Nov 21, 2025 0 komentar

cerpen bikinan AI🌱💕



Hujan turun sejak pagi, membuat kota terasa lebih tenang dari biasanya. Nara berdiri di depan pintu rumahnya, menatap halaman yang basah, merapatkan hoodie ke lengannya. Tepat saat itu, Kelana datang.

Kelana membuka helm, napasnya masih berkabut oleh udara dingin. “Nar,” ujarnya, “ikut aku jalan sebentar?”

Nara mengangkat alis. “Gerimis begini kamu ngajakin aku?”

Kelana mengangkat bahu. “Kalau nunggu terang, nanti keburu lebaran. Ayo.”

Nara masuk mengambil jaket, lalu menghampiri lagi. “Oke. Aku ikut.”

Mereka melaju pelan. Gerimis yang menetes di kaca helm menciptakan pola kecil yang ikut bergerak bersama angin. Lampu jalan tampak seperti garis panjang yang ditarik tangan seseorang yang sedang ragu.

Di kepala Kelana, suara kecil muncul—jujur, tapi tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Nar, kamu itu ribut di kepalaku, bahkan waktu kamu diam. Bukan ribut yang bikin capek, tapi ribut yang membuatku sadar kalau aku nggak mau kehilangan arah ke kamu.

Mereka berhenti di taman kecil. Gerimis jatuh halus, lebih seperti tetes kecil daripada hujan.

“Kenapa ngajak aku keluar?” tanya Nara, duduk di bangku yang setengah basah.

Kelana duduk di sampingnya, menahan napas satu detik. “Aku cuma ngerasa komunikasi kita belakangan berantakan. Aku nggak mau kita salah baca satu sama lain.”

Nara menatap tanah. “Makanya aku diam. Takut salah tanggap.”

“Malah bikin makin jauh,” jawab Kelana tenang. “Nar, aku nggak pernah niat menjauh. Kalau aku diam, itu karena aku lagi beresin pikiran.”

Nara mengangguk. Lalu dengan suara lebih rendah, “Tapi, Kel… kemarin kamu bilang kamu lelah. Kenapa?”

Kelana menarik jaketnya sedikit, memastikan suaranya tidak menggantung. “Aku lelah sama hari-hari yang padat, bukan sama kamu. Lelah sama hidup, bukan sama kita. Jangan tarik kesimpulan yang bukan-bukan.”

Dalam kepalanya, suara itu muncul lagi. Kamu bukan beban, Nar. Kamu justru yang bikin kepalaku sedikit lebih waras. Aku hanya takut ngomong dan malah bikin kamu mikir yang enggak-enggak.

Nara menghela napas. “Aku kira aku penyebabnya.”

“Kalau kamu penyebabnya, aku bilang,” balas Kelana jujur. 

Hujan turun lebih halus, seakan memberi ruang pada percakapan.

“Kamu masih sabar?” tanya Nara.

Kelana tersenyum kecil. “Nar, aku jemput kamu hujan-hujanan cuma buat ngobrol. Menurutmu itu jawaban yang kurang jelas?”

Di kepalanya, ia membatin, Aku sabar bukan karena aku kuat, tapi karena kamu penting.

Nara tersenyum. “Iya… aku paham.”

Mereka diam beberapa saat, tapi bukan diam yang menakutkan. Diam yang memberi ruang bernapas.

Hingga akhirnya Kelana berkata, “Nar, besok kita cari makan yuk? Yang santai aja. Kita lihat nanti mau ke mana.”

Nara mengangguk. “Boleh. Tinggal ngomong aja.”

Kelana tersenyum tipis. Syukurlah, batinnya. Aku cuma butuh kamu bilang iya.

Angin tiba-tiba mendorong hujan ke arah mereka. Nara terkesiap, menutup kepala pakai tangan.

“Tuh,” kata Kelana sambil tertawa, “hujannya yang usil, bukan aku.”

Nara tersenyum.

Mereka berjalan menuju motor. Saat Nara memasang helm, Kelana sempat meliriknya satu detik lebih lama.

Dalam kepalanya, suara itu muncul lagi—jujur, sederhana.

Walaupun kamu nggak sadar, Nar, aku datang bukan buat menyelamatkan apa pun. Aku cuma pengin kamu.

Saat hampir naik ke motor, Kelana berkata, “Nar, besok jangan pakai hoodie yang ini. Dia udah keliatan trauma.”

Nara bengong, ”Hah?"

Mereka melaju pulang di bawah gerimis yang menutup malam perlahan. Tidak ada janji besar. Tidak ada kata-kata yang dibuat indah.

Tapi di tengah jalan yang basah itu, dua orang saling memilih dengan cara yang paling sederhana.

Kadang, itu jauh lebih kuat daripada apa pun kan?


Notes:
Nyobain nulis cerpen ini pakai bantuan Ai, mindblowing! Ternyata bener ya... Kalo ga pinter2 nulis pake rasa, bakalan bisa digantiin sama Ai! 

Beberapa kali sempet error ga bisa masukin gambar, udah suuzon akun gw diretas oleh mereka lagi. Yaudahlah... 

Jadi gimana hasil Ai?

Beda ya sama hasil tulisan saya, udah coba masukin prompt hasilnya harus berkali kali direvisi. Kalo nulis sendiri langsung jadi malah. 

Nanti kita bahas. Sambil ngupi 😉🌱💕




Nov 19, 2025 0 komentar

Other random pleasure?

 


Melihat alur baris rapi ilmu pengetahuan, membawa jiwa dalam lekat teladan.
Menderma karsa dalam kias berbuku buku.
Jiwa kecil menjelma tata surya tak terhingga.
Menyadur bilangan ganda tanpa jeda.
Memaknai diri bahwa semesta kecil dicipta illahi dalam raga.
Mengetahui lantang jika selamanya jiwamu hanyalah pembelajar.
Kosong tanpa pengetahuan yang luasnya melebihi tata surya.
Yang maknanya tidak terjawab sebatas luas bumi.
Kamu sadar dan tegar, bahwa hidup selalu dalam dan nyaman akan rahasia rahasia tidak terungkap.
Dan melupa sadar, bahwa egomu melebihi luasnya rahasia tatasurya yang ALLAH jaga dan hidang dalam tidak genggam dan tidak tadah seperti yang selama ini diagungkan semesta?

...


Semesta kecil ada dalam kepala.
Dalam aliran darah.
Dalam jiwa yang diluruh asa.
Dalam pemikiran yang penuh tentang.
Dalam sukma yang berpeluh tuah.
Dalam lapar bertabur tuai.
Dalam henyak beranjak terpijak.
Dalam kilau hingga pukau.


Bertumbuh, menumbuh yang selalu ditabuh.
Hingga belabuh dalam rusuh nan utuh.
Saling bertemu jiwa nan saling butuh.
Saling menaruh sauh dan rengkuh doa yang riuh.
Agar tetap penuh dalam bisik kisruh.



Kamu, aku, mereka, kita, dia, kalian...
Dengan isi kepala dan rasa yang berbeda.
Dengan cita dan citra tanpa paksa akan rasa.

Semua manusia berhak bahagia dalam dawainya.
Semua jiwa berhak merasa dalam garisnya.

Pun berhak memilih apapun yang membuatnya bahagia.
Dalam perjalanan hidupnya.
Dalam sisa usianya.

Dalam garis yang tidak ditentang sang pencipta. 

Benarkah?
Entahlah.
hehe

-----
While listening Yiruma,again n again... 🌱💕













Nov 18, 2025 0 komentar

Hinterweltler!

 


Membahas rancangan Undang Undang no.8 tahun 1981, tentang hukum acara pidana atau RUU KUHAP yang kontroversial.

-Tentunya dari isi kepala saya tanpa kepentingan politik apapun, dan hanya berpihak pada apa yang saya anggap adil-

Pertanyaan yang timbul dikepala adalah, kenapa ini menjadi berat sebelah? Siapa pencetusnya? Dan akan digunakan untuk melawan siapa? 

Pelan pelan. Kita lihat ini dari analogi bola bowling. Dari pattern yang ada saya melihat mereka memakai ini untuk dijadikan bola bowling. Analogi absurd dan sederhana yang tiba tiba muncul dalam kepala. Item ini, diibaratkan bola bowling. Permainan lempar bola yang tidak dilakukan dilapangan luas namun tempat khusus, dimana bola tersebut berat, karena bukan bola tendang atau bukan bola voli yang dilempar melambung ataupun bola basket yang dimasukkan kedalam ring basket. Mulai kebayang ya?

Jika bola sudah berjalan, tidak boleh ada intervensi. Seperti paket yang sudah masuk jalur conveyor: biarkan sampai tujuan. Begini kan istilahnya. 

Curious siapa pemain bowling nya. Apa yang diincar, tentunya incarannya dalam hitungan seperti jumlah pin, dan kenapa harus sedemikian rupa menyusun RUU ini tanpa malu mengungkap kecurangan secara terang, bisa jadi 'calon tersangka'nya nanti adalah oknum yang sebelumnya tidak bisa tersentuh hukum dengan undang undang dan pasal sebelumnya. Kira kira siapa?

Dari berbagai hal kontrovesial yang dihidangkan, saya melihat ini dibuat khusus untuk sebuah pertandingan bowling yang dibuka bukan untuk umum. Tapi, ini bisa dijadikan senjata untuk pembungkaman.

Let see under the surface.
Let see under the layer.

Tau hukum pelat chladni?
Gelembung suara menghantam permukaan, menciptakan getaran beberapa bagian permukaan lebih bergetar, yang lain nyaris tak bergerak. Pasir secara alami bergeser menjauh dari area yang bergetar dan menetap ke yang diam membentuk pola yang tepat. BUKAN DESIGN ACAK.

Saya bukan ahli hukum. 
Cuma manusia penuh critical thinking yang resah. Jika hal ini berdampak pada rakyat jelata.
Faktanya, tanpa adanya pasal ini saja sudah bejibun korban salah tangkap kan? Atau bahkan korban yang sengaja ditangkap padahal tidak bersalah? Entahlah. 

We live in city we never see on screen.


Nietzsche-

Telah senantiasa kutuliskan tulisan tulisanku dengan segenap hati dan jiwaku, aku tak tau apa yang disebut persoalan intelektual murni itu, kalian kenali ini sebagai harga sebuah buah pikir.












Nov 16, 2025 0 komentar

Hopeless?

Menjadi diam dalam bahasa radar, bukan karena menjauh dan meninggalkan.
Memilih menjaga dari jauh, bukan karena meragu.
Namun memberi kesempatan pada suara hati untuk mendengar lebih lantang 'sebuah keyakinan' yang pudar pada berisiknya hal diluar prioritas yang seharusnya.

Then tell me everything... 
Aku b u k a n musuh.
Kita satu tim!




Lets grow together.
Not throw each other.

Tell me everythng...
Calming each other..


do it together...
Cuz,


Im still waiting...
🌱💕








Nov 12, 2025 0 komentar

Just some random thought...


Samudera, membawa petunjuk pada lapang tanpa tepi.
Seperti sajinya tudung dalam berbagai diorama kilau hidup yang penuh ombang dan ambing kenang atau renang bertarung arung?
Menghanyutkan imaji dalam dalam, demi dekap sang ilahi robbi?
Bias pencapaian memudar sejenak ketika takut merajam dalam liang yang terbayang dalam kesendirian kain kafan nantinya?
Menyandang aku dalam diri ke aku-an yang memakna senyap penuh kias dalam ringkas selam diam diam.
Menyadur lagi menyaruk tersaruk senyawa damai yang entah bagaimana rasanya penuh dilingkup penuh kuyup.
Hijau daun daun basah rebah dalam henyak yang banyak. 
Memikirkan timpang dalam kenyang yang melayang akan selayang bidang rindang masa depan?
Berbagai dendang tidak lagi menjadi sindang yang mendinginkan sejuk.
Peluk hati yang dinilai rinai rinai tunai berurai dawai. 
Namun ku nyata dan benar akan rasa damai.
Bagaimana Tuhan begitu baik memekik terik nan cantik sesudah badai?
Bagaimana aku meragu pada janji Tuhan yang penuh nyawa bernadi?
Bagaimana dengan raga yang bertindak tepat tidak melayak berdampak?




I love water thats why i love my self... Cuz i am the water...
~🌱💕 
Still listening yiruma~










Nov 9, 2025 0 komentar

menurutmu apa?


What love is?

Tanya sebuah ruang dan upaya...

Untuk saat ini, Love is...

Ketika orang lain melihat kita merasakan hampa, padahal sebenarnya yang kita rasakan menjejak penuh dan utuh.

Ketika orang lain melihat kita merana dalam kesalahpahaman, padahal sebenarnya yang dirasakan pembelajaran yang menumbuh akar penuh tenang dan tentang.

Ketika orang lain melihat kita buta dalam mabuk kepayang, padahal sebenarnya yang dirasakan menambah nutrisi, menjadi lebih kaya akan rasa baru diruang baru.

Ketika orang lain melihat kita menjadi terasing, padahal sebenarnya mengasingkan diri dibutuhkan untuk masuk dan menjemput identitas diri sebagai manusia sejati.

Ketika orang lain melihat kita menjadi tak ramah, padahal sebenarnya sedang mencintai diri sendiri dari perilaku perilaku tidak bermoral tanpa adab yang orang lain lontarkan dalam sebab akibat.

Definisi ini akan selalu berbeda dalam setiap fase kehidupan kan? Selama jiwa jiwa manusia menumbuhkan hidupnya dalam semesta, maka jagat raya akan membersamai atas kehendak ilahi? Atau memang kehendak manusia itu sendiri?






Nov 8, 2025 0 komentar

Asuh diri.

Aku menatap dilema dalam kuatnya pendirian yang kukuh, bahwa manusia selalu memiliki sisi terbaik dalam dirinya yang tidak semua orang bisa saksikan kecuali dia dan tuhannya. 
Aku menatap teguh dalam diamnya manusia, bahwa segala hal yang menyemai kebaikan akan berbuah arah yang mungkin riuh namun tidak mudah runtuh.
Menjalani segala upaya dan kuasa diri yang menurunkan pongah hati namun menaikkan jiwa penuh rima yang menumbuhkan rasa sembuh dalam sunyi.
Sejuk dalam genggaman embun rasa aman sinar matahari pagi yang menenangkan benak, meski kadang melantur dalam guntur kesalahpahaman para manusia.
Riak dalam semak semak air belukar hanya akan menjadi sembunyi sementara untuk keindahan dandelia yang sejati kan?
Jika ternyata hening menjadi satu satu nya suara paling lantang, maka teriakan hanya menjadi bisu yang membuncah keruh tanpa pedoman.
Menyala kilau dalam sela daun yang menari ringan dalam belaian angin bijaksana penuh pembelajaran.
Menyalurkan gempita jiwa jiwa bahagia yang merdeka akan berbagai beda yang warnanya penuh harum hanum bunga bunga lembut nan tegas.
Menyebarkan irama dalam nafas manusia yang haus akan makna yang mulai redam oleh sibuknya raga dan pemikiran.
Hingga lahir empati dan simpati dengan luruhnya surga dunia dalam makmur dan dewata jingga menambah kuarsa.
Lembah lembah gelap akan menjadi celah Tuhan penuh agung menundukkan pandang jumawa yang memberi terang dan menuang kan?

...

"Lia, menurut lo siapa manusia dimuka bumi yang paling bisa diandalkan?" Tanya elsa.
Aku mendongak keatas langit, dibawah ranting-ranting kecil meneduhkan, aku mencerna pertanyaan Elsa. "Menurut lo siapa?"
"Ga tau ya? Ini juga gw mikir"
"Apa jangan-jangan yang sebenarnya bisa kita andalkan itu diri kita sendiri ya sebagai manusia? Siapa lagi?" Tanyaku balik. 
Elsa menarik nafas panjang. "Kenapa kita tinggal dipanti asuhan ya li? Anak anak lain punya kesempatan buat mengandalkan orang tuanya, kita?"
Aku memandang Elsa, aku mengerti segala hal yang dia gelisahkan selama ini. "Els... Lo tau ga sih, kadang diluar sana juga ada anak yang punya orang tua dan keluarga lengkap, tapi juga ga bisa saling mengandalkan. Gw rasa kita jauh lebih beruntung, karena Allah udah latih kita dari kecil dengan segala kerumitannya yang pada akhirnya mau ga mau hanya bisa mengandalkan diri sendiri, ya kan?"

Aku memahami, bahwa situasi dan keadaan setiap manusia dimuka bumi berbeda. Bisa dibilang seperti dua sisi mata uang. Akan selalu bersisian.
Akupun memahami segala keraguan Elsa akan hal ini. Dan memang sulit rasanya, untuk berhenti berfikir tentang hal ini kan?

"Sebentar lagi panti kita ditutup, semua dipisah pindah ke panti lain. Apa kita masing masing bisa bertahan hidup ya?"
"Insha ALLAH bisa Els.." aku menjawab dengan tatapan pasti, meyakinnya Elsa agar tidak meragu, walaupun faktanya, benakku pun lebur dalam perihnya pertanyaan yang sama. Kadang merasa seolah keberuntungan tidak pernah berpihak pada kami. Atau kami memang sengaja dipinggirkan?

...

Dua malam sudah aku merebah dalam pasrah berada dilingkungan baru. Mungkin aku hanya setahun lagi berada disini, lalu kemudian merantau dan mencari nafkah serta kehidupanku sendiri. Memandang adik adik kecil yang lain sedang bermain riang tanpa mengetahui rumitnya kehidupan dihari depan yang akan mereka hadapi jika tidak mendapat orang tua asuh. 
Elsa? Saudaraku? Entahlah, aku tidak mengetahui kabarnya beberapa hari ini. Kami sudah terpisah karena panti tempat kami singgah harus tunai digadaikan oleh mereka yang berkepentingan. 
"Kakak, kenapa menangis? Ayo kita makan, dipanggil embah tuh!" Ajak bocah kecil berkepang dua dihadapanku.
Buru buru aku mengusap pedihku dan memberikan senyuman seadanya, "yuk!"
"Liaaaaa ayo nak kita makan, alhamdulillah hari ini menunya special! Ayam goreng kesukaan lia kan?" Sambut embah penuh kehangatan. "Maaf ya pas kamu datang kemarin itu embah belum bisa masakin ayam goreng, baru hari ini kita masak ayam goreng karena donatur baru aja kasih uangnya hari ini! Jadi kita semua bisa makan enak hari ini buat kedatangan Lia" senyum embah semakin hangat dengan rangkulannya.
Aku menyukai ayam goreng, menu mewah favoritku bersama Elsa dipanti sebelumnya. Namun, bukan karena tidak menghargai, hanya saja aku merasa kosong. Mungkin ini yang namanya kehilangan? Hampa. Aku terbiasa dengan lingkungan panti sebelumnya, meskipun disini hangat dan ramah, namun tanpa mereka semua rasanya hampa dan asing.
Aku tersenyum kepada embah,dan mengucapkan terima kasih. Lalu makan sambil menahan air mata.

Malamnya, aku lagi lagi tidak bisa tidur. Aku mengendap keluar kamar, mencari tempat tenang menatap langit. Dipinggir halaman panti aku duduk bersandar pada tiang bangunan dan memeluk boneka pemberian Elsa. 
Langit disini lebih banyak bintangnya. Mungkin karena ini didesa jadi tidak ada polusi yang menutup pandanganku pada bintang. Andromeda? Bimasakti? Ingatanku melantur pada obrolanku dengan Elsa dimasa kami masih berumur 8tahun mungkin.

"Lia, kamu beneran pengen jadi astronot? Kenapa ga jadi dokter hewan aja kaya aku?"
"Aku pengen ke pluto soalnya, disana adalah planet paling jauh dari bumi, siapa tau nanti disana ada aliennya?"
"Alien itu ada ya? Kamu percaya kalau alien itu ada?"
"Iya aku percaya, kamu liat aja tuh ke atas langit, banyak bintang, masa ga ada penghuninya?"
"Iya juga ya..." Elsa mengangguk.
"Kalau kamu kenapa mau jadi dokter hewan? Kenapa engga jadi dokter manusia aja?" Tanyaku balik.
"Biar bisa ngobatin kucing-kucing. Kasian kucing-kucing sakit dijalanan ga ada yang obatin, nanti kalau aku sudah besar aku yang ngobatin mereka"
"Kucing aja?"
"Semua hewan, terutama BRUNO!" Bruno adalah anjing betina dipantiku yang lama. Kami memanggilnya Bruno karena mengira dia jantan. Sampai akhirnya dia melahirkan dan kami baru menyadari Bruno adalah betina. 

Tiba tiba sebuah rangkulan hangat mengagetkanku. Ternyata embah putri yang sudah duduk disebelahku. Membuyarkan ingatan percakapanku dengan Elsa.
"Ga bisa tidur?"
Aku menunduk.
"Ga papah nduk... Si mbah juga sering susah tidur kalo ditempat baru" senyumnya.
Kemudian dengan lembut si mbah mengelus rambutku dan mengarahkan mataku padanya. 
"Dengerin mbah ya nduk.. Mbah tau apa yang kamu rasain saat ini. Paham sekali rasanya. Karena mbah juga sama seperti kamu dulu"

Entah kenapa aku tidak lagi bisa menahan air mata, semua lepas. Runtuh luruh dalam pelukan embah yang harum parfum bunganya menenangkan.




....

Just a simple sample of life. 
Spread love and kindness.
Thats all we need. 🌱💕
....
While listening Yiruma playlist`~











Nov 2, 2025 0 komentar

Lets talk about pajak?



Dan kita pun menyaksikan banyak yang memperjuangkan keadilan namun luruh entah kemana hilang dari edaran kekuasaan. Berbagai proyek mangkrak manusia manusia yang mengaku berdaulat pada rakyat faktanya hanya mengeruk untuk untuk kantong pribadi. Dan semua hasilnya didapat dari rakyat yang berjuang dengan peluh keringat hasil suci upaya mereka mencari nafkah halal yang kemudian digelapkan untuk kemewahan para pejuang kekayaan demi citra dan polemik sosialita.
Berbagai kubu dibentuk untuk saling serang namun mereka aman dengan kemewahan fasilitas nomor satu yang dibiayai lewat pajak yang mereka peras dari rakyat?
Benar kah?

Issue terkini jika pajak dibesarkan dan dinaikkan akan menjadi keuntungan bagi rakyat itu sendiri. Benar kah? Sedangkan mental para pemangku jabat saja masih berkutat dalam adu outfit branded luar negara dan meminggirkan para pelaku brand lokal yang belum memiliki spotlight. See? 

Menaikkan pajak keputusan tepat? Tergantung. Jika mental para pemangku wewenang masih dipenuhi obsesi kesejahteraan diri dan keluarga sendiri dan golongan sendiri saya rasa ini tidak akan efisien. Jika wewenang masih disalahgunakan dalam sistem yang bobrok, akan semakin merusak tatanan. Tidak perlu kisruh membandingkan dengan negara lain. M a s i h  j a u h. Dari segi mental aja jauh sekali rasanya.
Jika jembatan saja masih banyak yang hanya cuma terbuat dari kayu bambu dipelosok. Bahkan ada yang tidak memiliki jembatan. Keadilan? Dahlah.

Kita hidup dalam dunia yang tidak melulu harus muncul dilayar kaca kan?
Dimana wibawa hanya didapat dalam kisah kisah inspiratif didalam layar yang dipertontonkan untuk sanjungan bukan untuk inspirasi (*disclaimer, tidak semua ya) bukan dibalik layar, benar?

Jika sebagai manusia pribadi kita terbiasa dan membiasakan diri segala hal untuk selalu terlihat dan disaksikan banyak orang dalam berbagai hal. Maka sistem kepemimpinan yang tulus akan runtuh fondasinya. Wewenang tanpa layar akan semakin menggila dalam kesemena-menaan. Betul?

Dari pemikiran sekecil ini, saya rasa kita sudah bisa berfikir dan menarik kesimpulan yang linear dengan realita sistem yang mereka lakoni saat ini. 
Mari berpikir dua kali. Tiga kali. Empat kali? Atau ribuan kali? 




0 komentar

Can you remember?

Dalam sebuah buku berjudul "seporsi mie ayam sebelum mati", ada kalimat kutipan yang berbunyi, "kita hidup di dalam masyarakat yang memandang bahwa kebahagiaan adalah sebuah kewajiban dalam menjalani kehidupan. Dan itulah yang justru sering membuat kita merasa tertekan. Orang orang dipaksa untuk terus mencari kebahagiaan, tanpa diajari bagaimana caranya hidup sambil membawa kesedihan."
Terkadang jiwa jiwa manusia hanya disibukan oleh sesuatu yang tidak lagi terjangkau untuk diselami. Melupakan apa yang dihadapan mata dan menyandang berbagai peran yang tidak perlu dilakoni. Melupakan bahwa diri sejati adalah diorama pengalaman pengalaman yang seringkali dilewati dalam berbagai tangga kehidupan yang tidak lagi dimiliki dimasa lalu ataupun dimasa yang akan datang kan? Kita lupa akan saat ini. Saat diam dan berfikir untuk apa yang dirasakan dan harusnya dinikmati dengan penuh dan utuh.

Segala atribut yang dimiliki, hanya akan ditujukan agar dilihat orang lain dan melupa jika bangga itu apa yang kita lihat pada diri sendiri kan? 

Semua manusia memiliki berbagai ketakutan yang dia miliki. Yang bisa jadi menjadikannya penghalang untuk kebahagian yang harusnya bisa dia raih. Bukan hanya dalam kemasan penampilan semu yang menuntut kesempurnaan lupa bahwa diri sendiri jauh dari sempurna. Namun nyatanya, sejak kecil sudah terdidik untuk menjadi sempurna dan menyanggah bahagia dengan cuma cuma. Lupa akan realita yang kadang diluar angan dan penuh sandungan.

Siapa yang bisa menyangka jika nurani masing masing manusia menyimpan berbagai hal yang mampu menjadi penumbuh kehidupan bagi manusia lain diluar ketakutan ketakutan yang dia miliki. Melupakan nilai diri dan sibuk mengerdilkan diri akan pencapaian pencapaian yang dirasa belum diraih. Membuat lupa akan upaya yang segarisnya bisa dicipta dan ditawar dengan tekad yang kuat. Berjaga selalu menanti kejatuhan diri tanpa ingin melirik apa yang selama ini sudah dilewati. Padahal bisa jadi, kamu sudah mencapai apa yang kamu cari dan kamu butuhkan, hanya saja kamu lupa menikmati karena terlalu mengejar 'standar manusia lain'.
Ketika mereka melihat kamu enggan keluar dari zona aman, padahal faktanya kamu sedang berada dizona paling tidak aman dan sedang dalam peperangan yang sebentar lagi kamu menangkan. Pembicaraan mereka tentang kamu adalah zona tidak nyamanmu yang mereka sendiri sebenarnya tidak pahami. Dan kamu sedang bersiap keluar dari itu, namun apa mereka sadar? Tidak. Dan jangan pinta mereka menyadarinya, namun diri kamulah yang kamu latih dengan penuh disiplin bahwa 'kamu tidak hidup dalam irama kehidupan manusia lain."

Jiwa yang penuh seringkali lupa jika titik sakral yang mampu dinikmati dengan penuh rahasia dan makna adalah disaat jiwamu mampu menikmati hal hal yang tidak dilihat namun kamu tau itu ada. Tidak perlu lantang, tidak perlu seimbang namun mencipta selaras yang bergelimang ucapan penuh syukur walaupun dalam gelap sekalipun kan?

Manusia seringkali sibuk berkelakar akan kurangnya manusia lain. Tapi, pernahkah kita berkelakar pada kekurangan diri sendiri? Sibuk mengulik dan membuka aib manusia lain demi merasa menang dan menikmati tenang yang berakibat menambah ruang luka pada manusia lain? SIbuk mendigdayakan diri haus dengan berbagai kekuasaan yang mampu melakukan perusakan disana sini. Ini menang? Atau kemunduran?

Segala hal baik bermula dari diri sendiri kan? Dampak baik akan berdampak akibat perbuatan baik yang kita bentuk dari awal. Walaupun sejatinya manusia baik adalah manusia yang mau belajar dari kesalahan, bukan menjadikan kesalahan bualan yang diagungkan kan? Berusaha mencari pembenaran sana sini dan melupakan isi nurani hati sendiri yang enggan didengar. 

Jadi bagaimana kamu bisa menikmati bahagia jika dalam prosesnya saja kamu tidak diajari untuk menikmati kesedihan? Sedangkan realitanya, bahagia itu hadir karena melewati proses kesedihan yang memang harus dilewati. Pun tenang juga harus dilewati menghadapi badai porak poranda yang bahkan tidak mampu dilihat manusia lain kan?





Nov 1, 2025 0 komentar

Dear self!

Setelah mulai menulis lagi, rasanya, excited banget. Walaupun tulisan saya kadang ga ada isinya. Tapi ini membantu menumpah isi kepala. Btw, just for ur information, foto-foto yang ada dalam setiap tulisan bukan foto diri saya. Itu saya ambil dari favim.com dan pinterest. Ga ada foto diri saya disini. Makanya fotonya bagus-bagus. Hihi... Masha ALLAH.

Menulis nyatanya menjadi sebuah theraphy yang efektif ya? Menumpahkan 20rb kata seperti apa yang Dr.aisah dahlan ajarkan. Selain menulis juga bisa dilimpahkan dalam jurnaling offline. Sayangnya hidup saat ini berada dalam jaman digital yang segala hal bisa menjadi pisau bermata dua. Bisa menjadi inspirasi, juga bisa menjadi fitnah yang keji. Maka dari itu, saya sangat berhati-hati sekali menjaga tulisan saya agar tidak menjadi polemik yang menyusahkan diri sendiri atau orang lain. Cerpen pun semuanya hanya kisah imajinasi dikepala. Puisi pun berupa kumpulan kata kata penuh kegelisahan yang ramai orang bicarakan atau isi kepala saya yang butuh ditumpahkan. 

Mungkin ada beberapa bagian yang terbaca seolah personal. Ya ga papa juga sih, bisa terdengar personal atau bahkan umum. Berharap membawa makna baik yang membuat penulisnya dan pembacanya bertumbuh dalam warna warna yang mungkin makin beragam. Jika membawa dampak buruk, mohon abaikan saja ya. Membaca ulang tulisan-tulisan saya dari awal blog sepi ini dibuat, baru menyadari, ternyata gaya penulisan saya bertumbuh. Cara saya berfikirpun ikut bertumbuh. Mengingat ulang perjalanan menulis yang dari dulu ga ada yang baca hwkwkwkwk... But i love writing, i love reading, i love painting, i love crafting and i love travelling. Makasi ya ALLAH atas segala hal. Alhamdulillah ala kulli hal.

Untuk diri saya dimasa depan. Jika nantinya kamu membaca tulisan-tulisan ini lagi. Lihatlah, bahwa kamu berproses. Sedikit demi sedikit, pelan pelan dengan apa adanya dirimu. Merasa cukup tanpa perlu keramaian mengaburkan makna diri sendiri, kamu cukup. Kamu sudah cukup. Cukup dicintai oleh dirimu sendiri. Dan cukup ALLAH yang menjadi pedoman pembimbing dalam segala aspek kehidupan. Bukan karena kamu merasa paling suci tanpa dosa, justru karena kamu jauhhhh dari sempurna sebagai seorang hamba, maka kamu butuh ALLAH. Terima kasih untuk tidak kalah akan pembicaraan manusia. Terima kasih sudah memilih diam. Terima kasih sudah sering sering menghadiahi diri sendiri dengan berbagai hadiah sederhana yang menyenangkan. Dan terima kasih selalu memiliki kesadaran untuk belajar dari berbagai kesalahan. Motto kita adalah long life learner. Sampai nanti kita tidak lagi menghembuskan nafas. Keep going. Semoga kamu dimasa depan, entah ditahun 2030, 2040, 2050 sudah banyak harapan dan doa kita dikabulkan ALLAH ya. Peluk hangat dari saya untuk saya dimasa depan. Terima kasih untuk selalu menyayangi dirimu sendiri. Terima kasih telah memiliki kesadaran. Terima kasih sudah suka rela menikmati ruang proses yang dinamikanya seperti ombak. Terima kasih atas suka dan duka. Terima kasih sudah terjatuh namun tetap memilih bangkit lagi. Terima kasih sudah memenuhi jiwa dengan belajar ikhlas yang belajarnya susah, seumur hidup pula. I love u my self! I love you more and more! BARAKALLAH hai diriku! 💕🌱





0 komentar

ME VS ME



Apa benar? Cara mencintai manusia bergantung pada masa lalu manusia itu sendiri?
Apa benar? Cara manusia saling mengasihi bergantung pada bagaimana manusia itu hidup dan dikasihi dimasa lalunya?
Entah bagaimana cara dia berkembang, atau bagaimana cara manusia itu sendiri bertahan pada luka yang lalu?
Apa benar, anak kecil dalam diri mereka sungguh berperan besar pada cara mereka melihat dirinya sendiri saat mendewasa?
Sebenarnya, apa itu tumbuh?
Kenapa berbagai bentuk tumbuh yang dijalani selama ini selalu melewati ruang yang asing namun sangat dikenal dalam hening?
Ini apa namanya?
Kenapa cara mencintai saja harus sesuai standar yang orang lain buat?

...

"Kita harus utuh dulu, baru boleh saling mencintai" Ujarnya.
"Utuh gimana? Kenapa harus ada syarat sih? Ga bisa kalo unconditional aja?" Tangkisku.
"Apa jaminannya kalau kamu belum utuh dari trauma trauma kamu, kamu ga akan nyakitin aku kedepannya? Apa jaminannya kalau suatu hari nanti emosi yang kamu pendam dari kecil itu ga akan meledak di aku?"
"Kamu takut aku nyakitin kamu?" Mataku mulai berair.
"Engga gitu! Tuh kan kalo bahas ini pasti ujungnya drama! Udah lah aku males bahas ini terus sama kamu." Morgan menatap dengan kesal, tapi aku melihatnya juga merasa bersalah. Jujur aku bingung bagaimana menanggapi situasi ini.

Setelah pertengkaran kemarin kami saling diam berhari-hari. Bertukar pesan hanya sesekali memberi kabar sekedarnya. Sejak saat itu, kami semakin merenggang. 
Semakin hari, aku semakin muak dengan rasa cinta yang bersyarat untuk harus utuh. Tapi dia, satu-satunya yang kuberikan kelonggaran akan batasanku untuk hal ini. Artinya, dia berharga. Morgan hanya memberikan kode kode kecil lewat lagu yang ia post di story. Aku masih kebingungan bagaimana harus menanggapinya. Sesekali ia menghilang, lalu muncul. Kemudian aku yang hilang, lalu ia yang mencari. 

"Dalam hidup kamu aku ini apa sih?" Tanyaku suatu hari.
"Kamu air hujan, menyejukkan tapi juga sering bikin banjir bandang!" Jawabnya sambil tersenyum, "kalau aku apa buat kamu?"
Aku lalu berfikir sejenak dan menatap matanya. Tatapan matanya antara teduh dan tegas namun tajam menilai. Entah kenapa aku mengenali jiwanya yang bersembunyi dalam tatapan yang tidak pernah kosong itu. Selalu penuh isi dan ada sedih serta amarah bersembunyi dibaliknya. Aku tahu ada banyak hal yang dia sembunyikan. Mungkin karena terbiasa menyelesaikan segalanya sendirian. Anak laki-laki kecil masih ada didalam dirinya. Sedangkan anak perempuan dalam diriku, enggan menampakkan dirinya bahkan bayangannya pun saja enggan muncul. 
"Jawab donk..."
"Buat aku kamu tanah."
"Hmm.. pantesan aku sering kamu rendahin kamu injek-injek harga dirinya!" Ujarnya ketus.
"Mungkin kamu merasa direndahin karena kamu adanya dibawah. Tapi kamu ga sadar, tanpa tanah sebanyak apapun air hujan yang jatuh, ga semua tumbuhan bisa numbuhin akar. Tanah tempat akar bertumbuh. Tempat tumbuhan bertumbuh. Jadi kamu jangan mengerdilkan diri kamu sendiri ya! Ga ada yang ngerendahin kamu selama ini, tapi kamu yang cuma lupa sama makna diri kamu sendiri." Jawabku tenang.
Dia menatapku lagi. "Selain tanah, aku ini apa lagi?" 
"Kamu langit!" Jawabku langsung.
"Jadi tanah sama langit? Kenapa langit?"
"Kamu bikin aku sering ngeliat langit, nunggu hujan jatuh, nunggu cuaca cerah, nunggu awan teduh, nunggu ada bintang...dan karena kamu terlalu tinggi untuk diraih, karena aku harus utuh dulu biar bisa terus sama kamu. Padahal ga ada manusia dimuka bumi ini yang utuh dan sempurna seperti yang kamu mau kan?"
Dia hanya diam menatapku, tidak memberikan jawaban apapun. Namun semenjak hari itu, dia semakin protektif menjaga dan peka dengan keadaanku.

Jadi? Utuh atau tidak utuh, aku tetap pada pilihanku. Tidak lagi memikirkan standar manusia lain. Dunia memang begini adanya kan? Tidak pernah ada yang bisa selalu menyesuaikan diri dengan presisi. Dan seiring berjalannya waktu, ternyata utuh atau tidak utuhnya kami justru memiliki versi makna yang lain dari pada yang lain. Saling mengisi, saling ada, saling menjadi tempat pulang, dan seperti biasa, saling menyerang namun selalu satu arah. Saling hilang namun saling pulang. Saling mengirim sinyal perang, namun setelahnya mengirim sinyal damai. Dan satu-satunya jalan keluar adalah saling menjaga dan bertahan. 

Para pendahulu selalu bilang, dua isi kepala tidak akan pernah bisa bersama jika tidak bisa saling mengisi dan mengobati. Saling memaafkan dan saling memilih. Tidak lagi tertarik pada hal yang bukan lagi tujuan. Tidak lagi berada dalam permainan rasa yang hanya menguras energi. Ditengah maraknya berita perpisahan, sepertinya kami akan tetap memilih dijalan menuju arah pulang. Pulang kedalam diri masing-masing, lalu setelahnya mencari jalan pulang kehati satu sama lain. 

Begitu bukan sih konsepnya? Jadi ini apa?

Jadi aku belajar, menjadi manusia yang aku butuhkan dikala aku kecil. Menjadi orang dewasa yang aku butuhkan disaat aku masih kecil, hingga aku pun semakin membaik. 

Iya bukan?


"Kalo aku apa? Selain hujan, buat kamu aku ini apa?" Tanyaku.
"Kamu sailormoon!"
"LHA?"










Total Pageviews

Blogger templates

 
;