raya Bogor. ^^ Thanks a lot! Atas bantuannya, dan atas traktirannya. Ditunggu traktiran-traktiran selanjutnya,, hahaha,, LOL.

 

Kesimpulan dari cerita saya ini, hanya sebuah kalimat.

Be a part of moment NOT only be watch or JUDGES of moment!
 

Karena hanya dengan menjadi bagianlah kita bisa dengan adil dan bijaksana melihat sudut pandang yang berbeda.

-Winda-

2 komentar:

Post a Comment

Total Pageviews

Blogger templates

 
;