Hari kamis lalu, saya melakukan sebuah
perjalanan kecil dengan sahabat lama saya. Sahabat lama saya yang selalu setia
menantikan postingan-postingan blog saya ini. Kami memiliki kegilaan dan minat
yang sama. Sama sama menyukai pengamen bertato yang hinggap di bus kami saat
perjalanan pulang. Dan sama-sama menyukai membuat cerita dan membaca sebuah
cerita. Kami sama-sama memiliki hati yang sensitive dan memiliki kelakar yang
diluar nalar kami sendiri. Tapi bukan berarti kami tidak memiliki perbedaan.
Kami berbeda dalam beberapa hal, pandangan, nasib dan terlebih lagi jalan
hidup.
Dari
sebuah perjalanan kecil kami ini, saya mendapat sudut pandang berbeda darinya.
Kami duduk dipadang rumput diKebun Raya Bogor, untuk melepas lelah sejenak
setelah perjalanan menuju kesini. Di sini lah saya mulai mengorek-ngorek apa
sebenarnya yang membuat teman saya ini memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan
kita sebagai manusia.
Rujak
buah, gorengan, kacang bogor, botol berisi minum, dan kamera menemani cengkrama
kami. Dengan sambil sibuk dengan kameranya, sahabat saya ini mulai menceritakan
sedikit demi sedikit rahasia hatinya yang sempat tersimpan dan memenuhi
benaknya yang siap meluap. Bagaimana beratnya ‘sebuah awal’ saat ia mulai
menempuh dan melangkah menuju pilihan hidupnya yang sekarang, dan bagaimana sulitnya
‘sebuah keikhlasan’ saat hina dina, cemoohan, cibiran menggerayanginya saat ‘sebuah
awal’ itu terjadi.
Dari
mendengar kisahnya yang ia lantunkan dengan penuh kekuatan ketabahan. Saya
sungguh ingin ada disituasi dimana saat sahabat saya ini menjalani ‘sebuah awal’
sewaktu menentukan jalan hidupnya. Ingin rasanya saya ada di garis depan ketika
mereka yang merasa dirinya sempurna, dan merasa memiliki hidup yang lurus tanpa
ada peperangan batin yang dashyat didiri mereka, yang membuat mereka menjadi
merasa berhak untuk menghakimi sahabat saya ini dan merendahkannya. Ingin
rasanya saya ada disana dan mengunci mulut mereka dengan sebuah kalimat. “Apa jasa besar yang sudah kalian lakukan
untuknya, sehingga membuat kalian merasa berhak mengurusi pilihan jalan
hidupnya?” Jangankan jasa, yang ada
malah ejekan-ejekan miring yang kalian lontarkan terhadapnya. Tidak perlu jasa,
setidaknya kata-kata sopan yang santun dan tidak merusak jiwanya. Pernah?
Saya
bukan tipe manusia yang suka merendahkan orang dan menghakimi orang lain dengan
jalan hidupnya, karena saya sadar, saya hanya manusia yang diciptakan oleh
Tuhan saya untuk fokus dalam hidup ini bukan untuk menghakimi orang lain. Tapi
untuk menghakimi diri sendiri dan berkaca pada diri sendiri, kesalahan apa yang
sudah saya lakukan dan apa yang harus saya lakukan untuk membenahi hal buruk
dalam diri saya dan segera menentukan sikap aman agar tidak merugikan orang
lain dan saya sendiri. Dari sanalah saya menjadi bisa terbuka dan menerima
semua perbedaan tanpa harus men-judge dan mencemooh orang lain. Daripada
mencemooh bukankah saling mengingatkan lebih baik? Saling menasihati itu lebih
indah dari pada saling menghina, iya kan?
“Kita tidak pernah tau apa isi kepala orang
lain. Kita tidak pernah tau peperangan batin terhebat yang seperti apa yang pernah
orang lain alami. Kita juga tidak pernah tau apa saja yang sudah dialami
sepanjang hidup orang lain selama ini untuk mencapai titik dimana dia sedang hidup
saat ini. Dari itu semua, dimana letak dasar kita untuk merasa berhak menjadi hakim hidupnya? “
Dengan
santunnya dia, sahabat saya ini malah dengan tersenyum dan penuh keikhlasan
bilang, “inilah hidup,,,”.
Dengan
segala perbedaan yang ada pada pilihan hidupnya. Itu tidak membatasi saya untuk
terus menjadi sahabatnya selama ini. Kami memang memiliki jalan hidup dan
pandangan yang berbeda. Dari situ saya
belajar.
Tidak ada yang salah dalam masing-masing
pilihan hidup manusia.
Masing-masing itu hanya memiliki
karakter yang berbeda, seperti perbedaan wajah pada setiap manusia didunia ini.
Tidak ada yang salah jika si A
memiliki wajah yang beda dari si B. Pilihan hidup itu kan beraneka ragam, bermacam-macam.
Keanekaragaman itu tidak ada yang
salah.
Yang salah hanya bagaimana
menjalankannya, apakah kita merugikan orang lain atau tidak?
Yang menjadi satu-satunya kesamaan
dalam pilihan hidup kita itu hanya ada satu,
Y a i t u,,
kita akan selalu dihadapkan pada dua pilihan.
Dalam
setiap alur kisah hidupnya yang ia ceritakan. Saya terus memperhatikan raut
wajahnya. Saya bisa melihat raut malu hati, yang terselip sedikit di relung
rasa puasnya akan pilihan hidupnya. Dan saya juga bisa melihat betapa rasa
lelah telah membuatnya menjadi seseorang yang teguh, dan kuat dalam menghadapi
kerikil-kerikil tajam yang pernah menancap di hatinya yang mulai mengeras.
Lihat kan? Sahabat saya ini, juga mengetahui dan menerima segala resiko yang ia
hadapi dalam menentukan pilihan hidupnya. Jika saya yang menjadi dia saat ini.
Saya mungkin tidak akan bisa sekuat dia menopang beban batin yang menohok.
Saya
bukannya sedang membangga-banggakan teman saya sendiri. Saya hanya mencoba
untuk melihat lebih dalam, dan mengerti sudut pandang yang ada pada dirinya.
Bukan untuk menghakiminya atau memanfaatkannya sebagai bahan tulisan saya. Saya
justru ingin mengambil pelajaran dan segala atribut kekuatan positif yang ia
pancarkan melalui sorot matanya. Dibalik segala kelakar gilanya, canda tawa dan
kejahilannya. Dia adalah sosok manusia yang memiliki sepaket PRO dan KONTRA
dalam kehidupan yang dia pilih. We share a lot of things! Cerita dan sudut
pandang hanya sebagian kecil.
Tuhan
menciptakan saya dengan segala atribut pernak pernik kecilnya. Begitu juga
kamu, Tuhan menciptakan kamu dengan segala kamu dan semua yang ada pada diri
kamu. Kamu adalah sarana untuk dirimu. Bagaima cara kamu menggunakan sarana
yang kamu milikilah yang akan dinilai tuhan nantinya. Entah menjadi dosa atau
menjadi pahala. Itu semua tuhan yang menentukan diakhirnya nanti tergantung
dari apa yang kamu lakukan. Yang terpenting adalah, bagaimana kita dengan apa
yang kita punya saat ini, bagaimana saya dengan apa yang harus saya lakukan
saat ini. Ingin berbuat baik atau berbuat jahat? Ingin bermanfaat untuk orang
lain atau menjadi manusia yang tidak berguna? Ingin menolong atau hanya menutup
mata? Well,, dalam perjalanan kecil ini, saya mendapat begitu banyak
pembelajaran.
Pohon-pohon
besar dan rindang, padang rumput yang menghampar,tanaman-tanaman cantik yang
disajikan dikebun raya Bogor ini, tidak bisa saya nikmati dengan totalitas.
Bukannya saya tidak bersyukur akan sajian alam yang tuhan sudah ciptakan. Tapi
saya sedang meratapi akan ketidak siapan saya melakukan perjalanan ini.
Pertama, saya tidak membawa notebook, dimana seharusnya kata sahabat saya, akan
banyak inspirasi positif yang akan mengalir jika kita berada di tengah-tengah
alam. Kedua, ini yang paling mengganggu,,, Saya merasa terganggu dengan
resleting saya yang selalu turun dan membuat saya menjadi tidak nyaman. *sumpah deh,, resleting rusak itu GA BANGET! hikkss
Separuh waktu saya habiskan hanya untuk
menanyakan peniti kesana kemari. Bayangkan ditengah kebun berpohon-pohon besar
seperti ini, dimana saya harus mencari satu buah peniti? Saya menjadi merasakan
bagaimana menjadi seorang pengemis peniti. Setiap ada yang lewat siapapun, saya
hadang dan saya tanyakan,, ‘punya peniti ga?’ hikss,,.
Mungkin ini yang dirasakan oleh mereka para
peminta-peminta diluar sana. Rasa malu harus meminta-minta tapi terlindas oleh
rasa kebutuhan yang jauh lebih besar dari pada rasa malu. Ya,, saya merasakan
itu juga teman,, maaf kepada teman-teman peminta-minta diluar sana yang pernah
membuat saya risih akan kehadiran kalian. Sekarang, saya tau bagaimana rasanya
menjadi seorang seperti kalian,, hikss.
Dari sekian banyak kakak-kakak berhijab yang
saya hadang dan saya tanyakan,, ‘punya peniti ga?’. Akhirnya ada juga yang mau berbagi peniti
sama saya, kakak yang satu ini rela ngubek-ngubek dan ngeluarin semua isi
tasnya hanya untuk mencari sebuah peniti yang saya butuhkan. Disinilah! Saya
merasa sangat tertolong sekali! Betapa hanya satu buah peniti bisa menjadi
sangat berharga dan menolong disaat-saat genting seperti ini. Heee,, agak lebay
sedikit. ^^
Thanks a lot yaaa untuk ukhti yang mau
memberikan sedekah berupa peniti untuk saya, dimanapun dikau berada,, semoga
Allah membalas kebaikanmu berlipat-lipat ganda. Aminn ya Rabb,,. Saya juga
berterima kasih kepada sahabat saya yang tadi saya ceritakan diatas. Dia mau
merelakan dirinya bermalu-malu ria mencari-cari peniti untuk saya
ditengah-tengah hutan belantara kebun raya Bogor. ^^ Thanks a lot! Atas
bantuannya, dan atas traktirannya. Ditunggu traktiran-traktiran selanjutnya,,
hahaha,, LOL.
Kesimpulan dari cerita saya ini, hanya sebuah
kalimat.
Be a part of
moment NOT only be watch or JUDGES of moment!
Karena hanya dengan
menjadi bagianlah kita bisa dengan adil dan bijaksana melihat sudut pandang
yang berbeda.
-Winda-



2 komentar:
hah?
hahaa,,
Post a Comment