Hujan turun sejak pagi, membuat kota terasa lebih tenang dari biasanya. Nara berdiri di depan pintu rumahnya, menatap halaman yang basah, merapatkan hoodie ke lengannya. Tepat saat itu, Kelana datang.
Kelana membuka helm, napasnya masih berkabut oleh udara dingin. “Nar,” ujarnya, “ikut aku jalan sebentar?”
Nara mengangkat alis. “Gerimis begini kamu ngajakin aku?”
Kelana mengangkat bahu. “Kalau nunggu terang, nanti keburu lebaran. Ayo.”
Nara masuk mengambil jaket, lalu menghampiri lagi. “Oke. Aku ikut.”
Mereka melaju pelan. Gerimis yang menetes di kaca helm menciptakan pola kecil yang ikut bergerak bersama angin. Lampu jalan tampak seperti garis panjang yang ditarik tangan seseorang yang sedang ragu.
Di kepala Kelana, suara kecil muncul—jujur, tapi tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Nar, kamu itu ribut di kepalaku, bahkan waktu kamu diam. Bukan ribut yang bikin capek, tapi ribut yang membuatku sadar kalau aku nggak mau kehilangan arah ke kamu.
Mereka berhenti di taman kecil. Gerimis jatuh halus, lebih seperti tetes kecil daripada hujan.
“Kenapa ngajak aku keluar?” tanya Nara, duduk di bangku yang setengah basah.
Kelana duduk di sampingnya, menahan napas satu detik. “Aku cuma ngerasa komunikasi kita belakangan berantakan. Aku nggak mau kita salah baca satu sama lain.”
Nara menatap tanah. “Makanya aku diam. Takut salah tanggap.”
“Malah bikin makin jauh,” jawab Kelana tenang. “Nar, aku nggak pernah niat menjauh. Kalau aku diam, itu karena aku lagi beresin pikiran.”
Nara mengangguk. Lalu dengan suara lebih rendah, “Tapi, Kel… kemarin kamu bilang kamu lelah. Kenapa?”
Kelana menarik jaketnya sedikit, memastikan suaranya tidak menggantung. “Aku lelah sama hari-hari yang padat, bukan sama kamu. Lelah sama hidup, bukan sama kita. Jangan tarik kesimpulan yang bukan-bukan.”
Dalam kepalanya, suara itu muncul lagi. Kamu bukan beban, Nar. Kamu justru yang bikin kepalaku sedikit lebih waras. Aku hanya takut ngomong dan malah bikin kamu mikir yang enggak-enggak.
Nara menghela napas. “Aku kira aku penyebabnya.”
“Kalau kamu penyebabnya, aku bilang,” balas Kelana jujur.
Hujan turun lebih halus, seakan memberi ruang pada percakapan.
“Kamu masih sabar?” tanya Nara.
Kelana tersenyum kecil. “Nar, aku jemput kamu hujan-hujanan cuma buat ngobrol. Menurutmu itu jawaban yang kurang jelas?”
Di kepalanya, ia membatin, Aku sabar bukan karena aku kuat, tapi karena kamu penting.
Nara tersenyum. “Iya… aku paham.”
Mereka diam beberapa saat, tapi bukan diam yang menakutkan. Diam yang memberi ruang bernapas.
Hingga akhirnya Kelana berkata, “Nar, besok kita cari makan yuk? Yang santai aja. Kita lihat nanti mau ke mana.”
Nara mengangguk. “Boleh. Tinggal ngomong aja.”
Kelana tersenyum tipis. Syukurlah, batinnya. Aku cuma butuh kamu bilang iya.
Angin tiba-tiba mendorong hujan ke arah mereka. Nara terkesiap, menutup kepala pakai tangan.
“Tuh,” kata Kelana sambil tertawa, “hujannya yang usil, bukan aku.”
Nara tersenyum.
Mereka berjalan menuju motor. Saat Nara memasang helm, Kelana sempat meliriknya satu detik lebih lama.
Dalam kepalanya, suara itu muncul lagi—jujur, sederhana.
Walaupun kamu nggak sadar, Nar, aku datang bukan buat menyelamatkan apa pun. Aku cuma pengin kamu.
Saat hampir naik ke motor, Kelana berkata, “Nar, besok jangan pakai hoodie yang ini. Dia udah keliatan trauma.”
Nara bengong, ”Hah?"
Mereka melaju pulang di bawah gerimis yang menutup malam perlahan. Tidak ada janji besar. Tidak ada kata-kata yang dibuat indah.
Tapi di tengah jalan yang basah itu, dua orang saling memilih dengan cara yang paling sederhana.
Kadang, itu jauh lebih kuat daripada apa pun kan?








- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact