Oct 31, 2025 0 komentar

Apalah arti sebuah nama?

Menurutmu salah satu keindahan yang akan dirindukan oleh bumi jika menghilang itu apa? Bagiku adalah harum tanah basah saat hujan. Atau, sebenarnya air hujan itu sendiri yang akan dirindukan? Karena banyak yang bilang, tidak akan ada bunga jika tidak ada hujan. Benarkah? Atau jika ditelisik lagi, bagaimana jika semua tentang hujan ini, yang paling berperan adalah air? Bagaimana Tuhan menciptakan manusia yang sebagian besar tubuhnya terdiri dari kandungan air. Atau bagaimana peran air justru sebagai nafas kehidupan penting bagi makhluk hidup?

Aku masih diam disudut tepi teduh menunggu hujan reda. Memperhatikan bagaimana manusia berlarian sambil menutup kepalanya. Memperhatikan ada juga yang memandang keatas langit dan menikmati hujan dengan senyum penuh rasa bersyukur. Ada juga pedagang kaki lima yang mengumpat sambil tergopoh menutup dagangannya dengan plastik agar tidak basah. Memperhatikan bagaimana para pengendara motor bergegas memakai jas hujan plastik berwarna warni hingga membuat jalanan sekitar sedikit tersendat. Dan memperhatikan beberapa akamsi bermain hujan dengan sumringah dipinggir jalan penuh kesenangan.

Sedangkan aku? Diam saja, memperhatikan mereka sambil memikirkan banyak hal yang ada dikepala. Sambil sesekali meraih tetesan air yang jatuh dari atap pilar tempatku berteduh. Tiba-tiba teringat, pernah ada satu orang yang mengatakan bahwa hujan selalu mengingatkannya tentangku. Memangnya apa persamaanku dengan hujan? Sedangkan isi kepalaku saja penuh badai yang tidak pernah diam. Atau lebih tepatnya seperti gelombang laut, yang deburannya selalu mengikis karang. Namun dari makna kehadiran hujan itu sendiri pun sudah membuatku sadar, bahwa Tuhan selalu memberi petunjuk kehadirannya dari setiap cipta yang Tuhan perlihatkan kan?

...

"Biasa aja donk mukanya" sapa Nian.
"Lho kok lo belum pulang? Kok masih disini?" Tanyaku terkejut melihat kehadiran Nian.
Nian mengeluarkan payung dari dalam tasnya, "Iya tadi gw ngobrol dulu sama mas Fadil bentar, biasalah kerjaan. Dah lo balik bareng gw aja, searah kan kita? Gw anterin sampe rumah dari pada disini lo bengong ga jelas." Ajaknya.
"Ga ah, gw bisa pulang sendiri kok." Tolakku merasa tidak enak hati. Penyakit orang ga enakan gini kan ya?
"Ya ampunnnn sama gw masih aja ga enakan Reeee, hayu lah! Udah jam berapa nih? Ntar keburu malem. Tapi gw melipir bentar kerumah mertua gw ya, jemput anak gw."
Nian memaksa dengan penuh kendali. Padahal ya dikantor dia atasan yang super menyebalkan dimata teman-teman yang lain. Tapi buatku, Nian teman yang seru jika diluar pekerjaan. Nian lalu menarikku masuk ke payungnya dan kami berlari kecil ke parkiran.
Begitu didalam mobil, hawa pengap menguap masuk kedalam hidungku. Panas kendaraan terparkir dan hujan diluar membuat udara sedikit lembab. Nian bersiap menyalakan kendaraan dan ac mobil sambil sesekali mengibas roknya yang sedikit basah. Melepas sepatu highheelsnya mengganti dengan sendal swallow warna hitam yang selalu tersedia disitu. Iya aku memperhatikan sampai sedetail itu. 
"Eh elo kenapa diem banget sih sekarang Re? Lagi ada masalah ya?" Tanya nian dengan lugas.
"Engga kok, aman aja." Jawabku singkat, lalu memasang sabuk pengaman.
Nian melajukan kendaraan keluar parkiran. "Cerita sama gw donk!"
Aku memperhatikan keluar jendela mobil, pedagang yang tadi ku lihat sedang bergegas membereskan dagangannya, sepertinya sedang bertengkar dengan salah satu ojol yang sedang berteduh.
"Rexi! Ya ampun! Gw dicuekin!" 
"Hah? Eh lo liat deh, itu ada orang berantem!" Aku berusaha menggapai tangan Nian.
"EH lo gila, gw lagi nyetir kali dudul!"
"Eh iya maap, lupa. Itu kenapa ya sampe mereka bertengkar hujan-hujanan?" Tanyaku ke Nian.
"Yah elo nanya guwe?"
Aku nyengir sambil garuk garuk pelipis. "Hehe maap.. btw lo nanya apaan tadi?"
"Eh tadi lo bilang apa? B e r t e n g k a r ? Baku banget bahasa lo Re? Hwkwkwkwk."
"Lha? Emang harusnya apa?"
"Pake bahasa kekinian donk, ribut kek, berantem kek, bukan b e r t e n g k a r... Udah kaya pujanggawati sekali anda ini.. hahaha." Ledek Nian.
"Lo mah, gw salah terus!"
"Eh lo lagi kenapa si? Diem terus berapa hari ini dikantor? Ada masalah apaan?"
"Ga ada kok, aman.."
"Gw ga percaya, hayo keluarkan Re mumpung macet nih ujan, bisa ngobrol banyak kita!"
"Engga sih, gw lagi mikir aja kenapa bokap gw namain nama gw kaya nama cowo ya? Rexi. Jadi banyak yang plesetin ke Rexona lha... Tyrex lah... Yang lebih parah ada yang manggil gw pake kata kata pornografi.."
"Hah? Pornografi gimana? Siapa?"
"Itu mas fadil beberapa hari lalu abis meeting di forum manggil gw pake nama EH REXI! Disambungin sama dia jadi E R E X I ! Gw kesel tapi ga bisa marah!"
Nian tertawa puas sekali mendengar curhatanku. Aku memandangnya dengan kesal.
"Kan. Tau gitu gw ga usah cerita!"
"Ya maap maapin gw, tapi asli cerita lo lucu Re.." Nian menatapku sebentar dengan tatapan 'duh kasian temen gue'. Lalu lanjut fokus nyetir.
"Dari pemberian nama aja udah nyiksa batin sampe setua ini ya?" Keluhku.
"Rexello Ananta.. nama lo bagus! Asli nama lo tuh keren lho!"
"Iya tau, tapi buat nama panggilan kadang ga ngenakin."
"Ini serius nih, elo ga ada hal yang lebih penting lagi yang bisa lo pikirin selain nama panggilan lo sendiri yang diplesetin orang?"
"Banyak sih sebenernya.."
"Re, gw mau nanya satu hal sama lo nih..."
"Apa?"
"Menurut lo apa arti nama lo?"
"Kalo kata bokap REX itu Raja, Ello itu cahaya terang... Ananta nama gabungan bokap sama nyokap. Jadi Rexella itu Raja penuh cahaya terang, konon katanya sih begitu."
"Asli itu nama keren banget Re! Lo ga sadar? Lo tau ga sih hadiah terbaik dari orang tua itu apa? NAMA! Nama itu doa.. yang seumur hidup nempel terus dinafas lo Re.."
"Iya sih... Tapi gw dulu kalo diabsen sekolah sering dikira anak laki! Lagian kan gw cewe, masa dikasih nama alias RAJA? Ga nyambung!"
"Eh lo ga tau? Di tiktok beredar KTP yang tulisan namanya RANGER PINK! Padahal dia lakik! Lo bayangin gimana rasanya lo jadi dia."
Seketika aku tersenyum dan kami tertawa lepas. 



0 komentar

courage, where are you?


Jika menyalakan sinar semudah mematikan cahaya, mungkin warna tidak akan semeriah saat ini kan?
Membaurkan berbagai kukuh nya hati dalam menyilaukan terang hingga memaksa dalam dasawarsa.
Menolak kuasa dengan penuh sadar dan ala kadar.
Jiwa seringkali menolak nyata.
Menjaga realita dalam senyap yang membungkam penuh tanya, hingga getir akan jawaban yang sebentar lagi terabaikan?
Iya abai?
Satu buah kata magis yang selalu dilupakan insan insan berjiwa yang memiliki nyala tersembunyi akan rasa utuh.
Mencari dan menemukan hingga terperangkap ragu yang hanya menjadi sandung dalam langkah tertatih.
Menjejak menjuru dalam arah angin yang berputar hingga badai dan pasang surutnya dalam nurani.
Bagaimana dengan bahtera yang sudah diangan untuk digapai?
Bagaimana dengan pena yang siap menulis aksara berdamai dengan bidak catur yang selalu menyajikan hidangan strategi?
Apa akan selamanya berlawanan atau beriringan dengan rotasi yang memiliki kehendak sendiri?
Duka dan luka dalam kemampuan yang menyaksikan semudah lena yang tanpa arah.
Disajikan warna lain yang bukan lagi berdaya dalam diri namun berdaya dalam guna yang tiada batas menjelajah jingga.
Namun pada akhirnya saat tiba dalam tuju,  ternyata arah selalu menuju hal yang sama.
Menempuh likunya perjalanan dalam garis berbeda, namun lagi lagi titik sampai yang sama mencipta temu kan?
Bila suatu waktu menentu hingga membentuk arca hidup yang lebih penuh makna, maka bagaimana ujungnya?






0 komentar

Finally saya kembali menulis,oh no!

Beberapa tahun belakangan saya berdiam diri dan berkutat dalam ambisi memenuhi saldo keuangan demi cita cita yang bagi beberapa orang tidak seberapa. Bagi orang yang tidak seberapa itu, justru bagi saya adalah sangat seberapa. Karena impian itu sudah saya bentuk dari sejak kecil. Pencapaian sederhana yang tidak muluk muluk yang hanya mengikuti ritme hidup saya sendiri tanpa mau peduli provokasi ritme orang lain. Iya saya sadar diri, saya keras kepala, namun ini cara saya bertahan hidup ditengah badai yang tidak banyak orang saksikan. 
Saya tidak tahu apakah tulisan dan blog ini masih ada yang baca atau tidak. Saya memilih kembali menulis disini karena merasa disini saya bebas menulis tanpa perlu dipatahkan, tanpa perlu disalahpahami, tanpa perlu dibuat drama sana sini oleh pihak pihak tertentu. Saya hanya butuh tempat aman untuk saya menuangkan isi kepala saya yang kadang membuat orang lain risih dan penuh amarah. Atau bahkan membuat sebagian orang merenung? Entahlah.. 

Tujuan saya menulis masih sama. Menenangkan isi kepala yang riuh dengan kata aksara yang memantau perkembangan ketenangan batin sebagai manusia berkesadaran. Jika ada yang membaca itu adalah bonus dari ALLAH. Jika tidak ada yang membaca, setidaknya isi kepala saya tidak lagi tumpah ruah tenggelam dalam perenungan tanpa arah.

Sudah lama sekali ya blog sepi ini tidak berpenghuni. Ternyata sudah selama itu juga saya berhenti menulis. Saya sedang bertengkar dengan kebodohan diri sendiri sebenarnya, kesal karena tulisan saya yang sudah sampai bab6 untuk dijadikan buku malah hilang karena laptop yang tidak bisa hidup kena tumpahan air. Merutuki kebodohan diri sendiri. Menyesali kecerobohan diri sendiri. Oleh karena itu saya menulis lagi disini entah apapun yang terjadi nantinya. Berusaha memulai lagi dari nol.

Rasanya gini ya? 

Ya sudahlah.





Oct 30, 2025 0 komentar

Sampai dimana?



Seringkali manusia bicara makna.

‎Seringkali manusia diam akan tanya.

‎Menebak dan ditebak akan prasangka yang tidak karuan tanpa jeda.

‎Menjajakan nuansa akan ritme jejak langkah akan sebuah cerita yang tidak akan ada akhirnya?

‎atau ada akhirnya hanya saja tidak pernah diketahui dimana dan bagaimana akhir itu menjadi seperti  apa?


‎Jika semua bisa semudah cerita dalam naskah bertema bahagia yang tidak memerlukan proses, mungkin hasil akan menjadi hampa yang kemilau bagai berlian dalam genggaman insan terkaya didunia? Membosankan dan biasa saja kan?

‎jika ditanya, bagaimana kamu merasakannya dalam benak yang lapang dan sempit perihal cerita akan beban yang tidak pernah diturunkan?

‎Bagaimana kamu termangu dengan segala hal yang kamu capai namun bertanya akan damai yang sebenarnya selalu ada dengan tiada.

‎Kalah dalam tadah yang tidak berirama menjadikanya sebuah candu dalam beretika?

‎Menjadi tajam dan keras diluar namun didalam penuh rapuh luluh dalam kehadiran.


‎ketika kamu menjadi satu satunya yang dipertanyakan namun juga satu satunya yang paling jelas dalam teguh.

‎apalagi yang akan kamu rengkuh jika berbagai makna kamu pelajari penuh hati hati dengan penuh empati yang dinilai mati bagi sebagian manusia?

‎apa yang akan terjadi jika kamu memilih untuk tidak memilih dan membiarkan bumi hingga jagat semesta raya yang membuka jalan atas kehendak ilahi?

‎bagaimana jika pada akhir hingga awalnya kamu hanya akan memakan kebohongan nurani yang masih mentah dalam mengenal makna?


‎mungkin kamu berat dalam berdaya upaya dalam bijaksana yang tidak lagi dimenangkan dalam kolam keruh akan saduran.

‎namun mungkin akan ringan nantinya jika perangaimu menjadi membaik dan penuh isi peredaman prahara huru dan hara isi bumi.

‎jagat dan raya hanya akan menjadi naungan bukan tempat menetap yang setia membuatmu utuh kan?

‎karena kata mereka para pendahulu bahwa "dunia ini sementara".


‎lalu setelah ini kamu seketika bertanya tanya, "aku sudah sampai diperjalanan yang mana sebenarnya?"

0 komentar

SOULS?

‎menjaga hati yang juga dijaga.

‎menjaga jiwa yang juga sedang saling menata.

‎menjaga setia dalam sunyi yang hanya disaksi oleh jiwa itu sendiri,

‎dan mendendam untuk saling memeluk dalam satu tenang tanpa perang.


‎Jika memang bukan akhirnya yang disiapkan, maka mungkin prosesnya akan menjadi kenang dalam senang?

‎bersenandung yang saling balas untuk dibahas dalam bahasa jiwa dan sinyal rahasia penuh cerita.

‎merindu makna akan proses panjang perjalanan sebuah pembelajaran.

‎saling merefleksikan luka dan mengobati hingga pulih tidak terlalu sakit dirasa akan cerita lalu.

‎Maka apa makna iya dalam tidak, atau makna tidak dalam iya jika sekata sudah saling menggenggam penuh rasa dalam cakra?


‎Dua jiwa yang saling memeluk dalam hening tanpa sorotan panggung akan validasi dunia.

‎Merengkuh bijak dengan seksama akan fondasi yang menguatkan akar bukan hanya memanjangkan dahan.

‎Dua jiwa terpisah jarak dan luka untuk saling utuh dalam merekah buah tabah hingga bias tidak lagi kelak dijadikan alasan tengkar.

‎menyelesaikan kemenangan kehendak sendiri untuk saling memenangkan medan tempur jiwa masing masing.

‎meneduh segala peluh dalam saling rengkuh akan riuh dikepala para jiwa.

‎berbuah sebuah sikap tegas dan keputusan tegas untuk saling memilih.


‎irama saling menjalani dengan tenang dan riang yang penuh wibawa.

‎api kecil tidak lagi menjadi pemantik untuk bahan bakar emosi yang membawa luka,

‎namun menjadi cahaya yang menerangi tiap langkah yang ditatih dengan harapan menemukan jalan dan upaya menemukan jejak untuk bisa bersama.


‎pernah saling menjadi luka.

‎namun juga saling menjadi cahaya.

‎pernah saling meninggalkan.

‎namun juga saling menjadi tempat pulang.

‎tetap bertahan walaupun makna semakin terkikis akan rasa sakit yang kian menderma maaf.


‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling memiliki pada akhirnya?

‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling pulang pada akhirnya?

‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak lagi saling menggenggam?

‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling hadir?


‎namun,


‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling mengikat?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling mengisi?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling ada?

‎bagaimana jika dua jiwa saling berani menerima?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tidak saling menyakiti?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling memeluk?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap berpendirian teguh akan keras kepalanya saling mengisi?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling menginspirasi?


‎bagaimana jika dua jiwa ini saling menetap untuk menatap masa depan mereka?


‎bagaimana jadinya nanti?

Kenapa cerita ini menjadi bahan bualan jiwa jiwa lain?



0 komentar

Pola pikir segelintir manusia?

‎Kenapa selalu binasa dalam pola berulang?

‎Seolah manusia di hadapanmu yang kamu untai dengan cerita hanyalah seonggok daging yang disanggah oleh tulang rapuh. Tidak berakal dan tidak belajar, tidak mau mendengar?

‎Percayalah, mempelajari pola perilaku kalian begitu mudah.

‎seolah pencapaian hanya sebagai tolak ukur sederhana tanpa perhitungan dan pertimbangan.

‎Menimbang damai dalam sematan drama hidup yang dibuat penuh liku tanpa filtrasi demi keuntungan pribadi bahkan golongan?

‎Mencari cara agar diobati dan dipulihkan demi ketenangan dan kemenangan satu pihak yang di untungkan dan satu pihak dibinasakan dengan sengaja?

‎Namun itulah pola, begitu mudah merasa pintar hingga melupakan bahwa jejaknya terang benderang dalam perkara yang dibuat sendiri dan diselesaikan sendiri. Terdengar tajam namun menohok kan? Saya juga tertohok kadang kala dengan apa yang saya tulis.

‎Tenang... Penulisnya sendiri pun seringkali merasa tersinggung oleh tulisannya sendiri. Realistis.

‎Seperti melihat perjalanan hidupnya yang penuh pelajaran dan pembaharuan. Oleh karena itu, akan selalu mengalami ketersinggungan oleh karyanya sendiri. Namun jujur saja, sejak saya memutuskan menulis, berbagai drama menyakitkan dan mempertanyakan kesejatian diri dan pendirian yang penuh kontroversi, membuat saya semakin penasaran akan bagaimana hasil tulisan saya nantinya.

‎Menguji dengan penuh intrik dan kemunafikan atau menguji dengan penuh realitas dalam ketulusan?

‎Manusia kadang lupa, pola hidup sebenarnya ada dalam ruang realitas kehidupan dan rasa yang nyata. Bukan hanya sekedar dihadapan manusia yang penuh ribuan agenda basa basi, atau bukan hanya penuh cerita palsu yang skemanya penuh tuntutan sana sini dibalik layar.


‎Dalam beberapa narasi manusia harus terlihat lemah agar pihak lain merasa berani mengangkat dirinya. Dalam narasi lain manusia harus terlihat kuat agar pihak lainnya merasa terlindungi atau bahkan merasa diintimidasi? Bagaimana menyelesaikan sebuah narasi dalam berbagai kontroversi yang hanya dimengerti oleh beberapa pihak, terlebih kalau mulai masuk pihak pihak lain yang merasa superpower untuk menghancurkan atau bahkan mempersatukan? Bersembunyi dalam satu buah kata PEDULI yang ga peduli peduli amat sebagian, lebih sekedar penasaran dan ingin tahu? Entahlah.


‎Rasanya seperti mempertanyakan jawaban yang sudah diketahui jawabannya, yang dibutuhkan ternyata hanya validasi pembenaran atau persetujuan kan? Pertanyaan yang sebenarnya apakah manusia benar benar mendengarkan manusia lain, atau hanya butuh menyaring hal yang relate dan tidak relate? (*Sengaja saya garis bawahi agar dipikirkan pertanyaan ini dengan penuh kesadaran.) JIka relate kita akan menyanjung dengan penuh penghargaan, jika tidak relate kita hanya menganggap hal tersebut 'sekedar' atau untuk beberapa pihak yang bijaksana akan menjadi tambahan 'warna' kehidupan dalam perbedaan?


‎Manusia akan hidup dalam pola yang tidak selalu statis. Namun akan terlihat statis dihadapan manusia manusia yang hanya mempu meremehkan manusia lain kan? Karena seringkali apa yang tidak dilihat mata dijaman ini dianggap tidaklah ada harga dan maknanya. Betul? Semua mata harus melihat dan memberikan penghargaan atau apresiasi. Hal ini tentu tidak salah sama sekali, yang salah jika kita malah dengan terstruktur menganggap pihak yang bersebrangan salah. Saya belajar banyak hal ini. Saya juga pernah salah dalam hal ini. Kalian juga? Atau tidak pernah melakukan kesalahan diperihal ini? Let me know untuk bahan pembelajaran saya juga ya.


‎Terkadang dalam pekatnya kontroversi kita sulit melihat dengan mata telanjang apa yang sebenarnya terjadi. Berburu untuk menjadi nomor satu pengambil kesimpulan. Padahal, jika kita terpaksa harus meminum air keruh, akal dianugerahi pemikiran untuk menyaring berlapis terlebih dahulu untuk mendapatkan air yang steril dan jernih yang layak dikonsumsi kan? Sedikit saja pemikiran kritis dan tajam akan menjadi sandungan yang dianggap ingin benar sendiri hingga diberi label tidak ingin belajar. Jadi siapa sebenarnya yang mencari pembenaran pemikiran sendiri? Ga ada yang tau. Dua manusia berargumen mengukuhkan pendapat akan menjadi saling melempar api tanpa meredam didih kan?


‎Sejatinya, semakin kesini kita lupa. Hidup terkini adalah makna yang jelas dan penuh pola yang tidak semua mampu membaca dengan jernih. Atau memang sebenarnya manusia itu selalu melihat pola yang berbeda? Tidak pernah sama dan tidak akan pernah sesuai satu sama lain? Atau memang kita sengaja dibiarkan untuk tidak melihat pola?


‎Jadi lebih baik kita mengetahui atau pura pura tidak tau?


‎atau tidak ingin tau?

‎~Dear my self..

‎wellcome to reality. Nikmatilah dengan penuh kesadaran.

0 komentar

Rasa aku

Mereka bilang jika aku menginjak kerikil tajam hanya akan menyakiti diri sendiri.
Aku bilang, aku bukan menginjak kerikil tajam, namun aku melangkah diatasnya...
Bukan untuk menginjak...
Namun untuk merasakan lagi apa itu rasa.

Melawan arah tidak selamanya melawan angin kan?
Jika lentera mati maka akan gelap kan?
Namun tidak...
Aku memang tidak melawan arah,pun melawan angin... aku mencari arah dan mengikuti angin untuk dipandu.
Lenteraku mungkin mati sesaat...
bukan untuk padam selamanya.
Namun mengisi ulang bahan bakar.
Agar terangnya bisa semakin benderang.

Bukan lagi tanya kenapa.
Tapi aku tau aku merasa.
Damai bertanya dan bermonolog.
Lunglai menjawab tebak dalam makna.
Namun terbelah dalam membelah pinta.

Aku bukan analogi.
Aku bukan kata kata.
Aku bukan juga digma dalam paradoks penuh rahasia berbait sastra.
Aku irama tanpa nada.
Sunyi tanpa hening.
Terang tanpa gemerlap.

Dan aku,
memiliki tulus penuh makna yang penuh.
tidak lagi mengaduh.
tidak lagi membasuh.
Namun bersiap akan utuh.

Setidaknya,
ruang baru akan selalu menjadi tuju.
Bukan tempat untuk lari bertampah bisu.
Ringan benak...
Mungkin masih berat berpijak.
Namun hati dan suara kisi nurani,
hanya semakin menajamkan intuisi.

Para pendahulu menyebutnya cinta.
Aku menyebutnya 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚋𝚊𝚛𝚞.
Rasa yang belum pernah kukenali dalam lamat.
Rasa yang menumbuhkan hal baru.

Jika ini sia-sia.
Maka akan kuminta pada tuhanku.
untuk semakin memperbanyak rasa ini
dalam garis tuntunan yang penuh.

Menunjuk diri sebagai petuah dalam nasihat terdampak.
Bukan lagi mengusaha akan riak gelombang saling tanya.
Namun paham...
Bahwa rasa, tidak akan mudah kalah, oleh para petarung kehidupan kan?

maka...

fabiayyi ala irabbikuma tukadziban...

semangat hai diri...
semangat hai kamu...

semangat aku..


Total Pageviews

Blogger templates

 
;