Nov 1, 2025

ME VS ME



Apa benar? Cara mencintai manusia bergantung pada masa lalu manusia itu sendiri?
Apa benar? Cara manusia saling mengasihi bergantung pada bagaimana manusia itu hidup dan dikasihi dimasa lalunya?
Entah bagaimana cara dia berkembang, atau bagaimana cara manusia itu sendiri bertahan pada luka yang lalu?
Apa benar, anak kecil dalam diri mereka sungguh berperan besar pada cara mereka melihat dirinya sendiri saat mendewasa?
Sebenarnya, apa itu tumbuh?
Kenapa berbagai bentuk tumbuh yang dijalani selama ini selalu melewati ruang yang asing namun sangat dikenal dalam hening?
Ini apa namanya?
Kenapa cara mencintai saja harus sesuai standar yang orang lain buat?

...

"Kita harus utuh dulu, baru boleh saling mencintai" Ujarnya.
"Utuh gimana? Kenapa harus ada syarat sih? Ga bisa kalo unconditional aja?" Tangkisku.
"Apa jaminannya kalau kamu belum utuh dari trauma trauma kamu, kamu ga akan nyakitin aku kedepannya? Apa jaminannya kalau suatu hari nanti emosi yang kamu pendam dari kecil itu ga akan meledak di aku?"
"Kamu takut aku nyakitin kamu?" Mataku mulai berair.
"Engga gitu! Tuh kan kalo bahas ini pasti ujungnya drama! Udah lah aku males bahas ini terus sama kamu." Morgan menatap dengan kesal, tapi aku melihatnya juga merasa bersalah. Jujur aku bingung bagaimana menanggapi situasi ini.

Setelah pertengkaran kemarin kami saling diam berhari-hari. Bertukar pesan hanya sesekali memberi kabar sekedarnya. Sejak saat itu, kami semakin merenggang. 
Semakin hari, aku semakin muak dengan rasa cinta yang bersyarat untuk harus utuh. Tapi dia, satu-satunya yang kuberikan kelonggaran akan batasanku untuk hal ini. Artinya, dia berharga. Morgan hanya memberikan kode kode kecil lewat lagu yang ia post di story. Aku masih kebingungan bagaimana harus menanggapinya. Sesekali ia menghilang, lalu muncul. Kemudian aku yang hilang, lalu ia yang mencari. 

"Dalam hidup kamu aku ini apa sih?" Tanyaku suatu hari.
"Kamu air hujan, menyejukkan tapi juga sering bikin banjir bandang!" Jawabnya sambil tersenyum, "kalau aku apa buat kamu?"
Aku lalu berfikir sejenak dan menatap matanya. Tatapan matanya antara teduh dan tegas namun tajam menilai. Entah kenapa aku mengenali jiwanya yang bersembunyi dalam tatapan yang tidak pernah kosong itu. Selalu penuh isi dan ada sedih serta amarah bersembunyi dibaliknya. Aku tahu ada banyak hal yang dia sembunyikan. Mungkin karena terbiasa menyelesaikan segalanya sendirian. Anak laki-laki kecil masih ada didalam dirinya. Sedangkan anak perempuan dalam diriku, enggan menampakkan dirinya bahkan bayangannya pun saja enggan muncul. 
"Jawab donk..."
"Buat aku kamu tanah."
"Hmm.. pantesan aku sering kamu rendahin kamu injek-injek harga dirinya!" Ujarnya ketus.
"Mungkin kamu merasa direndahin karena kamu adanya dibawah. Tapi kamu ga sadar, tanpa tanah sebanyak apapun air hujan yang jatuh, ga semua tumbuhan bisa numbuhin akar. Tanah tempat akar bertumbuh. Tempat tumbuhan bertumbuh. Jadi kamu jangan mengerdilkan diri kamu sendiri ya! Ga ada yang ngerendahin kamu selama ini, tapi kamu yang cuma lupa sama makna diri kamu sendiri." Jawabku tenang.
Dia menatapku lagi. "Selain tanah, aku ini apa lagi?" 
"Kamu langit!" Jawabku langsung.
"Jadi tanah sama langit? Kenapa langit?"
"Kamu bikin aku sering ngeliat langit, nunggu hujan jatuh, nunggu cuaca cerah, nunggu awan teduh, nunggu ada bintang...dan karena kamu terlalu tinggi untuk diraih, karena aku harus utuh dulu biar bisa terus sama kamu. Padahal ga ada manusia dimuka bumi ini yang utuh dan sempurna seperti yang kamu mau kan?"
Dia hanya diam menatapku, tidak memberikan jawaban apapun. Namun semenjak hari itu, dia semakin protektif menjaga dan peka dengan keadaanku.

Jadi? Utuh atau tidak utuh, aku tetap pada pilihanku. Tidak lagi memikirkan standar manusia lain. Dunia memang begini adanya kan? Tidak pernah ada yang bisa selalu menyesuaikan diri dengan presisi. Dan seiring berjalannya waktu, ternyata utuh atau tidak utuhnya kami justru memiliki versi makna yang lain dari pada yang lain. Saling mengisi, saling ada, saling menjadi tempat pulang, dan seperti biasa, saling menyerang namun selalu satu arah. Saling hilang namun saling pulang. Saling mengirim sinyal perang, namun setelahnya mengirim sinyal damai. Dan satu-satunya jalan keluar adalah saling menjaga dan bertahan. 

Para pendahulu selalu bilang, dua isi kepala tidak akan pernah bisa bersama jika tidak bisa saling mengisi dan mengobati. Saling memaafkan dan saling memilih. Tidak lagi tertarik pada hal yang bukan lagi tujuan. Tidak lagi berada dalam permainan rasa yang hanya menguras energi. Ditengah maraknya berita perpisahan, sepertinya kami akan tetap memilih dijalan menuju arah pulang. Pulang kedalam diri masing-masing, lalu setelahnya mencari jalan pulang kehati satu sama lain. 

Begitu bukan sih konsepnya? Jadi ini apa?

Jadi aku belajar, menjadi manusia yang aku butuhkan dikala aku kecil. Menjadi orang dewasa yang aku butuhkan disaat aku masih kecil, hingga aku pun semakin membaik. 

Iya bukan?


"Kalo aku apa? Selain hujan, buat kamu aku ini apa?" Tanyaku.
"Kamu sailormoon!"
"LHA?"










0 komentar:

Post a Comment

Total Pageviews

Blogger templates

 
;