Aku menatap dilema dalam kuatnya pendirian yang kukuh, bahwa manusia selalu memiliki sisi terbaik dalam dirinya yang tidak semua orang bisa saksikan kecuali dia dan tuhannya.
Aku menatap teguh dalam diamnya manusia, bahwa segala hal yang menyemai kebaikan akan berbuah arah yang mungkin riuh namun tidak mudah runtuh.
Menjalani segala upaya dan kuasa diri yang menurunkan pongah hati namun menaikkan jiwa penuh rima yang menumbuhkan rasa sembuh dalam sunyi.
Sejuk dalam genggaman embun rasa aman sinar matahari pagi yang menenangkan benak, meski kadang melantur dalam guntur kesalahpahaman para manusia.
Riak dalam semak semak air belukar hanya akan menjadi sembunyi sementara untuk keindahan dandelia yang sejati kan?
Jika ternyata hening menjadi satu satu nya suara paling lantang, maka teriakan hanya menjadi bisu yang membuncah keruh tanpa pedoman.
Menyala kilau dalam sela daun yang menari ringan dalam belaian angin bijaksana penuh pembelajaran.
Menyalurkan gempita jiwa jiwa bahagia yang merdeka akan berbagai beda yang warnanya penuh harum hanum bunga bunga lembut nan tegas.
Menyebarkan irama dalam nafas manusia yang haus akan makna yang mulai redam oleh sibuknya raga dan pemikiran.
Hingga lahir empati dan simpati dengan luruhnya surga dunia dalam makmur dan dewata jingga menambah kuarsa.
Lembah lembah gelap akan menjadi celah Tuhan penuh agung menundukkan pandang jumawa yang memberi terang dan menuang kan?
...
"Lia, menurut lo siapa manusia dimuka bumi yang paling bisa diandalkan?" Tanya elsa.
Aku mendongak keatas langit, dibawah ranting-ranting kecil meneduhkan, aku mencerna pertanyaan Elsa. "Menurut lo siapa?"
"Ga tau ya? Ini juga gw mikir"
"Apa jangan-jangan yang sebenarnya bisa kita andalkan itu diri kita sendiri ya sebagai manusia? Siapa lagi?" Tanyaku balik.
Elsa menarik nafas panjang. "Kenapa kita tinggal dipanti asuhan ya li? Anak anak lain punya kesempatan buat mengandalkan orang tuanya, kita?"
Aku memandang Elsa, aku mengerti segala hal yang dia gelisahkan selama ini. "Els... Lo tau ga sih, kadang diluar sana juga ada anak yang punya orang tua dan keluarga lengkap, tapi juga ga bisa saling mengandalkan. Gw rasa kita jauh lebih beruntung, karena Allah udah latih kita dari kecil dengan segala kerumitannya yang pada akhirnya mau ga mau hanya bisa mengandalkan diri sendiri, ya kan?"
Aku memahami, bahwa situasi dan keadaan setiap manusia dimuka bumi berbeda. Bisa dibilang seperti dua sisi mata uang. Akan selalu bersisian.
Akupun memahami segala keraguan Elsa akan hal ini. Dan memang sulit rasanya, untuk berhenti berfikir tentang hal ini kan?
"Sebentar lagi panti kita ditutup, semua dipisah pindah ke panti lain. Apa kita masing masing bisa bertahan hidup ya?"
"Insha ALLAH bisa Els.." aku menjawab dengan tatapan pasti, meyakinnya Elsa agar tidak meragu, walaupun faktanya, benakku pun lebur dalam perihnya pertanyaan yang sama. Kadang merasa seolah keberuntungan tidak pernah berpihak pada kami. Atau kami memang sengaja dipinggirkan?
...
Dua malam sudah aku merebah dalam pasrah berada dilingkungan baru. Mungkin aku hanya setahun lagi berada disini, lalu kemudian merantau dan mencari nafkah serta kehidupanku sendiri. Memandang adik adik kecil yang lain sedang bermain riang tanpa mengetahui rumitnya kehidupan dihari depan yang akan mereka hadapi jika tidak mendapat orang tua asuh.
Elsa? Saudaraku? Entahlah, aku tidak mengetahui kabarnya beberapa hari ini. Kami sudah terpisah karena panti tempat kami singgah harus tunai digadaikan oleh mereka yang berkepentingan.
"Kakak, kenapa menangis? Ayo kita makan, dipanggil embah tuh!" Ajak bocah kecil berkepang dua dihadapanku.
Buru buru aku mengusap pedihku dan memberikan senyuman seadanya, "yuk!"
"Liaaaaa ayo nak kita makan, alhamdulillah hari ini menunya special! Ayam goreng kesukaan lia kan?" Sambut embah penuh kehangatan. "Maaf ya pas kamu datang kemarin itu embah belum bisa masakin ayam goreng, baru hari ini kita masak ayam goreng karena donatur baru aja kasih uangnya hari ini! Jadi kita semua bisa makan enak hari ini buat kedatangan Lia" senyum embah semakin hangat dengan rangkulannya.
Aku menyukai ayam goreng, menu mewah favoritku bersama Elsa dipanti sebelumnya. Namun, bukan karena tidak menghargai, hanya saja aku merasa kosong. Mungkin ini yang namanya kehilangan? Hampa. Aku terbiasa dengan lingkungan panti sebelumnya, meskipun disini hangat dan ramah, namun tanpa mereka semua rasanya hampa dan asing.
Aku tersenyum kepada embah,dan mengucapkan terima kasih. Lalu makan sambil menahan air mata.
Malamnya, aku lagi lagi tidak bisa tidur. Aku mengendap keluar kamar, mencari tempat tenang menatap langit. Dipinggir halaman panti aku duduk bersandar pada tiang bangunan dan memeluk boneka pemberian Elsa.
Langit disini lebih banyak bintangnya. Mungkin karena ini didesa jadi tidak ada polusi yang menutup pandanganku pada bintang. Andromeda? Bimasakti? Ingatanku melantur pada obrolanku dengan Elsa dimasa kami masih berumur 8tahun mungkin.
"Lia, kamu beneran pengen jadi astronot? Kenapa ga jadi dokter hewan aja kaya aku?"
"Aku pengen ke pluto soalnya, disana adalah planet paling jauh dari bumi, siapa tau nanti disana ada aliennya?"
"Alien itu ada ya? Kamu percaya kalau alien itu ada?"
"Iya aku percaya, kamu liat aja tuh ke atas langit, banyak bintang, masa ga ada penghuninya?"
"Iya juga ya..." Elsa mengangguk.
"Kalau kamu kenapa mau jadi dokter hewan? Kenapa engga jadi dokter manusia aja?" Tanyaku balik.
"Biar bisa ngobatin kucing-kucing. Kasian kucing-kucing sakit dijalanan ga ada yang obatin, nanti kalau aku sudah besar aku yang ngobatin mereka"
"Kucing aja?"
"Semua hewan, terutama BRUNO!" Bruno adalah anjing betina dipantiku yang lama. Kami memanggilnya Bruno karena mengira dia jantan. Sampai akhirnya dia melahirkan dan kami baru menyadari Bruno adalah betina.
Tiba tiba sebuah rangkulan hangat mengagetkanku. Ternyata embah putri yang sudah duduk disebelahku. Membuyarkan ingatan percakapanku dengan Elsa.
"Ga bisa tidur?"
Aku menunduk.
"Ga papah nduk... Si mbah juga sering susah tidur kalo ditempat baru" senyumnya.
Kemudian dengan lembut si mbah mengelus rambutku dan mengarahkan mataku padanya.
"Dengerin mbah ya nduk.. Mbah tau apa yang kamu rasain saat ini. Paham sekali rasanya. Karena mbah juga sama seperti kamu dulu"
Entah kenapa aku tidak lagi bisa menahan air mata, semua lepas. Runtuh luruh dalam pelukan embah yang harum parfum bunganya menenangkan.
....
Just a simple sample of life.
Spread love and kindness.
Thats all we need. 🌱💕
....
While listening Yiruma playlist`~
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact