Dan kita pun menyaksikan banyak yang memperjuangkan keadilan namun luruh entah kemana hilang dari edaran kekuasaan. Berbagai proyek mangkrak manusia manusia yang mengaku berdaulat pada rakyat faktanya hanya mengeruk untuk untuk kantong pribadi. Dan semua hasilnya didapat dari rakyat yang berjuang dengan peluh keringat hasil suci upaya mereka mencari nafkah halal yang kemudian digelapkan untuk kemewahan para pejuang kekayaan demi citra dan polemik sosialita.
Berbagai kubu dibentuk untuk saling serang namun mereka aman dengan kemewahan fasilitas nomor satu yang dibiayai lewat pajak yang mereka peras dari rakyat?
Benar kah?
Issue terkini jika pajak dibesarkan dan dinaikkan akan menjadi keuntungan bagi rakyat itu sendiri. Benar kah? Sedangkan mental para pemangku jabat saja masih berkutat dalam adu outfit branded luar negara dan meminggirkan para pelaku brand lokal yang belum memiliki spotlight. See?
Menaikkan pajak keputusan tepat? Tergantung. Jika mental para pemangku wewenang masih dipenuhi obsesi kesejahteraan diri dan keluarga sendiri dan golongan sendiri saya rasa ini tidak akan efisien. Jika wewenang masih disalahgunakan dalam sistem yang bobrok, akan semakin merusak tatanan. Tidak perlu kisruh membandingkan dengan negara lain. M a s i h j a u h. Dari segi mental aja jauh sekali rasanya.
Jika jembatan saja masih banyak yang hanya cuma terbuat dari kayu bambu dipelosok. Bahkan ada yang tidak memiliki jembatan. Keadilan? Dahlah.
Kita hidup dalam dunia yang tidak melulu harus muncul dilayar kaca kan?
Dimana wibawa hanya didapat dalam kisah kisah inspiratif didalam layar yang dipertontonkan untuk sanjungan bukan untuk inspirasi (*disclaimer, tidak semua ya) bukan dibalik layar, benar?
Jika sebagai manusia pribadi kita terbiasa dan membiasakan diri segala hal untuk selalu terlihat dan disaksikan banyak orang dalam berbagai hal. Maka sistem kepemimpinan yang tulus akan runtuh fondasinya. Wewenang tanpa layar akan semakin menggila dalam kesemena-menaan. Betul?
Dari pemikiran sekecil ini, saya rasa kita sudah bisa berfikir dan menarik kesimpulan yang linear dengan realita sistem yang mereka lakoni saat ini.
Mari berpikir dua kali. Tiga kali. Empat kali? Atau ribuan kali?

0 komentar:
Post a Comment