Menurutmu salah satu keindahan yang akan dirindukan oleh bumi jika menghilang itu apa? Bagiku adalah harum tanah basah saat hujan. Atau, sebenarnya air hujan itu sendiri yang akan dirindukan? Karena banyak yang bilang, tidak akan ada bunga jika tidak ada hujan. Benarkah? Atau jika ditelisik lagi, bagaimana jika semua tentang hujan ini, yang paling berperan adalah air? Bagaimana Tuhan menciptakan manusia yang sebagian besar tubuhnya terdiri dari kandungan air. Atau bagaimana peran air justru sebagai nafas kehidupan penting bagi makhluk hidup?
Aku masih diam disudut tepi teduh menunggu hujan reda. Memperhatikan bagaimana manusia berlarian sambil menutup kepalanya. Memperhatikan ada juga yang memandang keatas langit dan menikmati hujan dengan senyum penuh rasa bersyukur. Ada juga pedagang kaki lima yang mengumpat sambil tergopoh menutup dagangannya dengan plastik agar tidak basah. Memperhatikan bagaimana para pengendara motor bergegas memakai jas hujan plastik berwarna warni hingga membuat jalanan sekitar sedikit tersendat. Dan memperhatikan beberapa akamsi bermain hujan dengan sumringah dipinggir jalan penuh kesenangan.
Sedangkan aku? Diam saja, memperhatikan mereka sambil memikirkan banyak hal yang ada dikepala. Sambil sesekali meraih tetesan air yang jatuh dari atap pilar tempatku berteduh. Tiba-tiba teringat, pernah ada satu orang yang mengatakan bahwa hujan selalu mengingatkannya tentangku. Memangnya apa persamaanku dengan hujan? Sedangkan isi kepalaku saja penuh badai yang tidak pernah diam. Atau lebih tepatnya seperti gelombang laut, yang deburannya selalu mengikis karang. Namun dari makna kehadiran hujan itu sendiri pun sudah membuatku sadar, bahwa Tuhan selalu memberi petunjuk kehadirannya dari setiap cipta yang Tuhan perlihatkan kan?
...
"Biasa aja donk mukanya" sapa Nian.
"Lho kok lo belum pulang? Kok masih disini?" Tanyaku terkejut melihat kehadiran Nian.
Nian mengeluarkan payung dari dalam tasnya, "Iya tadi gw ngobrol dulu sama mas Fadil bentar, biasalah kerjaan. Dah lo balik bareng gw aja, searah kan kita? Gw anterin sampe rumah dari pada disini lo bengong ga jelas." Ajaknya.
"Ga ah, gw bisa pulang sendiri kok." Tolakku merasa tidak enak hati. Penyakit orang ga enakan gini kan ya?
"Ya ampunnnn sama gw masih aja ga enakan Reeee, hayu lah! Udah jam berapa nih? Ntar keburu malem. Tapi gw melipir bentar kerumah mertua gw ya, jemput anak gw."
Nian memaksa dengan penuh kendali. Padahal ya dikantor dia atasan yang super menyebalkan dimata teman-teman yang lain. Tapi buatku, Nian teman yang seru jika diluar pekerjaan. Nian lalu menarikku masuk ke payungnya dan kami berlari kecil ke parkiran.
Begitu didalam mobil, hawa pengap menguap masuk kedalam hidungku. Panas kendaraan terparkir dan hujan diluar membuat udara sedikit lembab. Nian bersiap menyalakan kendaraan dan ac mobil sambil sesekali mengibas roknya yang sedikit basah. Melepas sepatu highheelsnya mengganti dengan sendal swallow warna hitam yang selalu tersedia disitu. Iya aku memperhatikan sampai sedetail itu.
"Eh elo kenapa diem banget sih sekarang Re? Lagi ada masalah ya?" Tanya nian dengan lugas.
"Engga kok, aman aja." Jawabku singkat, lalu memasang sabuk pengaman.
Nian melajukan kendaraan keluar parkiran. "Cerita sama gw donk!"
Aku memperhatikan keluar jendela mobil, pedagang yang tadi ku lihat sedang bergegas membereskan dagangannya, sepertinya sedang bertengkar dengan salah satu ojol yang sedang berteduh.
"Rexi! Ya ampun! Gw dicuekin!"
"Hah? Eh lo liat deh, itu ada orang berantem!" Aku berusaha menggapai tangan Nian.
"EH lo gila, gw lagi nyetir kali dudul!"
"Eh iya maap, lupa. Itu kenapa ya sampe mereka bertengkar hujan-hujanan?" Tanyaku ke Nian.
"Yah elo nanya guwe?"
Aku nyengir sambil garuk garuk pelipis. "Hehe maap.. btw lo nanya apaan tadi?"
"Eh tadi lo bilang apa? B e r t e n g k a r ? Baku banget bahasa lo Re? Hwkwkwkwk."
"Lha? Emang harusnya apa?"
"Pake bahasa kekinian donk, ribut kek, berantem kek, bukan b e r t e n g k a r... Udah kaya pujanggawati sekali anda ini.. hahaha." Ledek Nian.
"Lo mah, gw salah terus!"
"Eh lo lagi kenapa si? Diem terus berapa hari ini dikantor? Ada masalah apaan?"
"Ga ada kok, aman.."
"Gw ga percaya, hayo keluarkan Re mumpung macet nih ujan, bisa ngobrol banyak kita!"
"Engga sih, gw lagi mikir aja kenapa bokap gw namain nama gw kaya nama cowo ya? Rexi. Jadi banyak yang plesetin ke Rexona lha... Tyrex lah... Yang lebih parah ada yang manggil gw pake kata kata pornografi.."
"Hah? Pornografi gimana? Siapa?"
"Itu mas fadil beberapa hari lalu abis meeting di forum manggil gw pake nama EH REXI! Disambungin sama dia jadi E R E X I ! Gw kesel tapi ga bisa marah!"
Nian tertawa puas sekali mendengar curhatanku. Aku memandangnya dengan kesal.
"Kan. Tau gitu gw ga usah cerita!"
"Ya maap maapin gw, tapi asli cerita lo lucu Re.." Nian menatapku sebentar dengan tatapan 'duh kasian temen gue'. Lalu lanjut fokus nyetir.
"Dari pemberian nama aja udah nyiksa batin sampe setua ini ya?" Keluhku.
"Rexello Ananta.. nama lo bagus! Asli nama lo tuh keren lho!"
"Iya tau, tapi buat nama panggilan kadang ga ngenakin."
"Ini serius nih, elo ga ada hal yang lebih penting lagi yang bisa lo pikirin selain nama panggilan lo sendiri yang diplesetin orang?"
"Banyak sih sebenernya.."
"Re, gw mau nanya satu hal sama lo nih..."
"Apa?"
"Menurut lo apa arti nama lo?"
"Kalo kata bokap REX itu Raja, Ello itu cahaya terang... Ananta nama gabungan bokap sama nyokap. Jadi Rexella itu Raja penuh cahaya terang, konon katanya sih begitu."
"Asli itu nama keren banget Re! Lo ga sadar? Lo tau ga sih hadiah terbaik dari orang tua itu apa? NAMA! Nama itu doa.. yang seumur hidup nempel terus dinafas lo Re.."
"Iya sih... Tapi gw dulu kalo diabsen sekolah sering dikira anak laki! Lagian kan gw cewe, masa dikasih nama alias RAJA? Ga nyambung!"
"Eh lo ga tau? Di tiktok beredar KTP yang tulisan namanya RANGER PINK! Padahal dia lakik! Lo bayangin gimana rasanya lo jadi dia."
Seketika aku tersenyum dan kami tertawa lepas.

0 komentar:
Post a Comment