May 5, 2013

Rasa



Ada hal yang bisa kita rasakan,tapi sulit dikatakan
Hal yang bisa dikatakan tapi sulit untuk dilakukan
Hal yang bisa dilakukan, tapi tidak bisa diungkapkan

Sebuah rasa yang kita yakini kepastiannya
Tapi tidak tau kapan hadirnya,,

Awalnya,
Langkah kaki ini selalu terhenti
Dan dengan pasti, kita justru memilih untuk menoleh kebelakang  dan mencari-cari..
Semakin sering kita menoleh,
semakin tidak bisa melihat apapun,,
 Bahkan sampai tidak tau apa yang ingin kita lihat dibelakang sana
dan tidak tau apa yang sebenarnya dicari,,

Seharusnya,, 
Kita tau kapan waktu yang tepat ketika harus menghentikan langkah dan menoleh,,
Lalu melihat masa lalu dsana,,
Memori indah yang dulunya penuh sayap-sayap mimpi,,
Rasakanlah kembali rasa itu,,

 Sulit memang untuk menjadi penghapus,,
Penghapus coretan jejak langkah yang ragu-ragu untuk menggapai nyata,

Kenyataan untuk mendapatkan yang jauh lebih baik 
hingga menerbangkan sayap mimpi semakin tinggi,,  adalah rasa yang jauh lebih menarik perhatian,
dari pada rasa letih untuk menoleh lagi dan tidak menemukan apapun dibelakang sana,,

Sebuah rasa letih yang hanya beralaskan sebuah keyakinan,,

Keyakinan RASA yang ingin dirasakan kembali,,
Dan menuntut 
kepekaan
untuk menyambuknya lebih keras,,
-winda-

# # #


Hari ini adalah hari kesekian yang menjemukan bagiku. Rutinitas yang selalu dilewati dengan kegiatan monoton dan membosankan. Memaksaku untuk terus mengingat kenanganku dengan Hanum. Kenangan yang harusnya sudah kukubur dalam-dalam pada hari H ketika aku mengucapkan janji setia dengan Alya dihadapan penghulu.

Memang pada awal hari pernikahanku, aku sudah bisa melupakannya dan memantapkan hatiku untuk memilih Alya yang selalu setia dan telah berkorban banyak untukku selama ini. Tapi akhir-akhir ini dia selalu muncul dalam kelebatan bayangan-bayangan visual dikepalaku yang tidak bisa kuhapus dengan mudah. Entah darimana ingatan itu muncul. Yang jelas saat ini, aku begitu haus akan segala informasi mengenai dia. Hanum, wanita yang pernah kucampakkan hanya untuk kesenanganku dengan orang lain yang sangat-sangat-ekstra sangat kusesali mati-matian. Seorang wanita yang penuh kesabaran menghadapi sikap bengalku waktu dulu. Dan satu-satunya yang selalu ada dihatiku. Melihat dia yang sekarang membuatku semakin tidak bisa melupakannya. 

"Woiy! Kerja! Malah buka-buka facebook lo Dim,, parah,," Banyu menepuk bahuku dan mengintip monitorku. "Gillllaaaaaa,, udah punya bini juga lu, masih aja buka-buka facebook mantan!"
"Berisik lu Nyu!" keluhku sambil terus mengorek informasi tentang Hanum lewat akun facebooknya, sampai-sampai saking ingin taunya, aku me-add friends yang berhubungan dengan Hanum disitu.
"Parah loo Dim! Sampe segitunya,," ternyata Banyu masih memperhatikan aktifitasku.
 Risih. Aku langsung mematikan komputerku.
"Lo masih segitunya ya sama si Hanum?" tanya Banyu mulai serius. "Inget Dim,, lo udah punya bini,,"
"Iya tau,,"
"Perasaan lo ke si Hanum gimana sih sebenernya?"
"Ga tau gue,,"
"Dimas,, Dimas,, lo tuh bener-bener ye,, kalo lo cintanya sama Hanum, kenapa lo merit sama si Alya?"
"Ga tau gue Nyu,,"
"Lo sayang kan sama Alya?"
"Iya gue sayang sama Alya,,"
"Sama Hanum?"
"Ga tau,,"
"Lo cinta sama Hanum,,?"
"Ga tau gue!"
"Lo cinta sama Alya?"
"Gue sayang sama Alya,,"
"Yang gue tanya lo c-i-n-t-a ga sama Alya,,??"
"Pokonya gue sayang sama Alya,, titik!"  
Banyu menaikkan satu alisnya.
"Apaan?"
"Itu artinya,, LO CINTA SAMA HANUUUUM! Selamat!!!"
"Ha? Lo gila kali ya Nyu? Gue dah punya bini!"
"Bukan gue yang gila,, tapi lo Dim,,"
Aku meraup wajahku, mulai frustasi dengan pernyataan Banyu.
Banyu menepuk bahuku. "Selamat Dim,,"
"Apaan sih lo?"
"Lo mencintai Hanum tapi merit sama Alya,, hebat,, eh tapi terus Hanumnya gimana?"
"Dia ga tau apa-apa Nyu,, Alya sama Hanum ga tau apa-apa tentang apa yang gw rasain sekarang,,"
Tiba-tiba Banyu menyibukkan diri dengan pekerjaan tanpa menggubris omonganku.
"Woy! Lu dengerin gue ngomong kek!"
Banyu malah mengedip-ngedipkan matanya seperti orang cacingan.
"Sakit lo Nyu,," 
"Eh Alya,,,, udah lama disini?" Banyu menyebut nama Alya. Aku langsung melihat jam tangan. Ini jam makan siang, biasanya Alya mengantarkan makan siang untukku di jam-jam seperti ini.
Aku menoleh kebelakang. Benar saja,, Alya sudah berdiri terpaku disana.
"Maaf aku ganggu pembicaraan kalian,, aku cuma mau nganterin kamu makan siang kaya biasanya,,nih! Aku langsung pulang,,permisi!" Dari tutur kata dan raut wajahnya aku tau Alya mendengar pembicaraan kami dari tadi.
Aku melotot ke arah Banyu begitu Alya pergi.
"Sori Dim,, gue ga sadar kalo Alya ada disitu dari tadii,, suer!" Banyu panik.
Aku memutuskan mengejar istriku. Aku tau dia pasti sedih sekali mendengar kenyataan pahit yang baru saja dia dengar. Tapi begitu aku berdiri hendak mengejar Alya, Banyu menahanku.
"Sekali lagi,, Selamat ya Dim,," Ucapnya dengan wajah serius.
Aku menoyor jidatnya dan langsung mengejar Alya.

***
  

     

1 komentar:

Post a Comment

Total Pageviews

Blogger templates

 
;