Oct 31, 2025 0 komentar

Apalah arti sebuah nama?

Menurutmu salah satu keindahan yang akan dirindukan oleh bumi jika menghilang itu apa? Bagiku adalah harum tanah basah saat hujan. Atau, sebenarnya air hujan itu sendiri yang akan dirindukan? Karena banyak yang bilang, tidak akan ada bunga jika tidak ada hujan. Benarkah? Atau jika ditelisik lagi, bagaimana jika semua tentang hujan ini, yang paling berperan adalah air? Bagaimana Tuhan menciptakan manusia yang sebagian besar tubuhnya terdiri dari kandungan air. Atau bagaimana peran air justru sebagai nafas kehidupan penting bagi makhluk hidup?

Aku masih diam disudut tepi teduh menunggu hujan reda. Memperhatikan bagaimana manusia berlarian sambil menutup kepalanya. Memperhatikan ada juga yang memandang keatas langit dan menikmati hujan dengan senyum penuh rasa bersyukur. Ada juga pedagang kaki lima yang mengumpat sambil tergopoh menutup dagangannya dengan plastik agar tidak basah. Memperhatikan bagaimana para pengendara motor bergegas memakai jas hujan plastik berwarna warni hingga membuat jalanan sekitar sedikit tersendat. Dan memperhatikan beberapa akamsi bermain hujan dengan sumringah dipinggir jalan penuh kesenangan.

Sedangkan aku? Diam saja, memperhatikan mereka sambil memikirkan banyak hal yang ada dikepala. Sambil sesekali meraih tetesan air yang jatuh dari atap pilar tempatku berteduh. Tiba-tiba teringat, pernah ada satu orang yang mengatakan bahwa hujan selalu mengingatkannya tentangku. Memangnya apa persamaanku dengan hujan? Sedangkan isi kepalaku saja penuh badai yang tidak pernah diam. Atau lebih tepatnya seperti gelombang laut, yang deburannya selalu mengikis karang. Namun dari makna kehadiran hujan itu sendiri pun sudah membuatku sadar, bahwa Tuhan selalu memberi petunjuk kehadirannya dari setiap cipta yang Tuhan perlihatkan kan?

...

"Biasa aja donk mukanya" sapa Nian.
"Lho kok lo belum pulang? Kok masih disini?" Tanyaku terkejut melihat kehadiran Nian.
Nian mengeluarkan payung dari dalam tasnya, "Iya tadi gw ngobrol dulu sama mas Fadil bentar, biasalah kerjaan. Dah lo balik bareng gw aja, searah kan kita? Gw anterin sampe rumah dari pada disini lo bengong ga jelas." Ajaknya.
"Ga ah, gw bisa pulang sendiri kok." Tolakku merasa tidak enak hati. Penyakit orang ga enakan gini kan ya?
"Ya ampunnnn sama gw masih aja ga enakan Reeee, hayu lah! Udah jam berapa nih? Ntar keburu malem. Tapi gw melipir bentar kerumah mertua gw ya, jemput anak gw."
Nian memaksa dengan penuh kendali. Padahal ya dikantor dia atasan yang super menyebalkan dimata teman-teman yang lain. Tapi buatku, Nian teman yang seru jika diluar pekerjaan. Nian lalu menarikku masuk ke payungnya dan kami berlari kecil ke parkiran.
Begitu didalam mobil, hawa pengap menguap masuk kedalam hidungku. Panas kendaraan terparkir dan hujan diluar membuat udara sedikit lembab. Nian bersiap menyalakan kendaraan dan ac mobil sambil sesekali mengibas roknya yang sedikit basah. Melepas sepatu highheelsnya mengganti dengan sendal swallow warna hitam yang selalu tersedia disitu. Iya aku memperhatikan sampai sedetail itu. 
"Eh elo kenapa diem banget sih sekarang Re? Lagi ada masalah ya?" Tanya nian dengan lugas.
"Engga kok, aman aja." Jawabku singkat, lalu memasang sabuk pengaman.
Nian melajukan kendaraan keluar parkiran. "Cerita sama gw donk!"
Aku memperhatikan keluar jendela mobil, pedagang yang tadi ku lihat sedang bergegas membereskan dagangannya, sepertinya sedang bertengkar dengan salah satu ojol yang sedang berteduh.
"Rexi! Ya ampun! Gw dicuekin!" 
"Hah? Eh lo liat deh, itu ada orang berantem!" Aku berusaha menggapai tangan Nian.
"EH lo gila, gw lagi nyetir kali dudul!"
"Eh iya maap, lupa. Itu kenapa ya sampe mereka bertengkar hujan-hujanan?" Tanyaku ke Nian.
"Yah elo nanya guwe?"
Aku nyengir sambil garuk garuk pelipis. "Hehe maap.. btw lo nanya apaan tadi?"
"Eh tadi lo bilang apa? B e r t e n g k a r ? Baku banget bahasa lo Re? Hwkwkwkwk."
"Lha? Emang harusnya apa?"
"Pake bahasa kekinian donk, ribut kek, berantem kek, bukan b e r t e n g k a r... Udah kaya pujanggawati sekali anda ini.. hahaha." Ledek Nian.
"Lo mah, gw salah terus!"
"Eh lo lagi kenapa si? Diem terus berapa hari ini dikantor? Ada masalah apaan?"
"Ga ada kok, aman.."
"Gw ga percaya, hayo keluarkan Re mumpung macet nih ujan, bisa ngobrol banyak kita!"
"Engga sih, gw lagi mikir aja kenapa bokap gw namain nama gw kaya nama cowo ya? Rexi. Jadi banyak yang plesetin ke Rexona lha... Tyrex lah... Yang lebih parah ada yang manggil gw pake kata kata pornografi.."
"Hah? Pornografi gimana? Siapa?"
"Itu mas fadil beberapa hari lalu abis meeting di forum manggil gw pake nama EH REXI! Disambungin sama dia jadi E R E X I ! Gw kesel tapi ga bisa marah!"
Nian tertawa puas sekali mendengar curhatanku. Aku memandangnya dengan kesal.
"Kan. Tau gitu gw ga usah cerita!"
"Ya maap maapin gw, tapi asli cerita lo lucu Re.." Nian menatapku sebentar dengan tatapan 'duh kasian temen gue'. Lalu lanjut fokus nyetir.
"Dari pemberian nama aja udah nyiksa batin sampe setua ini ya?" Keluhku.
"Rexello Ananta.. nama lo bagus! Asli nama lo tuh keren lho!"
"Iya tau, tapi buat nama panggilan kadang ga ngenakin."
"Ini serius nih, elo ga ada hal yang lebih penting lagi yang bisa lo pikirin selain nama panggilan lo sendiri yang diplesetin orang?"
"Banyak sih sebenernya.."
"Re, gw mau nanya satu hal sama lo nih..."
"Apa?"
"Menurut lo apa arti nama lo?"
"Kalo kata bokap REX itu Raja, Ello itu cahaya terang... Ananta nama gabungan bokap sama nyokap. Jadi Rexella itu Raja penuh cahaya terang, konon katanya sih begitu."
"Asli itu nama keren banget Re! Lo ga sadar? Lo tau ga sih hadiah terbaik dari orang tua itu apa? NAMA! Nama itu doa.. yang seumur hidup nempel terus dinafas lo Re.."
"Iya sih... Tapi gw dulu kalo diabsen sekolah sering dikira anak laki! Lagian kan gw cewe, masa dikasih nama alias RAJA? Ga nyambung!"
"Eh lo ga tau? Di tiktok beredar KTP yang tulisan namanya RANGER PINK! Padahal dia lakik! Lo bayangin gimana rasanya lo jadi dia."
Seketika aku tersenyum dan kami tertawa lepas. 



0 komentar

courage, where are you?


Jika menyalakan sinar semudah mematikan cahaya, mungkin warna tidak akan semeriah saat ini kan?
Membaurkan berbagai kukuh nya hati dalam menyilaukan terang hingga memaksa dalam dasawarsa.
Menolak kuasa dengan penuh sadar dan ala kadar.
Jiwa seringkali menolak nyata.
Menjaga realita dalam senyap yang membungkam penuh tanya, hingga getir akan jawaban yang sebentar lagi terabaikan?
Iya abai?
Satu buah kata magis yang selalu dilupakan insan insan berjiwa yang memiliki nyala tersembunyi akan rasa utuh.
Mencari dan menemukan hingga terperangkap ragu yang hanya menjadi sandung dalam langkah tertatih.
Menjejak menjuru dalam arah angin yang berputar hingga badai dan pasang surutnya dalam nurani.
Bagaimana dengan bahtera yang sudah diangan untuk digapai?
Bagaimana dengan pena yang siap menulis aksara berdamai dengan bidak catur yang selalu menyajikan hidangan strategi?
Apa akan selamanya berlawanan atau beriringan dengan rotasi yang memiliki kehendak sendiri?
Duka dan luka dalam kemampuan yang menyaksikan semudah lena yang tanpa arah.
Disajikan warna lain yang bukan lagi berdaya dalam diri namun berdaya dalam guna yang tiada batas menjelajah jingga.
Namun pada akhirnya saat tiba dalam tuju,  ternyata arah selalu menuju hal yang sama.
Menempuh likunya perjalanan dalam garis berbeda, namun lagi lagi titik sampai yang sama mencipta temu kan?
Bila suatu waktu menentu hingga membentuk arca hidup yang lebih penuh makna, maka bagaimana ujungnya?






0 komentar

Finally saya kembali menulis,oh no!

Beberapa tahun belakangan saya berdiam diri dan berkutat dalam ambisi memenuhi saldo keuangan demi cita cita yang bagi beberapa orang tidak seberapa. Bagi orang yang tidak seberapa itu, justru bagi saya adalah sangat seberapa. Karena impian itu sudah saya bentuk dari sejak kecil. Pencapaian sederhana yang tidak muluk muluk yang hanya mengikuti ritme hidup saya sendiri tanpa mau peduli provokasi ritme orang lain. Iya saya sadar diri, saya keras kepala, namun ini cara saya bertahan hidup ditengah badai yang tidak banyak orang saksikan. 
Saya tidak tahu apakah tulisan dan blog ini masih ada yang baca atau tidak. Saya memilih kembali menulis disini karena merasa disini saya bebas menulis tanpa perlu dipatahkan, tanpa perlu disalahpahami, tanpa perlu dibuat drama sana sini oleh pihak pihak tertentu. Saya hanya butuh tempat aman untuk saya menuangkan isi kepala saya yang kadang membuat orang lain risih dan penuh amarah. Atau bahkan membuat sebagian orang merenung? Entahlah.. 

Tujuan saya menulis masih sama. Menenangkan isi kepala yang riuh dengan kata aksara yang memantau perkembangan ketenangan batin sebagai manusia berkesadaran. Jika ada yang membaca itu adalah bonus dari ALLAH. Jika tidak ada yang membaca, setidaknya isi kepala saya tidak lagi tumpah ruah tenggelam dalam perenungan tanpa arah.

Sudah lama sekali ya blog sepi ini tidak berpenghuni. Ternyata sudah selama itu juga saya berhenti menulis. Saya sedang bertengkar dengan kebodohan diri sendiri sebenarnya, kesal karena tulisan saya yang sudah sampai bab6 untuk dijadikan buku malah hilang karena laptop yang tidak bisa hidup kena tumpahan air. Merutuki kebodohan diri sendiri. Menyesali kecerobohan diri sendiri. Oleh karena itu saya menulis lagi disini entah apapun yang terjadi nantinya. Berusaha memulai lagi dari nol.

Rasanya gini ya? 

Ya sudahlah.





Oct 30, 2025 0 komentar

Sampai dimana?



Seringkali manusia bicara makna.

‎Seringkali manusia diam akan tanya.

‎Menebak dan ditebak akan prasangka yang tidak karuan tanpa jeda.

‎Menjajakan nuansa akan ritme jejak langkah akan sebuah cerita yang tidak akan ada akhirnya?

‎atau ada akhirnya hanya saja tidak pernah diketahui dimana dan bagaimana akhir itu menjadi seperti  apa?


‎Jika semua bisa semudah cerita dalam naskah bertema bahagia yang tidak memerlukan proses, mungkin hasil akan menjadi hampa yang kemilau bagai berlian dalam genggaman insan terkaya didunia? Membosankan dan biasa saja kan?

‎jika ditanya, bagaimana kamu merasakannya dalam benak yang lapang dan sempit perihal cerita akan beban yang tidak pernah diturunkan?

‎Bagaimana kamu termangu dengan segala hal yang kamu capai namun bertanya akan damai yang sebenarnya selalu ada dengan tiada.

‎Kalah dalam tadah yang tidak berirama menjadikanya sebuah candu dalam beretika?

‎Menjadi tajam dan keras diluar namun didalam penuh rapuh luluh dalam kehadiran.


‎ketika kamu menjadi satu satunya yang dipertanyakan namun juga satu satunya yang paling jelas dalam teguh.

‎apalagi yang akan kamu rengkuh jika berbagai makna kamu pelajari penuh hati hati dengan penuh empati yang dinilai mati bagi sebagian manusia?

‎apa yang akan terjadi jika kamu memilih untuk tidak memilih dan membiarkan bumi hingga jagat semesta raya yang membuka jalan atas kehendak ilahi?

‎bagaimana jika pada akhir hingga awalnya kamu hanya akan memakan kebohongan nurani yang masih mentah dalam mengenal makna?


‎mungkin kamu berat dalam berdaya upaya dalam bijaksana yang tidak lagi dimenangkan dalam kolam keruh akan saduran.

‎namun mungkin akan ringan nantinya jika perangaimu menjadi membaik dan penuh isi peredaman prahara huru dan hara isi bumi.

‎jagat dan raya hanya akan menjadi naungan bukan tempat menetap yang setia membuatmu utuh kan?

‎karena kata mereka para pendahulu bahwa "dunia ini sementara".


‎lalu setelah ini kamu seketika bertanya tanya, "aku sudah sampai diperjalanan yang mana sebenarnya?"

0 komentar

SOULS?

‎menjaga hati yang juga dijaga.

‎menjaga jiwa yang juga sedang saling menata.

‎menjaga setia dalam sunyi yang hanya disaksi oleh jiwa itu sendiri,

‎dan mendendam untuk saling memeluk dalam satu tenang tanpa perang.


‎Jika memang bukan akhirnya yang disiapkan, maka mungkin prosesnya akan menjadi kenang dalam senang?

‎bersenandung yang saling balas untuk dibahas dalam bahasa jiwa dan sinyal rahasia penuh cerita.

‎merindu makna akan proses panjang perjalanan sebuah pembelajaran.

‎saling merefleksikan luka dan mengobati hingga pulih tidak terlalu sakit dirasa akan cerita lalu.

‎Maka apa makna iya dalam tidak, atau makna tidak dalam iya jika sekata sudah saling menggenggam penuh rasa dalam cakra?


‎Dua jiwa yang saling memeluk dalam hening tanpa sorotan panggung akan validasi dunia.

‎Merengkuh bijak dengan seksama akan fondasi yang menguatkan akar bukan hanya memanjangkan dahan.

‎Dua jiwa terpisah jarak dan luka untuk saling utuh dalam merekah buah tabah hingga bias tidak lagi kelak dijadikan alasan tengkar.

‎menyelesaikan kemenangan kehendak sendiri untuk saling memenangkan medan tempur jiwa masing masing.

‎meneduh segala peluh dalam saling rengkuh akan riuh dikepala para jiwa.

‎berbuah sebuah sikap tegas dan keputusan tegas untuk saling memilih.


‎irama saling menjalani dengan tenang dan riang yang penuh wibawa.

‎api kecil tidak lagi menjadi pemantik untuk bahan bakar emosi yang membawa luka,

‎namun menjadi cahaya yang menerangi tiap langkah yang ditatih dengan harapan menemukan jalan dan upaya menemukan jejak untuk bisa bersama.


‎pernah saling menjadi luka.

‎namun juga saling menjadi cahaya.

‎pernah saling meninggalkan.

‎namun juga saling menjadi tempat pulang.

‎tetap bertahan walaupun makna semakin terkikis akan rasa sakit yang kian menderma maaf.


‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling memiliki pada akhirnya?

‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling pulang pada akhirnya?

‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak lagi saling menggenggam?

‎entah bagaimana rasanya jika dua jiwa ini tidak saling hadir?


‎namun,


‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling mengikat?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling mengisi?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling ada?

‎bagaimana jika dua jiwa saling berani menerima?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tidak saling menyakiti?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling memeluk?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap berpendirian teguh akan keras kepalanya saling mengisi?

‎bagaimana jika dua jiwa ini tetap saling menginspirasi?


‎bagaimana jika dua jiwa ini saling menetap untuk menatap masa depan mereka?


‎bagaimana jadinya nanti?

Kenapa cerita ini menjadi bahan bualan jiwa jiwa lain?



0 komentar

Pola pikir segelintir manusia?

‎Kenapa selalu binasa dalam pola berulang?

‎Seolah manusia di hadapanmu yang kamu untai dengan cerita hanyalah seonggok daging yang disanggah oleh tulang rapuh. Tidak berakal dan tidak belajar, tidak mau mendengar?

‎Percayalah, mempelajari pola perilaku kalian begitu mudah.

‎seolah pencapaian hanya sebagai tolak ukur sederhana tanpa perhitungan dan pertimbangan.

‎Menimbang damai dalam sematan drama hidup yang dibuat penuh liku tanpa filtrasi demi keuntungan pribadi bahkan golongan?

‎Mencari cara agar diobati dan dipulihkan demi ketenangan dan kemenangan satu pihak yang di untungkan dan satu pihak dibinasakan dengan sengaja?

‎Namun itulah pola, begitu mudah merasa pintar hingga melupakan bahwa jejaknya terang benderang dalam perkara yang dibuat sendiri dan diselesaikan sendiri. Terdengar tajam namun menohok kan? Saya juga tertohok kadang kala dengan apa yang saya tulis.

‎Tenang... Penulisnya sendiri pun seringkali merasa tersinggung oleh tulisannya sendiri. Realistis.

‎Seperti melihat perjalanan hidupnya yang penuh pelajaran dan pembaharuan. Oleh karena itu, akan selalu mengalami ketersinggungan oleh karyanya sendiri. Namun jujur saja, sejak saya memutuskan menulis, berbagai drama menyakitkan dan mempertanyakan kesejatian diri dan pendirian yang penuh kontroversi, membuat saya semakin penasaran akan bagaimana hasil tulisan saya nantinya.

‎Menguji dengan penuh intrik dan kemunafikan atau menguji dengan penuh realitas dalam ketulusan?

‎Manusia kadang lupa, pola hidup sebenarnya ada dalam ruang realitas kehidupan dan rasa yang nyata. Bukan hanya sekedar dihadapan manusia yang penuh ribuan agenda basa basi, atau bukan hanya penuh cerita palsu yang skemanya penuh tuntutan sana sini dibalik layar.


‎Dalam beberapa narasi manusia harus terlihat lemah agar pihak lain merasa berani mengangkat dirinya. Dalam narasi lain manusia harus terlihat kuat agar pihak lainnya merasa terlindungi atau bahkan merasa diintimidasi? Bagaimana menyelesaikan sebuah narasi dalam berbagai kontroversi yang hanya dimengerti oleh beberapa pihak, terlebih kalau mulai masuk pihak pihak lain yang merasa superpower untuk menghancurkan atau bahkan mempersatukan? Bersembunyi dalam satu buah kata PEDULI yang ga peduli peduli amat sebagian, lebih sekedar penasaran dan ingin tahu? Entahlah.


‎Rasanya seperti mempertanyakan jawaban yang sudah diketahui jawabannya, yang dibutuhkan ternyata hanya validasi pembenaran atau persetujuan kan? Pertanyaan yang sebenarnya apakah manusia benar benar mendengarkan manusia lain, atau hanya butuh menyaring hal yang relate dan tidak relate? (*Sengaja saya garis bawahi agar dipikirkan pertanyaan ini dengan penuh kesadaran.) JIka relate kita akan menyanjung dengan penuh penghargaan, jika tidak relate kita hanya menganggap hal tersebut 'sekedar' atau untuk beberapa pihak yang bijaksana akan menjadi tambahan 'warna' kehidupan dalam perbedaan?


‎Manusia akan hidup dalam pola yang tidak selalu statis. Namun akan terlihat statis dihadapan manusia manusia yang hanya mempu meremehkan manusia lain kan? Karena seringkali apa yang tidak dilihat mata dijaman ini dianggap tidaklah ada harga dan maknanya. Betul? Semua mata harus melihat dan memberikan penghargaan atau apresiasi. Hal ini tentu tidak salah sama sekali, yang salah jika kita malah dengan terstruktur menganggap pihak yang bersebrangan salah. Saya belajar banyak hal ini. Saya juga pernah salah dalam hal ini. Kalian juga? Atau tidak pernah melakukan kesalahan diperihal ini? Let me know untuk bahan pembelajaran saya juga ya.


‎Terkadang dalam pekatnya kontroversi kita sulit melihat dengan mata telanjang apa yang sebenarnya terjadi. Berburu untuk menjadi nomor satu pengambil kesimpulan. Padahal, jika kita terpaksa harus meminum air keruh, akal dianugerahi pemikiran untuk menyaring berlapis terlebih dahulu untuk mendapatkan air yang steril dan jernih yang layak dikonsumsi kan? Sedikit saja pemikiran kritis dan tajam akan menjadi sandungan yang dianggap ingin benar sendiri hingga diberi label tidak ingin belajar. Jadi siapa sebenarnya yang mencari pembenaran pemikiran sendiri? Ga ada yang tau. Dua manusia berargumen mengukuhkan pendapat akan menjadi saling melempar api tanpa meredam didih kan?


‎Sejatinya, semakin kesini kita lupa. Hidup terkini adalah makna yang jelas dan penuh pola yang tidak semua mampu membaca dengan jernih. Atau memang sebenarnya manusia itu selalu melihat pola yang berbeda? Tidak pernah sama dan tidak akan pernah sesuai satu sama lain? Atau memang kita sengaja dibiarkan untuk tidak melihat pola?


‎Jadi lebih baik kita mengetahui atau pura pura tidak tau?


‎atau tidak ingin tau?

‎~Dear my self..

‎wellcome to reality. Nikmatilah dengan penuh kesadaran.

0 komentar

Rasa aku

Mereka bilang jika aku menginjak kerikil tajam hanya akan menyakiti diri sendiri.
Aku bilang, aku bukan menginjak kerikil tajam, namun aku melangkah diatasnya...
Bukan untuk menginjak...
Namun untuk merasakan lagi apa itu rasa.

Melawan arah tidak selamanya melawan angin kan?
Jika lentera mati maka akan gelap kan?
Namun tidak...
Aku memang tidak melawan arah,pun melawan angin... aku mencari arah dan mengikuti angin untuk dipandu.
Lenteraku mungkin mati sesaat...
bukan untuk padam selamanya.
Namun mengisi ulang bahan bakar.
Agar terangnya bisa semakin benderang.

Bukan lagi tanya kenapa.
Tapi aku tau aku merasa.
Damai bertanya dan bermonolog.
Lunglai menjawab tebak dalam makna.
Namun terbelah dalam membelah pinta.

Aku bukan analogi.
Aku bukan kata kata.
Aku bukan juga digma dalam paradoks penuh rahasia berbait sastra.
Aku irama tanpa nada.
Sunyi tanpa hening.
Terang tanpa gemerlap.

Dan aku,
memiliki tulus penuh makna yang penuh.
tidak lagi mengaduh.
tidak lagi membasuh.
Namun bersiap akan utuh.

Setidaknya,
ruang baru akan selalu menjadi tuju.
Bukan tempat untuk lari bertampah bisu.
Ringan benak...
Mungkin masih berat berpijak.
Namun hati dan suara kisi nurani,
hanya semakin menajamkan intuisi.

Para pendahulu menyebutnya cinta.
Aku menyebutnya 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚋𝚊𝚛𝚞.
Rasa yang belum pernah kukenali dalam lamat.
Rasa yang menumbuhkan hal baru.

Jika ini sia-sia.
Maka akan kuminta pada tuhanku.
untuk semakin memperbanyak rasa ini
dalam garis tuntunan yang penuh.

Menunjuk diri sebagai petuah dalam nasihat terdampak.
Bukan lagi mengusaha akan riak gelombang saling tanya.
Namun paham...
Bahwa rasa, tidak akan mudah kalah, oleh para petarung kehidupan kan?

maka...

fabiayyi ala irabbikuma tukadziban...

semangat hai diri...
semangat hai kamu...

semangat aku..


Feb 4, 2022 1 komentar

SEA --- 1




Diam. Hanya itu yang dapat aku lakukan. Mereka akan melihatku menjadi seorang yang aneh jika aku mendadak menjadi banyak bicara. Buatku, diam adalah istanaku. Benteng terbesarku yang mampu melindungiku dengan kokoh. Banyak yang mempertanyakan sikapku yang diam seperti ini. Diam, dingin, jarang tersenyum, dan seperti enggan menjalani hidup. Aku tidak peduli yang lain berpendapat apa. Sikap ini, adalah satu-satunya pelindungku. Pelindung yang paling aman sedunia. Pelindung dari efek samping sebuah keluarbiasaan yang ada dalam diriku. Keluarbiasaan yang ingin kubuang jauh-jauh dan kulepaskan dengan suka rela. Tapi itu tidak mungkin terjadi,,, kecuali ada seseorang yang menusukkan pisau langsung tepat kejantungku.
                Namaku Sea. Sea yang memiliki arti laut. Pamanku yang memberikan nama itu ketika aku masih bayi. Menurutnya, Sea adalah nama yang tepat untukku. Dengan kecantikan laut yang luar biasa saat sore hari. Warna biru laut yang tenang namun penuh ombak. Dan kedalamannya yang kadang tak terukur. Ia memberikan nama itu untukku dengan segala kecintaannya pada laut bebas dan segala tumpah ruah kasih sayangnya padaku saat itu.
                Banyak yang mengira, aku dan Paman adalah ayah dan putri kesayangannya. Sebenarnya tidak. Aku yatim piatu ketika Paman menemukanku di lautan lepas saat ia berlayar. Entah dari mana asalnya. Ia melihat sebuah perahu kecil terombang-ambing tidak jauh dari kapal yang ia tumpangi. Begitu melihat isi perahu kecil tersebut, ia menemukanku. Sendirian.
               
                “FAHMIII!! AKU MELIHAT SESUATU DISANA!!” Manson menunjuk-nunjuk sesuatu yang ia lihat tak lazim di lautan lepas. Deru angin yang membantu ombak mengombang ambingkan perahu sederhananya memaksanya untuk berteriak agar suaranya tak tertiup angin kencang untuk sampai ke telinga Fahmi, sang sahabat yang selalu berlayar menemaninya kemanapun dalam kegilaan lautan lepas.
                Fahmi cepat tanggap, dengan sigap ia segera membuka layar agar cepat sampai ke objek yang terlihat oleh mata teliti Manson. Begitu dekat, Manson mulai mengenali wujud benda itu. Ternyata sebuah mangkuk besar terbuat dari, “Apa ini?” Manson tidak bisa mengenali mangkuk besar itu terbuat dari apa, dia baru melihatnya saat itu. Tapi, ia sangat tau apa yang ada didalamnya. Seorang bayi perempuan yang putih bersih,kulitnya bersinar tersentuh warna matahari. Manson terkejut, ia tidak habis pikir bagaimana seorang bayi cantik nan mungil bisa ada dilaut lepas seperti ini? Manson mengambil tongkat pengait yang biasa ia pakai untuk menarik jaring ikan. Dan mengangkat mangkuk besar tersebut keatas, lalu mengambil sang bayi dengan penuh kelembutan. Sikapnya yang penuh kelembutan itu, membuat Fahmi sahabatnya terheran-heran. Perawakan tinggi besar dan bertato jangkar di pelipis Manson, sama sekali tidak menunjukkan kalau Manson bisa menggendong bayi. Ditambah bayi itu sepertinya tersenyum senang ditimang-timang oleh Manson. Bayi yang sangat cantik, benar-benar cantik.
                “Pemandangan langka melihat Manson menggendong bayi seperti itu,,” gumam Fahmi sambil kemudian menutup layar yang tadi ia kembangkan, terlebih lagi Manson menggendong bayi diatas perahu yang sedang diombang-ambingkan ombak kencang. “Tunggu dulu!” aktifitas Fahmi mendadak terhenti, ia seperti baru menyadari sesuatu. “ ITU BAYI!!!” Teriaknya langsung berbalik badan kearah Manson.
                Seolah terbius dengan kecantikan sang bayi, Manson tidak memperdulikan keterkejutan Fahmi, ia menjawab dengan sangat lembut namun tegas, “ Iya ini bayi,,, ini anakku,, namanya Sea”  jelas Manson tanpa sedikitpun menoleh dari bayi cantik tersebut.
                “Sea! Tolong buatkan aku teh hangat ya!” suara paman mengagetkanku. Ia tampak terburu-buru melepas jaket hujannya yang basah kuyup begitu masuk kerumah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
                Aku menoleh padanya dan melihat keluar jendela. Aku baru sadar kalau diluar sedang hujan. Aku lalu menutup buku yang sedang kubaca dan mencoba membantu Paman yang tampak kesulitan melepaskan jaket hujannya.
                “Sudah, sudah,, Aku bisa melakukannya sendiri,, tolong kamu buatkan teh hangat untukku sana,,” 
                “Iya,,” aku mengangguk lalu ke dapur, dengan cekatan aku menyalakan kompor dan memanaskan air. Sementara aku mengambil cangkir raksasa milik Paman, dan menuangkan gula tiga sendok, kemudian menaruh teh celup yang kuambil dari dalam toples untuk persediaan sebulan. Paman suka sekali teh, ia bukan penggila kopi. Tidak seperti sahabatnya sekaligus partner kerja yang terkadang membuat Pamanku pulang sambil menggerutu tidak jelas, atau malah tersenyum sendiri. Paman Fahmi suka sekali kopi pahit, jika beliau berkunjung kemari, pasti nomor satu yang ia tanyakan. “Sea, ada kopi?”
                “Tentu saja ada paman,,” jawabku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Padahal walaupun ia tidak menanyakannya pun akan kubuatkan kopi special untuknya. Paman Fahmi baik sekali padaku, dan sifatnya yang humoris sering membuatku tertawa terpingkal-pingkal mendengar kisah-kisah lucunya yang terjadi di laut bersama Paman Manson.

                Hari ini sepertinya ada pembicaraan seru yang terdengar olehku dari pembicaraan sepasang bibir dua sahabat itu. Bukan maksud menguping, tetapi suara dentingan adukan sendok dengan cangkir ini dikalahkan oleh suara berkelakar dua manusia seram namun memiliki hati selembut seorang ibu.  Aku mendengarkannya dengan seksama. Malah tanpa sadar, aku menghentikan adukan tehku hanya sekedar agar suara dentingannya tidak mengganggu pendengaranku akan pembicaraan mereka.
               
                “Kalau saja tadi kita cepat sedikit! Dan angin ada dipihak kita,, makhluk itu pasti tidak akan bisa kabur begitu saja!!!” Ujar Fahmi menggebu-gebu.
                “Harusnya tadi kau mendengarkan aku! Jangan langsung bertindak! Kita tunggu dulu makhluk itu mendekat, lalu kita jaring! Kau sungguh tidak sabaran Fahmi!”
                Fahmi memegang dagu tengah berfikir, seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu.
                “Fahmi,, apa kau berfikiran hal yang sama denganku?” Manson mencoba menelisik apa yang sedang difikirkan sahabatnya itu.
                Fahmi menaikkan satu alisnya. Itu tandanya iya.
                Wajah Manson memerah. Menahan amarah dan ketakutan yang luar biasa,tangannya mengepal membuat urat-urat hasil kerja kerasnya menunjukkan diri.
                Fahmi tidak bisa berkomentar apa-apa. Ia mengerti perasaan sahabatnya itu begitu makhluk tadi itu muncul. Sesuatu yang sulit dijelaskan namun mengancam.
                Manson memukul meja,lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang kesetanan. Disusul oleh tawa Fahmi yang juga seperti orang kesetanan. Dua sahabat ini memang cocok satu sama lain.
                Setelahnya, Manson menarik lengan baju Fahmi dengan kasar dan setengah berbisik ke telinga Fahmi, “aku tidak akan membiarkan milikku diambil oleh siapapun,termasuk makhluk itu!”
               
                Aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua laki-laki bertubuh besar ini. Ah paling dilaut mereka dikerjai lagi oleh lumba-lumba yang jahil. Kedua pamanku ini entah kenapa anti sekali membunuh lumba-lumba. Tapi baguslah, kalaupun mereka tidak antipati seperti itu, aku yang akan menentang mati-matian jika mereka pada akhirnya memutuskan untuk membunuh lumba-lumba salah satu jenis ikan kesayanganku.
                Aku menaruh nampan berisi gelas-gelas besar kopi dan teh, pesanan mereka. Tidak lupa pula sekalian aku menyuguhkan cake manis buatanku tadi malam untuk teman minum mereka. Paman Fahmi yang lebih dulu melahapnya. Dan memuji rasa kue buatanku ini.
                “Enak sekali Sea kue ini,, kamu yang membuatnya?” Tanya paman Fahmi kemudian menyeruput kopi kesukaannya. “Ahhh paduan yang pas! Kopi dan kue manis buatan si anak cantik Sea,,”
                Aku menyunggingkan senyum mendengarnya.
                Kemudian Paman Manson juga ikut mencicipi, aneh, biasanya dia juga tidak pernah absen memuji apapun buatanku. Rahangnya yang sedang menyeruput teh buatanku terlihat tegang. Aku tau itu artinya apa, pasti ada yang sedang ia khawatirkan. Dan yang bisa membuatnya seperti itu hanya kekhawatirannya tentang aku.
                “Paman,, aku tidak apa-apa,, aku baik-baik saja,, aku sudah tidak mengalami sakit lagi akhir-akhir ini,,” Jelasku sambil meraih jemarinya, mencium punggung jemari yang kasar itu sebagai tanda hormat dan memeluk tubuh besarnya sebagai tanda kasih sayangku pada pamanku ini.
                Dan akhirnya, rahangnya yang keras itu mereda. Ia menyunggingkan senyum hangat yang menjadi favorit dalam hidupku. Senyuman hangat seorang ayah yang penuh dedikasi menjaga putrinya. Walaupun sebenarnya ia bukan ayah biologisku, tapi perlakuannya melebihi seorang ayah kandung sekalipun. Senyum paman Fahmi juga ikut merekah melihat pemandangan indah ini. Ya tuhan,, aku begitu bahagia ada di tengah-tengah mereka. Biarkan mereka tetap menjadi alasan untukku bertahan di hiruk pikuk daratan penuh pasir pertahanan ini.

***

                Dandelion,, satu-satunya temanku di desa nelayan ini yang selalu setia dan pasti menjaga semua kerahasiaanku pada kehidupan disekelilingku. Namanya indah sekali, seindah ketulusan nan jernih dari hatinya. Meskipun banyak pria disini mencemooh dan mengucilkannya, sebenarnya mereka hanya melihat dari fisik Dandeli saja. Sahabatku ini sangat mempesona begitu dia mencurahkan imajinasinya pada sebuah kanvas. Sebuah kanvas berisi lukisan indah yang dipandang sebelah mata oleh mereka yang tidak mengerti apa itu karya seni. Dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang mengerti seni namun mendadak menjadi tidak mengerti seni begitu melihat fisik sang pelukis. Seorang gadis pincang pada sebelah kaki kirinya, dan dilengkapi oleh kelainan pada kulitnya yang memiliki pigmentasi kurang sempurna. Atau mereka menyebutnya dengan albino yang pincang.
                “Sea,, apa menurutmu Ibuku telah memberiku nama yang salah?” tanya Dandeli tiba-tiba ketika kami sedang merenung diatas tebing yang bisa langsung terlihat lautan lepas dari atasnya.
                Aku memiringkan kepalaku dan menaikkan alis, “Dandelion? Memangnya ada yang salah dengan nama itu?”
                “Bukankah seharusnya aku diberi nama si Aneh? Atau si Pincang? Seperti yang mereka katakan padaku? Nama Dandelion terlalu indah dan berat untuk kupikul Sea,,” jawabnya sedih.
                Aku menoleh kearahnya, menatap matanya yang tidak mampu membalas menatapku sebagai sahabatnya karena sedang kepayahan menahan air mata yang semakin menetes. Hamparan lautan lepas dibawah sana membantuku mencari cara agar Dandeli tidak melarut dalam kesedihannya akan pengaruh perkataan manusia-manusia kejam disekeliling kami.
                “Dandeli,, kamu tau kenapa Paman Manson memberiku nama Sea?”
                Dandeli mengangkat bahu.
                “Sea adalah lautan. Katanya, dia menamaiku seperti itu, karena aku ditemukan dilautan lepas. Kamu tau kan Pamanku itu sangat menyukai Laut. Dia menyayangiku, makanya dia menamaiku dengan nama Sea,berharap nantinya,, aku akan seperti lautan,, Luas dan dalam ketika mengarungi kehidupanku nantinya,,“
                Berhasil, Dandeli menghapus airmatanya, “lalu apa arti Dandelion?” tanyanya.
                “Memangnya kamu tidak tau?” Aku menyenggol bahunya.
                “Aku tau, Dandelion adalah sebuah bunga kecil yang pernah ditemukan oleh ayahku sewaktu dia pergi menanjak ke sebuah gunung dimasa mudanya,,”
                “Ya,, Dandelion adalah sebuah bunga kecil,, bunga yang tidak pernah dijadikan pajangan cantik dalam pot-pot diatas meja, karena dia tidak secantik mawar yang berduri. Dia juga tumbuh di tengah-tengah ilalang, sehingga dia tersembunyi dibalik rerumputan.Namun angin sejuk kehidupan pasti menemukannya, dia akan terbang bebas dan berhenti disuatu tempat, memulai kembali menjadi bunga baru yang indah. Mungkin dari luarnya Bunga Dandelion terlihat rapuh dan biasa saja, tapi tidak semua bunga bisa berteman dengan angin dan terbang bersama angin kan? Bunga mawar? Ya dia cantik, tapi hanya diam di tempat dan menunggu orang lain memetiknya,, sedangkan Dandelion, dia bisa terbang kemanapun dia inginkan dibantu oleh angin kehidupan yang membawanya,,”

                Dandeli tersenyum haru mendengar kata-kataku. Aku senang melihat sahabatku ini kembali menyunggingkan senyumnya.
                “Ini untukmu Sea,,” Dandeli melepaskan gelang kaki nan cantik dari kakinya yang pincang.
                Aku terkejut melihatnya. “Kenapa? Bukankah ini jimat dari almarhum ayahmu agar kakimu kuat saat berjalan?”
                “Ya,, lalu kenapa?” Ujarnya santai.
                “Bukankah ini benda berharga dalam hidupmu Dandeli? Aku tidak bisa menerimanya,,” aku memberikan kembali gelang kaki itu ke telapak tangannya.
                “Ya ini berharga sekali bagiku,, oleh karena itu, aku ingin kamu menjaganya. Saat ini aku tidak memerlukan kekuatan untuk melangkah, kamu tau kan? Aku memiliki angin untuk terbang tinggi memenuhi harapanku,, tapi kamu,, kamu lebih membutuhkan kekuatan dari jimat ini untuk melangkah mengarungi hidupmu yang lebih sulit dan luas dariku Sea” dengan lembut, Dandeli memakaikan gelang kaki cantik itu ke kaki kananku dan tersenyum puas setelahnya. “Lihat,, lebih cantik jika kaki indahmu yang memakainya,,” ucapnya dengan senyum mengembang.

***
               
                Angin malam hari ini sangat kencang sekali bertiup. Kerincingan anginku dijendela tidak henti-hentinya bermain. Dan aku masih memperhatikan gelang yang ada dikakiku ini. Cantik dan berharga. Apa benar kata Dandeli, aku masih belum memiliki kekuatan yang cukup untuk mengarungi hidupku yang luas, makanya dia memberikanku gelang ini dan memakaikannya langsung dikakiku.
                Argh! Sakit itu datang lagi! Dada ini berdebar tidak karuan, seolah ingin menguak kulitku dari dalam. Bersamaan dengan rasa sakit itu bayangan-bayangan yang tidak kukenali muncul dikepalaku dan membisikkan suara-suara tidak jelas. Apa ini? Aku terbungkuk dan beringsut di lantai kamarku. Mencari-cari obat penghilang rasa sakit yang luar biasa kurasakan. Tapi percuma, yang kubutuhkan hanya air laut! Aku menguatkan diriku melangkah keluar, berusaha tidak membuat suara agar paman tidak mengetahui apa-apa mengenai aku.  Aku melepas paksa gelang kaki pemberian Dandeli, suara gemerincingnya bisa membangunkan paman. Kulempar gelang itu ke atas tempat tidur dan segera keluar, tujuanku satu-satunya adalah tebing.
                Angin kencang menerpa wajahku dan menghapus jejak-jejakku dipasir. Dada ini semakin sakit dan membakar. Kepalaku dipenuhi bayangan-bayangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Aku harus ke tebing,, aku harus ke laut. Jika tidak orang lain selain Dandeli akan tau apa yang ada didiriku. Laut,, aku harus terjun ke laut atau sakit ini akan semakin menyiksaku. Aku ingin menghapus bayangan-bayangan yang ada dikepalaku saat ini. Bayangan-bayangan itu hanya membuat kepalaku sakit! Dan tanpa berfikir panjang,begitu aku sampai di tepian tebing yang dibawahnya terdapat hamparan laut nan dalam. 
                     Ini waktunya sakit ini selesai.

-to be continued-
 write by winda 
Jan 1, 2021 0 komentar

Monolog baru dihari kedua 2021


Bagaimana hari ini?
ketika kamu masih mencari tanda dari yang Maha satu akan pencarian?
mendulum dalam semak seolah mencari sebuah jarum yang patah dari sambungan lainnya?
selama kamu mampu untuk bersenda gurau dengan sengsara dalam hati, semua akan menjadi kebiasaan tanpa perlu dihiraukan.
kamu mungkin merasa baik baik saja, tapi dunia melihatmu sungguh mengenaskan.
atau malah mengagumkan?

angin segar akan selalu bersemilir meniup helai demi helai harapanmu yang masih terambing.
menjelajah akan manisnya sebuah angan yang bukan lagi milikmu.
tidak mengapa kamu melihatnya dengan kagum, mungkin ini akan menjadi sebuah jalan untuk kamu mulai belajar mengagumi perjuanganmu sendiri...

tidak semua kilau akan mendapat tempat untuk cemerlang...
dan tidak semua lusuh tidak memiliki tempat untuk kelak berkilau..

Kamu pun mendiamkan pikiranmu sendiri dan terabaikan suasana.
terabaikan dengan pilihan tanpa memilih...

kamu benar, pada saatnya ditelinga yang tepat untuk mendengar..
kamu baik, pada saatnya dihati yang tepat untuk memperbaiki.

kelak kamu akan mengerti...
apa fungsimu dalam memiliki jiwa dalam sebuah raga yang tidak sempurna...
apa fungsi dari keinginanmu yang belum tercapai...
dan 
apa fungsi hari ini dan berikutnya....

atau
ada pertanyaan lain yang lebih butuh untuk ditanyakan?








Jul 20, 2019 0 komentar
Nov 8, 2016 0 komentar

SEA 5 - Siapa?

   
sumber gambar : pinterest

   “Cepat beritahu ibu Dandeli,, apa yang kamu ketahui tentang Sea?”
                Dandeli hanya bisa menunduk. Dia tidak berani menatap kedalam mata ibunya, ia tau kalau sampai ia menatap ibunya, dia tidak akan bisa menyembunyikan setetes pun rahasia sahabatnya itu.
                Suara hujan diluar sana semakin membuat hawa dingin merasuk kedalam selimut mereka, hangatnya dekapan ibunda Dandelion tidak dapat melawan hawa dingin yang ada dalam benak Dandeli. Ingin sekali rasanya Dandelion menceritakan jejak demi jejak yang ada diingatannya mengenai Sea. Ingin sekali rasanya Dandelion menceritakan bagaimana kemilaunya Sea saat berada didalam lautan. Tentang bagaimana mengesankannya Sea yang bisa berlama-lama berada didasar laut. Tentang bagaimana munculnya insang yang ada dibalik telinga Sea. Tentang bagaimana tiba-tiba Sea menjadi manusia yang memiliki kelebihan luar biasa itu. Kelebihan yang tidak bisa diterima oleh mereka yang terlihat wajar. Ya, Dandelion tidak terlihat wajar, dia cacat, oleh karena itulah dia bisa menerima dan menjaga kepercayaan Sea mengenai itu semua. Mereka berdua sama-sama berbeda dari manusia lain.
***
                Setelah memindahkan Sea yang tiba-tiba rubuh dan pingsan ke dalam kamar, Samudra merasa sedikit bersalah terhadap Sea. Karena dia terlalu memaksa Sea untuk menceritakan hal berat yang baru dialaminya di laut.  Mungkin Sea benar mengenai kapalnya yang karam. Sekarang dihadapannya Sea dengan muka pucat dan tangan serta kakinya yang sedingin es terbaring diatas tempat tidur. Sam semakin tidak tega melihat kondisi Sea yang merintih-rintih dan mengigau tidak jelas. Dari kondisi fisiknya, Sam tau, Sea benar-benar sedang dalam kesulitan. Hanya saja, dia tidak tau apa yang harus diperbuat selain mengompres kening Sea dan menyelimutinya dengan selimut tebal dari lemari. Tapi ada satu hal yang yang mengganjal benaknya, jika benar Sea terombang-ambing dilautan, lalu mengapa kulitnya tidak terbakar? Justru Sea memiliki kulit yang berkilau dan bersih. Atau jangan-jangan Sea adalah,,, tapi tidak mungkin! Itu hanya sebuah dongeng dari ayahnya. Dongeng rakyat yang hanya mengandalkan imajinasi. Itu tidak mungkin.
***
sumber gambar : kwikku.com 

                Hawa yang begitu dingin dalam gelap ini mendadak merasuk menyerang pertahananku. Sepertinya salah jika aku malah membiarkan diriku masuk kedalam bayangan pikiran-pikiran ini. Hanya saja terlalu lelah dan menyakitkan untuk terus melawan selama ini. Mungkin ini sudah waktunya. Waktunya aku untuk selesai.
                “Sea,,,” ada yang memanggilku. Suara itu lagi.
                Aku mencari-cari siapa yang memanggilku dalam gelap ini. Ketakutan kembali menjalar memenuhi setiap ruang dalam diriku. Tapi entah kenapa, sesaknya keingintahuanku akan ribuan pertanyaan malah mengalahkan ketakutan itu sendiri. Mataku mencari-cari dalam gelap yang sangat hitam. Sampai aku menyerah dan tiba-tiba silau itu sekelebat datang dengan cepat. Silau yang berpendar menyakitkan mata untuk melihatnya. Namun lama kelamaan silau itu perlahan melembut dan menjadi kilau yang indah. Tarian warna-warni cahaya yang indah dan tidak pernah kulihat sebelumnya. Kilau aurora yang berkerlap kerlip dan mulai mengantarkan sesosok yang belum bisa kulihat jelas.
                “Sea,,” kembali suara itu memanggilku.
                Aku mendongak memaksakan untuk melihat siapa yang bicara padaku. Terkejut dengan apa yang kulihat. Aku seperti melihat cerminan diriku sendiri ketika sedang berada dalam laut. Wanita ini persis mirip sekali denganku, hanya saja kulitnya yang lebih berkilau dan matanya yang berwarna hijau menjadi pembeda antara kami. Dia juga lebih cantik dalam balutan gaun yang baru kali ini kulihat jelas dalam bayanganku. Siapa dia? Bibirku tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun. Aku mengenali suaranya, suara yang selama ini selalu mengganggu benakku. Yang membisikkan berbagai hal yang tidak bisa kumengerti sama sekali. Dia yang selama ini menggangguku dalam kehidupan sebagai manusia normalku. Mendadak kemarahanku memuncak. Dialah yang membuat aku merasakan sakit yang luar biasa dan sesak yang luar biasa selama ini. Dialah yang telah membuatku seperti ini! Menjadi manusia aneh! Entah sihir apa yang dia lakukan padaku hingga membuatku seperti ini. Aku sangat membencinya, siapapun dia. Aku benar-benar membencinya dengan segenap hatiku.
                “Sea,, dengarkan aku. Kamu sudah berada ditempat yang tepat dan aman! Dan,,,” belum selesai wanita itu selesai bicara, aku melihatnya seperti menahan sakit yang luar biasa. Aku tau, aku juga seperti itu ketika sakit itu datang. “,,dan,, jangan berikan kepada siapapun kalung itu!”
BLASH! Seketika silau cahaya yang menyakitkan mata itu datang dan menghilang dengan cepat. Semua kembali gelap.
***
Samudra masih berada didalam keraguannya sementara Sea belum sadar. Apakah Sea benar-benar salah satu kaum yang ada dalam cerita rakyat yang ayahnya pernah ceritakan? Jika dirunut dari keanehan-keanehan dan cerita janggal serta betapa indahnya fisik Sea, Sam yakin jika dugaannya benar. Tapi yang membuatnya ragu, apakah cerita rakyat itu benar-benar pernah terjadi?
Tiba-tiba Sea membuka mata dan mendapati Sam sedang menatap. Matanya masih terasa berat dan alam sadarnya masih membuatnya linglung. Sea masih memikirkan kata-kata wanita yang ada dalam bayangannya tadi. Ia bahkan tidak memedulikan tatapan penuh pertanyaan Sam.
“Boleh aku minta air?” pinta Sea pada Sam yang masih menatap kearahnya.
Sam masih menatap.
“Heiii Sam,, aku haus,,” kibasan tangan Sea tidak membuat Sam bergerak.
Sam masih menatap Sea. Sam teringat sebuah kisah yang ayahnya pernah ceritakan. Sebuah rahasia lautan yang tidak semua orang dapat ketahui. Kehidupan penuh misteri dalam air yang sampai saat ini belum bisa terungkap kebenarannya. Meskipun beberapa bukti telah ada di beberapa museum, namun banyak para peneliti yang menyerah untuk memecahkan misteri itu semua.
Sea geram, lalu mengambil bantal dan melemparnya langsung ke wajah Sam. Tapi tangan Sam lebih cepat daripada yang Sea kira. Secepat kilat Sam menangkis bantal yang dilempar Sea, kemudian langsung mencengkeram lengannya.
“Siapa kamu Sea?”

Total Pageviews

Blogger templates

 
;