Seringkali manusia diam akan tanya.
Menebak dan ditebak akan prasangka yang tidak karuan tanpa jeda.
Menjajakan nuansa akan ritme jejak langkah akan sebuah cerita yang tidak akan ada akhirnya?
atau ada akhirnya hanya saja tidak pernah diketahui dimana dan bagaimana akhir itu menjadi seperti apa?
Jika semua bisa semudah cerita dalam naskah bertema bahagia yang tidak memerlukan proses, mungkin hasil akan menjadi hampa yang kemilau bagai berlian dalam genggaman insan terkaya didunia? Membosankan dan biasa saja kan?
jika ditanya, bagaimana kamu merasakannya dalam benak yang lapang dan sempit perihal cerita akan beban yang tidak pernah diturunkan?
Bagaimana kamu termangu dengan segala hal yang kamu capai namun bertanya akan damai yang sebenarnya selalu ada dengan tiada.
Kalah dalam tadah yang tidak berirama menjadikanya sebuah candu dalam beretika?
Menjadi tajam dan keras diluar namun didalam penuh rapuh luluh dalam kehadiran.
ketika kamu menjadi satu satunya yang dipertanyakan namun juga satu satunya yang paling jelas dalam teguh.
apalagi yang akan kamu rengkuh jika berbagai makna kamu pelajari penuh hati hati dengan penuh empati yang dinilai mati bagi sebagian manusia?
apa yang akan terjadi jika kamu memilih untuk tidak memilih dan membiarkan bumi hingga jagat semesta raya yang membuka jalan atas kehendak ilahi?
bagaimana jika pada akhir hingga awalnya kamu hanya akan memakan kebohongan nurani yang masih mentah dalam mengenal makna?
mungkin kamu berat dalam berdaya upaya dalam bijaksana yang tidak lagi dimenangkan dalam kolam keruh akan saduran.
namun mungkin akan ringan nantinya jika perangaimu menjadi membaik dan penuh isi peredaman prahara huru dan hara isi bumi.
jagat dan raya hanya akan menjadi naungan bukan tempat menetap yang setia membuatmu utuh kan?
karena kata mereka para pendahulu bahwa "dunia ini sementara".
lalu setelah ini kamu seketika bertanya tanya, "aku sudah sampai diperjalanan yang mana sebenarnya?"
menjaga hati yang juga dijaga.
menjaga jiwa yang juga sedang saling menata.
menjaga setia dalam sunyi yang hanya disaksi oleh jiwa itu sendiri,
dan mendendam untuk saling memeluk dalam satu tenang tanpa perang.
Jika memang bukan akhirnya yang disiapkan, maka mungkin prosesnya akan menjadi kenang dalam senang?
bersenandung yang saling balas untuk dibahas dalam bahasa jiwa dan sinyal rahasia penuh cerita.
merindu makna akan proses panjang perjalanan sebuah pembelajaran.
saling merefleksikan luka dan mengobati hingga pulih tidak terlalu sakit dirasa akan cerita lalu.
Maka apa makna iya dalam tidak, atau makna tidak dalam iya jika sekata sudah saling menggenggam penuh rasa dalam cakra?
Dua jiwa yang saling memeluk dalam hening tanpa sorotan panggung akan validasi dunia.
Merengkuh bijak dengan seksama akan fondasi yang menguatkan akar bukan hanya memanjangkan dahan.
Dua jiwa terpisah jarak dan luka untuk saling utuh dalam merekah buah tabah hingga bias tidak lagi kelak dijadikan alasan tengkar.
menyelesaikan kemenangan kehendak sendiri untuk saling memenangkan medan tempur jiwa masing masing.
meneduh segala peluh dalam saling rengkuh akan riuh dikepala para jiwa.
berbuah sebuah sikap tegas dan keputusan tegas untuk saling memilih.
irama saling menjalani dengan tenang dan riang yang penuh wibawa.
api kecil tidak lagi menjadi pemantik untuk bahan bakar emosi yang membawa luka,
namun menjadi cahaya yang menerangi tiap langkah yang ditatih dengan harapan menemukan jalan dan upaya menemukan jejak untuk bisa bersama.
pernah saling menjadi luka.
namun juga saling menjadi cahaya.
pernah saling meninggalkan.
namun juga saling menjadi tempat pulang.
tetap bertahan walaupun makna semakin terkikis akan rasa sakit yang kian menderma maaf.
entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling memiliki pada akhirnya?
entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling pulang pada akhirnya?
entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak lagi saling menggenggam?
entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling hadir?
namun,
bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling mengikat?
bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling mengisi?
bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling ada?
bagaimana jika dua jiwa saling berani menerima?
bagaimana jika dua jiwa ini tidak saling menyakiti?
bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling memeluk?
bagaimana jika dua jiwa ini tetap berpendirian teguh akan keras kepalanya saling mengisi?
bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling menginspirasi?
bagaimana jika dua jiwa ini saling menetap untuk menatap masa depan mereka?
Kenapa selalu binasa dalam pola berulang?
Seolah manusia di hadapanmu yang kamu untai dengan cerita hanyalah seonggok daging yang disanggah oleh tulang rapuh. Tidak berakal dan tidak belajar, tidak mau mendengar?
Percayalah, mempelajari pola perilaku kalian begitu mudah.
seolah pencapaian hanya sebagai tolak ukur sederhana tanpa perhitungan dan pertimbangan.
Menimbang damai dalam sematan drama hidup yang dibuat penuh liku tanpa filtrasi demi keuntungan pribadi bahkan golongan?
Mencari cara agar diobati dan dipulihkan demi ketenangan dan kemenangan satu pihak yang di untungkan dan satu pihak dibinasakan dengan sengaja?
Namun itulah pola, begitu mudah merasa pintar hingga melupakan bahwa jejaknya terang benderang dalam perkara yang dibuat sendiri dan diselesaikan sendiri. Terdengar tajam namun menohok kan? Saya juga tertohok kadang kala dengan apa yang saya tulis.
Tenang... Penulisnya sendiri pun seringkali merasa tersinggung oleh tulisannya sendiri. Realistis.
Seperti melihat perjalanan hidupnya yang penuh pelajaran dan pembaharuan. Oleh karena itu, akan selalu mengalami ketersinggungan oleh karyanya sendiri. Namun jujur saja, sejak saya memutuskan menulis, berbagai drama menyakitkan dan mempertanyakan kesejatian diri dan pendirian yang penuh kontroversi, membuat saya semakin penasaran akan bagaimana hasil tulisan saya nantinya.
Menguji dengan penuh intrik dan kemunafikan atau menguji dengan penuh realitas dalam ketulusan?
Manusia kadang lupa, pola hidup sebenarnya ada dalam ruang realitas kehidupan dan rasa yang nyata. Bukan hanya sekedar dihadapan manusia yang penuh ribuan agenda basa basi, atau bukan hanya penuh cerita palsu yang skemanya penuh tuntutan sana sini dibalik layar.
Dalam beberapa narasi manusia harus terlihat lemah agar pihak lain merasa berani mengangkat dirinya. Dalam narasi lain manusia harus terlihat kuat agar pihak lainnya merasa terlindungi atau bahkan merasa diintimidasi? Bagaimana menyelesaikan sebuah narasi dalam berbagai kontroversi yang hanya dimengerti oleh beberapa pihak, terlebih kalau mulai masuk pihak pihak lain yang merasa superpower untuk menghancurkan atau bahkan mempersatukan? Bersembunyi dalam satu buah kata PEDULI yang ga peduli peduli amat sebagian, lebih sekedar penasaran dan ingin tahu? Entahlah.
Rasanya seperti mempertanyakan jawaban yang sudah diketahui jawabannya, yang dibutuhkan ternyata hanya validasi pembenaran atau persetujuan kan? Pertanyaan yang sebenarnya apakah manusia benar benar mendengarkan manusia lain, atau hanya butuh menyaring hal yang relate dan tidak relate? (*Sengaja saya garis bawahi agar dipikirkan pertanyaan ini dengan penuh kesadaran.) JIka relate kita akan menyanjung dengan penuh penghargaan, jika tidak relate kita hanya menganggap hal tersebut 'sekedar' atau untuk beberapa pihak yang bijaksana akan menjadi tambahan 'warna' kehidupan dalam perbedaan?
Manusia akan hidup dalam pola yang tidak selalu statis. Namun akan terlihat statis dihadapan manusia manusia yang hanya mempu meremehkan manusia lain kan? Karena seringkali apa yang tidak dilihat mata dijaman ini dianggap tidaklah ada harga dan maknanya. Betul? Semua mata harus melihat dan memberikan penghargaan atau apresiasi. Hal ini tentu tidak salah sama sekali, yang salah jika kita malah dengan terstruktur menganggap pihak yang bersebrangan salah. Saya belajar banyak hal ini. Saya juga pernah salah dalam hal ini. Kalian juga? Atau tidak pernah melakukan kesalahan diperihal ini? Let me know untuk bahan pembelajaran saya juga ya.
Terkadang dalam pekatnya kontroversi kita sulit melihat dengan mata telanjang apa yang sebenarnya terjadi. Berburu untuk menjadi nomor satu pengambil kesimpulan. Padahal, jika kita terpaksa harus meminum air keruh, akal dianugerahi pemikiran untuk menyaring berlapis terlebih dahulu untuk mendapatkan air yang steril dan jernih yang layak dikonsumsi kan? Sedikit saja pemikiran kritis dan tajam akan menjadi sandungan yang dianggap ingin benar sendiri hingga diberi label tidak ingin belajar. Jadi siapa sebenarnya yang mencari pembenaran pemikiran sendiri? Ga ada yang tau. Dua manusia berargumen mengukuhkan pendapat akan menjadi saling melempar api tanpa meredam didih kan?
Sejatinya, semakin kesini kita lupa. Hidup terkini adalah makna yang jelas dan penuh pola yang tidak semua mampu membaca dengan jernih. Atau memang sebenarnya manusia itu selalu melihat pola yang berbeda? Tidak pernah sama dan tidak akan pernah sesuai satu sama lain? Atau memang kita sengaja dibiarkan untuk tidak melihat pola?
Jadi lebih baik kita mengetahui atau pura pura tidak tau?
atau tidak ingin tau?
~Dear my self..
wellcome to reality. Nikmatilah dengan penuh kesadaran.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact